81 Tahun Merdeka: RI Masih Impor Buah Triliunan Rupiah: Apel-Lengkeng
Aisha Mayra, CNBC Indonesia
16 August 2026 10:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dikenal memiliki tanah yang subur yang menghasilkan beragam buah-buahan hingga sayur mayur. Ironisnya, Indonesia masih banyak mengimpor buah dari negara tetangga bahkan setelah 81 tahun merdeka.
Nilai impor buah Indonesia mencapai sekitar US$1,58 miliar pada 2025 atau Rp 28 triliun (US$ 1= Rp 18.00). Namun, nilai tersebut ternyata sangat terkonsentrasi pada beberapa komoditas.
Dari seluruh pos buah yang tercatat dalam data perdagangan, anggur segar menjadi komoditas dengan nilai impor terbesar, mencapai US$548,9 juta.
Di bawahnya ada apel sebesar US$356,8 juta, jeruk mandarin US$273,3 juta, dan lengkeng US$180 juta.
Jika digabung, keempat buah tersebut menyumbang sekitar US$1,36 miliar atau 86,1% dari total nilai CIF impor buah yang tercatat pada 2025.
Anggur Jadi Raja Impor Buah
Anggur segar menjadi komoditas yang paling besar nilainya dengan impor mencapai US$548,9 juta.
Nilai tersebut setara sekitar 34,8% dari total nilai impor buah dalam daftar. Dengan kata lain, hampir US$1 dari setiap US$3 nilai impor buah berasal dari anggur segar.
Posisinya juga cukup jauh dari komoditas berikutnya. Nilai impor apel, yang berada di peringkat kedua, sekitar US$192 juta lebih rendah dibandingkan anggur.
Setelah anggur dan apel, nilai impor kembali turun ke mandarin yang mencapai US$273,3 juta.
Apel dan Mandarin Ikut Mendominasi
Apel mencatat nilai impor US$356,8 juta pada 2025. Angka ini menjadikan apel sebagai buah dengan nilai impor terbesar kedua.
Sementara itu, impor mandarin mencapai US$273,3 juta. Jika digabung dengan anggur dan apel, tiga komoditas tersebut sudah menyumbang sekitar 74,7% dari total nilai impor buah.
Lengkeng kemudian melengkapi empat besar dengan nilai US$180 juta.
Nilai impor lengkeng bahkan jauh lebih besar dibandingkan sejumlah buah lain yang juga masuk dalam daftar, seperti kurma, jeruk, leci, lemon, dan kiwi.
Setelah Empat Besar, Nilainya Menyusut
Di luar empat komoditas utama tersebut, nilai impor buah lebih kecil.
Kurma berada di posisi berikutnya dengan nilai CIF US$67,9 juta. Kemudian ada jeruk segar sebesar US$44,9 juta, leci US$27,1 juta, lemon US$26 juta, dan kiwi US$18,8 juta.
Anggur kering tercatat sebesar US$8,3 juta, sementara cranberry, blueberry dan kelompok buah sejenis mencapai US$7,4 juta.
Nilainya kemudian semakin kecil pada komoditas lain. Delima tercatat US$5,1 juta, kelompok buah dan kacang yang diolah atau diawetkan sekitar US$4,5 juta, sedangkan stroberi mencapai US$1,9 juta.
(mae/mae)