6 Pola Pikir soal Uang yang Diam-diam Bisa Membentuk Anak Jadi Sukses Finansial
Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:35 WIB
VIVA – Mengajarkan anak tentang uang bukan hanya soal menyuruh mereka menabung atau mengurangi jajan. Lebih dari itu, pola pikir yang ditanamkan orang tua sejak kecil dapat memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan finansial ketika dewasa.
Baca Juga
Anak yang terbiasa memahami nilai uang, berani mencoba hal baru, mampu belajar dari kegagalan, dan tidak mudah terpengaruh pendapat orang lain memiliki bekal yang lebih baik untuk membangun kemandirian finansial.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bahkan, ada sejumlah mindset tentang uang yang jika sudah diajarkan sejak kecil dapat menjadi modal penting untuk mencapai kesuksesan finansial. Berikut enam di antaranya, melansir dari Yourtango.
Baca Juga
1. Mengutamakan kestabilan diri sebelum membantu orang lain
Salah satu pola pikir penting adalah memahami bahwa menjaga kondisi finansial diri sendiri bukan berarti egois. Seseorang perlu memastikan kebutuhan dasar, tabungan, dan dana daruratnya aman sebelum terlalu banyak membantu orang lain.
Baca Juga
Prinsip ini mirip dengan instruksi keselamatan di pesawat: penumpang diminta memasang masker oksigen untuk dirinya sendiri sebelum membantu orang lain.
Dalam kehidupan finansial, konsep tersebut dapat diterapkan dengan membangun dana darurat, mengendalikan utang, dan memiliki perencanaan keuangan. Dengan kondisi yang lebih stabil, seseorang justru memiliki kemampuan lebih besar untuk membantu keluarga atau orang lain.
2. Berani meninggalkan lingkungan yang tidak sehat
Orang tua juga dapat mengajarkan anak bahwa tidak semua hubungan harus dipertahankan. Jika seseorang terus-menerus memanfaatkan, merendahkan, atau membawa pengaruh buruk, menjaga jarak dapat menjadi pilihan yang sehat.
Dalam konteks keuangan, lingkungan pertemanan juga dapat memengaruhi kebiasaan seseorang. Tekanan untuk mengikuti gaya hidup, membeli barang mahal, atau terus-menerus mentraktir teman bisa membuat kondisi finansial berantakan.
Karena itu, kemampuan mengatakan “tidak” menjadi keterampilan penting dalam mengelola uang.
3. Gagal bukan berarti harus berhenti
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Orang dengan pola pikir finansial yang sehat tidak selalu berhasil pada percobaan pertama. Perbedaannya, mereka mencoba memahami penyebab kegagalan sebelum mengambil langkah berikutnya.
Misalnya, ketika sebuah usaha tidak berjalan, jangan hanya menyimpulkan bahwa bisnis tersebut gagal. Evaluasi kembali: apakah strategi pemasaran kurang tepat, modal tidak cukup, produk tidak sesuai pasar, atau ada keputusan yang keliru?
Halaman Selanjutnya
Dari sana, strategi bisa diperbaiki. Belajar dari kegagalan membuat seseorang lebih siap menghadapi risiko berikutnya.