Ada Kebencian ke Presiden, Analis Ungkap Rekor Penolakan terhadap Trump |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghadapi tingkat penolakan yang mencapai rekor menjelang pemilu sela November 2026. Jajak pendapat terbaru CNN/SSRS menunjukkan 51 persen responden menyatakan sangat tidak menyetujui kinerja Trump, sementara hanya 13 persen yang menyatakan sangat menyetujuinya.
Kepala analis data CNN Harry Enten menilai angka tersebut menunjukkan intensitas penolakan yang tidak biasa terhadap seorang presiden menjelang pemilu sela. Menurut dia, persoalan Trump saat ini bukan hanya banyaknya warga yang tidak menyetujui kinerjanya, melainkan besarnya kelompok yang menyatakan penolakan secara kuat.
“Mereka bukan sekadar tidak menyukainya,” kata Enten. “Ada rekor kebencian terhadap Presiden Amerika Serikat menjelang pemilu sela,” sebagaimana diberitakan The Independent pada Jumat, 25 September 2026
Data tersebut menjadi perhatian karena pemilu sela tinggal sekitar 40 hari lagi. Seluruh kursi DPR AS dan sekitar sepertiga kursi Senat akan diperebutkan dalam pemungutan suara November.
CNN mencatat tingkat persetujuan keseluruhan terhadap kinerja Trump berada di angka 33 persen, sedangkan 67 persen menyatakan tidak setuju. Angka approval tersebut merupakan titik terendah Trump dalam survei CNN selama dua periode kepresidenannya.
Namun, yang dinilai lebih mengkhawatirkan bagi Partai Republik adalah intensitas sentimen tersebut. Sebanyak 51 persen responden bukan sekadar menyatakan tidak setuju, tetapi memilih kategori “strongly disapprove” atau sangat tidak setuju.
Sebaliknya, hanya 13 persen yang menyatakan sangat menyetujui kinerja Trump. Sebanyak 20 persen lainnya menyatakan cukup menyetujui, sementara 16 persen cukup tidak menyetujui.
Ketimpangan antara penolakan kuat dan dukungan kuat itu menjadi salah satu aspek yang disoroti analis politik. Trump selama ini dikenal sebagai figur yang mampu menghasilkan penolakan sekaligus loyalitas politik dalam intensitas tinggi.
Namun, data terbaru menunjukkan kedua kekuatan tersebut tidak lagi seimbang. Kelompok yang sangat tidak menyetujui kinerjanya hampir empat kali lebih besar dibandingkan kelompok yang sangat menyetujuinya.
Rekor Jelang Pemilu Sela
Enten membandingkan kondisi Trump dengan presiden-presiden sebelumnya menjelang pemilu sela. Menurut analisisnya, tingkat penolakan kuat terhadap Trump sekarang telah melampaui catatan menjelang pemilu sela pada masa jabatan pertamanya.
Pada 2018, ketika Trump menjalani periode pertama di Gedung Putih, angka warga yang sangat tidak menyetujui kinerjanya berada di kisaran 45 persen. Pemilu sela tahun itu kemudian menghasilkan perubahan besar di DPR AS.
Partai Demokrat ketika itu memperoleh tambahan 41 kursi dan mengambil alih kendali DPR. Partai Republik, di sisi lain, berhasil menambah dua kursi dalam mayoritas mereka di Senat.
Perbandingan historis lainnya adalah Presiden George W Bush. Menjelang pemilu sela 2006, sekitar 41 persen warga Amerika sangat tidak menyetujui kinerja Bush.