7 cara menjaga kesehatan mental di tengah tekanan hidup
Jakarta (ANTARA) - Tekanan dari pekerjaan, pendidikan, masalah keuangan, hubungan sosial hingga berbagai persoalan sehari-hari dapat memengaruhi kondisi mental seseorang. Stres sendiri merupakan respons alami ketika seseorang menghadapi situasi yang sulit, tetapi tekanan yang berlangsung terus-menerus dapat berdampak pada kesehatan fisik maupun mental.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan kondisi kesehatan mental. WHO juga menekankan bahwa kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesejahteraan dan kemampuan seseorang untuk menghadapi tekanan kehidupan.
Karena itu, menjaga kondisi psikologis tidak selalu harus dilakukan dengan perubahan besar. Ada sejumlah kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu mengelola tekanan.
Baca juga: Apa itu self-care? Ini pengertian, manfaat, dan cara melakukannya
Baca juga: Studi: Makan manis sejak dini berisiko pengaruhi kecemasan
Lantas, apa saja cara yang bisa dilakukan? Ini penjelasannya.
1. Kenali penyebab stres
Langkah pertama adalah mengenali hal-hal yang membuat pikiran terasa terbebani. Sumber tekanan bisa berasal dari pekerjaan, sekolah, masalah keluarga, hubungan dengan orang lain maupun kondisi keuangan.
Mencatat situasi yang membuat stres dapat membantu seseorang melihat pola dan menentukan persoalan mana yang perlu diselesaikan lebih dulu. WHO menyebut setiap orang dapat memberikan respons berbeda terhadap tekanan, sehingga cara mengelolanya juga tidak selalu sama.
2. Atur waktu untuk beristirahat
Kesibukan yang terus berlangsung tanpa jeda dapat membuat tubuh dan pikiran semakin lelah. Karena itu, menyediakan waktu untuk beristirahat menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan.
Istirahat tidak selalu berarti tidur. Mengambil jeda dari pekerjaan, melakukan aktivitas yang menyenangkan, berjalan santai atau sekadar mengurangi paparan informasi untuk sementara dapat membantu pikiran lebih rileks.
WHO juga menyarankan rutinitas harian yang teratur dengan waktu untuk makan, berolahraga, melakukan pekerjaan rumah, berinteraksi dengan keluarga dan melakukan kegiatan rekreasi.
3. Jaga kualitas tidur
Tidur yang cukup berperan penting bagi kesehatan tubuh dan pikiran. Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mudah lelah, sulit berkonsentrasi dan lebih sulit menghadapi tekanan.
WHO menyarankan jadwal tidur yang konsisten, termasuk membiasakan waktu tidur dan bangun yang relatif sama setiap hari. Penggunaan perangkat elektronik seperti ponsel dan komputer juga sebaiknya dibatasi sebelum tidur.
4. Tetap aktif bergerak
Aktivitas fisik tidak hanya bermanfaat bagi tubuh, tetapi juga dapat membantu menjaga kondisi mental. Tidak harus melakukan olahraga berat karena berjalan kaki, bersepeda atau melakukan aktivitas fisik ringan juga dapat menjadi pilihan.
CDC mencatat aktivitas fisik secara teratur dapat membantu mengurangi rasa cemas dan meningkatkan kualitas tidur. Aktivitas fisik juga berkaitan dengan penurunan risiko depresi dalam jangka panjang.
Baca juga: Mengeluh ada baiknya, tapi bisa berdampak buruk kalau keseringan
5. Jangan memendam masalah sendirian
Ketika menghadapi persoalan berat, berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian. Orang tersebut bisa berupa anggota keluarga, teman, pasangan atau orang lain yang dianggap aman untuk menjadi tempat bercerita.
Hubungan sosial yang sehat dapat memberikan rasa diterima, dihargai dan didukung. CDC juga menyebut hubungan sosial yang kuat dapat membantu seseorang menghadapi stres, kecemasan dan depresi.
6. Batasi paparan media sosial dan berita
Mendapatkan informasi memang penting, tetapi terlalu sering mengikuti berita negatif atau media sosial juga dapat membuat pikiran semakin penuh.
WHO menyarankan untuk membatasi waktu mengikuti berita apabila aktivitas tersebut justru meningkatkan stres. CDC juga merekomendasikan jeda dari berita dan media sosial ketika paparan informasi mulai membuat seseorang merasa tertekan.
Membuat waktu tertentu tanpa ponsel, mematikan notifikasi yang tidak penting atau berhenti sejenak dari media sosial dapat menjadi cara sederhana untuk memberikan ruang bagi pikiran.
7. Jangan ragu mencari bantuan profesional
Menjaga kesehatan mental bukan berarti harus selalu mampu menyelesaikan semua persoalan seorang diri. Jika tekanan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan dengan orang lain, pekerjaan atau pendidikan, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Kementerian Kesehatan menganjurkan masyarakat melakukan skrining kesehatan jiwa minimal satu kali dalam setahun sebagai upaya deteksi dini. Skrining juga dapat dilakukan lebih sering jika memang diperlukan.
Bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater dapat dipertimbangkan ketika keluhan berlangsung terus-menerus atau semakin sulit dikendalikan. Kondisi kesehatan mental memiliki tingkat dan kebutuhan penanganan yang berbeda pada setiap orang.
Menjaga kesehatan mental pada dasarnya bukan tentang menghilangkan seluruh masalah dalam hidup. Tekanan tetap bisa muncul, tetapi kemampuan mengenali stres, beristirahat, menjaga tubuh, terhubung dengan orang lain dan mencari bantuan ketika diperlukan dapat membantu seseorang menghadapi berbagai situasi dengan lebih baik.
WHO juga menegaskan bahwa terdapat berbagai strategi yang efektif dan dapat dilakukan untuk mempromosikan, melindungi serta memulihkan kesehatan mental.
Baca juga: Apa itu digital detox dan apa manfaatnya?
Baca juga: Sibuk bekerja? Ini 5 cara sederhana melakukan self-care
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.