peezycoineth.vip

AHY atau Gibran, Pilihan Prabowo Akan Jadi Pisau Bermata Dua bagi Gerindra

2026-09-22 05:45

Selasa, 22 September 2026, 12:45 WIB

Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto menghadapi kalkulasi politik yang tidak sederhana jika kembali maju dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029. Pilihan calon wakil presiden bukan hanya menentukan pasangan yang akan mendampinginya, tetapi juga dapat menentukan partai mana yang memperoleh keuntungan politik terbesar.

Pengamat Politik Hendri Satrio menyebut dua nama yang berpotensi masuk dalam perhitungan adalah Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Namun keduanya sama-sama membawa konsekuensi bagi kekuatan Partai Gerindra.

Baca Juga: Nasib Prabowo Ditentukan Putusan MK: Sekarang Orang Sudah Gerah, Elite Politik Lihat Kanan-Kiri...

Prabowo dengan kata lain, menghadapi pilihan yang menyerupai pisau bermata dua. AHY berpotensi memperbesar kekuatan Demokrat. Sedangkan Gibran dapat memberikan keuntungan bagi Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

"Misalnya nih, Prabowo ambil dia jadi wapresnya. Artinya apa? Dia membesarkan Demokrat. Yang bisa jadi membahayakan Gerindra di 2034," kata Hendri, dikutip Selasa (22/9/2026).

AHY jika benar-benar menjadi calon wakil presiden, partainya akan mendapatkan keuntungan elektoral dan politik yang signifikan. Posisi wakil presiden tentu dapat menjadi modal besar bagi kedunya untuk membangun pengaruh menjelang Pemilu 2034.

Gerindra perlu memperhitungkan hal tersebut karena keberhasilan pasangan terkait dalam menjalankan pemerintahan periode berikutnya berpotensi membuat kuat Demokrat.

Dalam politik, keuntungan bagi mitra koalisi tidak selalu berarti keuntungan yang sama bagi partai utama. Ketika sebuah partai pendukung mendapatkan momentum besar, keseimbangan kekuatan di dalam koalisi juga dapat berubah.

Itulah yang menurut pakar menjadi salah satu risiko jika terjadinya Prabowo-AHY.

Namun, pilihan lainnya juga tidak bebas dari konsekuensi.

Prabowo dapat saja memilih untuk mempertahankan Gibran Rakabuming Raka. Opsi tersebut secara politik mungkin terlihat lebih sederhana karena keduanya telah menjalankan pemerintahan bersama.

Namun Hendri melihat skenario itu tetap memiliki potensi persoalan bagi Gerindra.

"Sama, kalau dia mengambil Gibran. Itu bisa jadi membahayakan Gerindra. Dan membesarkan partai yang dekat dengannya atau yang dalam bayang-bayang Golkar," ujarnya.

Dengan kata lain, mempertahankan politikus muda itu dapat memperkuat jejaring politik yang berada di sekitarnya. Hal itu berpotensi membuat partai atau kelompok politik lain memperoleh keuntungan elektoral menjelang kontestasi setelah 2029.

Gerindra pun harus menghitung bukan hanya kemenangan pilpres, tetapi juga bagaimana komposisi kekuatan partai setelah pemerintahan tersebut berjalan.

Pilihan cawapres akhirnya menjadi persoalan strategis. Prabowo membutuhkan pasangan yang mampu menjaga stabilitas pemerintahan sekaligus membantu memenangkan pemilu. Namun, pasangan tersebut juga berpotensi menjadi figur yang memperoleh keuntungan politik besar selama lima tahun berikutnya.

Baca Juga: Tunggu Proses Politik, Nusron Wahid Tak Akan Bisa Kabur dari KPK: Aliran Dana Begitu Kuat...

Bagi Gerindra, dilema tersebut membuat opsi kedua politikus itu sama-sama menjadi pisau bermata dua. Keduanya dapat membantu ketua partainya menghadapi pilpres, tetapi pada saat bersamaan berpotensi melahirkan pesaing politik yang lebih kuat bagi Gerindra.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar