Agar Beras tak Turun Mutu, Bulog Butuh Terobosan Cerdas |Republika Online

Oleh: Entang Sastraatmadja
REPUBLIKA.CO.ID, Ungkapan "agar beras tidak turun mutu, Bulog butuh terobosan cerdas" merupakan sebuah desakan, tuntutan, sekaligus harapan dari publik agar Perum BULOG tidak lagi menggunakan cara-cara konvensional (kuno) dalam mengelola pangan nasional. Ungkapan ini lahir karena cara-cara lama terbukti gagal mencegah menumpuknya ratusan ribu ton beras hingga membusuk dan turun mutu di dalam gudang.
Secara filosofis dan operasional, makna "terobosan cerdas" yang dibutuhkan Bulog mencakup beberapa poin krusial berikut:
Satu, Modernisasi Teknologi Penyimpanan (Smart Warehousing). Bulog tidak bisa lagi hanya mengandalkan gudang-gudang tua era 1970-an yang sirkulasi udaranya buruk dan rentan hama. Terobosan cerdas berarti mempercepat pembangunan gudang modern (seperti proyek 100 gudang baru) yang dilengkapi teknologi pengondisi suhu (cold storage), kontrol kelembapan otomatis, dan sistem pengasapan (fumigasi) modern untuk menidurkan metabolisme beras sehingga usia simpannya bisa bertahan jauh lebih lama tanpa merusak kandungan gizi.
Dua, Integrasi Data Berbasis Kecerdasan Buatan (AI & Big Data). Terobosan cerdas berarti mendigitalisasi seluruh manajemen stok secara real-time. Bulog membutuhkan sistem pemantauan digital yang dapat memberikan alarm otomatis jika ada stok beras di suatu wilayah yang sudah mendekati usia 4–6 bulan di gudang. Sistem ini memaksa kepatuhan mutlak pada prinsip FIFO (First In First Out), sehingga beras lama langsung dicarikan jalur distribusi sebelum warnanya menguning atau berbau apek.
Tiga, Hilirisasi dan Fleksibilitas Bisnis (Langkah September 2026). Cerdas berarti adaptif terhadap keadaan. Jika beras terlanjur mengendap lama dan tidak ideal lagi dikonsumsi sebagai nasi, terobosan cerdasnya adalah kebijakan hilirisasi massal menjadi bahan baku industri tepung beras. Langkah pemerintah membuka lelang terbuka via KPKNL dengan harga minimum Rp11.000/kg adalah contoh nyata terobosan cerdas: ruang gudang menjadi kosong untuk menyerap gabah baru petani, kebutuhan industri tepung terpenuhi tanpa impor, dan negara terhindar dari kerugian total (disposal).
Empat, Sinkronisasi Distribusi Berbasis Kebutuhan Riil. Bulog tidak boleh menjadi "menara gading" yang hanya pintar menyerap gabah petani tetapi bingung ke mana harus menyalurkannya. Terobosan cerdas menuntut Bulog untuk memiliki ekosistem distribusi yang matang dan terintegrasi dengan program sosial pemerintah (seperti Bantuan Pangan atau kemitraan ritel modern), sehingga perputaran barang (turnover) berjalan cepat dan tidak ada beras yang "jomblo" terlalu lama di gudang.
Secara singkat, ungkapan tersebut adalah kritik yang membangun. Publik ingin menegaskan bahwa di era modern ini, menjaga mutu beras tidak bisa lagi dihadapi dengan kepasrahan atau manajemen manual. Bulog ditantang untuk menggabungkan kemajuan teknologi, fleksibilitas regulasi, dan kecepatan eksekusi di lapangan agar kedaulatan pangan kita tetap terjaga dengan kualitas yang terhormat.
Perkembangan mengenai penanganan beras turun mutu di Indonesia saat ini sudah menemukan solusi konkret dan strategis. Melimpahnya stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Bulog selama dua tahun terakhir—yang sempat menyentuh angka 4,8 hingga 5,2 juta ton—menyisakan persoalan alami berupa adanya beras yang tersimpan terlalu lama.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, bersama Direktur Utama Perum BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani, mencatat ada sekitar 380.000 ton beras Bulog yang mengalami penurunan mutu akibat memiliki usia simpan di atas 10 bulan hingga lebih dari satu tahun.
Untuk mengatasi hal tersebut, berikut adalah kondisi dan langkah penanganan nyata yang sedang berjalan:
Pertama, dialihkan (Hilirisasi) menjadi tepung beras. Pemerintah resmi menyepakati kebijakan hilirisasi untuk menyelamatkan nilai ekonomis ratusan ribu ton beras tersebut. Beras yang sudah turun mutu dan tidak ideal lagi didistribusikan untuk program konsumsi nasi (seperti SPHP) dialihkan fungsinya untuk bahan baku industri tepung beras nasional. Karakteristik beras lama dengan kadar amilosa tertentu justru dinilai sangat cocok dan disukai oleh para produsen tepung.
Kedua, mekanisme lelang terbuka via KPKNL. Proses pelepasan 380.000 ton beras turun mutu ini dilakukan secara transparan melalui mekanisme lelang resmi di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) di bawah naungan Kementerian Keuangan. Pemerintah mematok harga dasar lelang minimal Rp11.000 per kilogram. Angka ini dinilai aman karena hanya selisih sedikit dari harga beras subsidi biasa, sehingga negara terhindar dari kerugian total akibat pembusukan (disposal).
Ketiga, memutus keran impor beras pecah industri. Terobosan pengalihan fungsi beras turun mutu ini membawa dampak positif ganda bagi perekonomian nasional. Dengan melimpahnya pasokan bahan baku tepung dari gudang Bulog, pemerintah sukses menghentikan impor beras pecah (broken rice) yang selama ini biasa didatangkan dari luar negeri untuk kebutuhan industri olahan pangan.
Keempat, optimalisasi perawatan di gudang (Reprocessing). Bagi beras yang baru terindikasi mengalami penurunan kualitas fisik ringan (misal kusam akibat cuaca), Bulog memaksimalkan sistem reprocessing. Beras tersebut dicuci dan disosoh ulang menggunakan mesin modern agar kembali bersih, higienis, dan diuji laboratorium ulang sebelum dinyatakan layak konsumsi bagi masyarakat.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.