Anak Bertubuh Pendek Belum Tentu Gangguan Hormon, Ini Cara Mengenalinya
Bagikan:
JAKARTA - Memantau tumbuh kembang anak merupakan bagian penting dalam pola asuh. Selain memastikan berat badan ideal, tinggi badan juga menjadi salah satu indikator yang mencerminkan apakah proses pertumbuhan berlangsung sesuai usianya.
Tidak sedikit orang tua yang mulai cemas ketika melihat anak tampak lebih pendek dibandingkan teman-teman sebayanya.
Kekhawatiran tersebut sering kali langsung dikaitkan dengan gangguan hormon. Padahal, kondisi tubuh pendek pada anak tidak selalu menjadi tanda adanya masalah kesehatan. Dalam banyak kasus, faktor keturunan atau genetik justru menjadi penyebab utama postur anak yang lebih pendek.
Lantas, bagaimana cara membedakan anak yang bertubuh pendek karena faktor genetik dengan yang mengalami gangguan hormon?
Spesialis Anak Subspesialis Endokrinologi RS Pondok Indah, Prof. Aman Bhakti Pulungan, menjelaskan bahwa membedakan kedua kondisi tersebut memang tidak selalu mudah, terutama di Indonesia yang masih menggunakan kurva pertumbuhan internasional sebagai acuan.
"Di Indonesia karena acuannya itu di atas rata-rata kita. (Tinggi) rata-rata orang Indonesia kan 164,5 sampai 165 cm, yang paling penting kita pastikan terlebih dahulu, apakah anak ini pendek sakit atau tidak?" ungkap Prof. Aman dalam diskusi media daring RS Pondok Indah, baru-baru ini.
Meski demikian, orang tua tetap dianjurkan untuk rutin memantau kurva pertumbuhan anak. Grafik pertumbuhan dapat memberikan gambaran apakah tinggi badan anak berkembang sesuai pola yang semestinya atau justru menunjukkan tanda-tanda yang perlu diwaspadai.
BACA JUGA:
Menurut Prof. Aman, anak yang bertubuh pendek karena faktor genetik umumnya masih menunjukkan pola pertumbuhan yang konsisten. Kurva pertumbuhannya cenderung menurun tetapi tetap sejajar atau paralel dengan kurva normal sesuai usianya.
Sebaliknya, apabila penyebabnya adalah gangguan hormon pertumbuhan, perlambatan tinggi badan biasanya terjadi secara lebih drastis. Kurva pertumbuhan akan tampak turun tajam dalam waktu relatif singkat sehingga menjadi sinyal bahwa anak membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
"Jika akibat gangguan hormon, kecepatan pertumbuhannya akan turun jauh. Misalnya, pada anak umur 0 sampai 12 bulan itu kenaikan pertumbuhannya 25 cm, kalau satu sampai dua tahun itu kenaikan pertumbuhannya 12,5 cm. Kalau tinggi anak jauh di bawah standar usianya dan pertumbuhannya tampak melambat dari waktu ke waktu, segera konsultasikan anak ke dokter anak," lanjut Prof. Aman.
Pemantauan pertumbuhan secara berkala menjadi langkah penting agar setiap gangguan dapat dikenali sejak dini.
Orang tua juga perlu melakukan evaluasi yang tepat, lalu dokter dapat menentukan apakah postur pendek yang dialami anak merupakan variasi normal akibat faktor genetik atau berkaitan dengan kondisi medis yang memerlukan penanganan khusus.
Diagnosis dan terapi yang dilakukan sedini mungkin diharapkan dapat membantu anak mencapai potensi tinggi badan yang optimal sesuai usianya, sekaligus mendukung kualitas hidup dan tumbuh kembangnya secara menyeluruh.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+
Populer
27 Juli 2026, 16:25
27 Juli 2026, 14:45