Anak Stunting Berisiko Alami Gangguan Otak dan Sulit Belajar
CNN Indonesia
Senin, 27 Jul 2026 22:42 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Stunting masih menjadi tantangan besar bagi kesehatan anak di Indonesia. Meski berbagai upaya telah dilakukan, sekitar 19,8 persen atau satu dari lima anak Indonesia masih mengalami stunting.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting tidak hanya membutuhkan intervensi dari tenaga kesehatan, tetapi juga peningkatan pemahaman orang tua mengenai tumbuh kembang anak.
Dokter Spesialis Anak Diana Nubatonis menjelaskan bahwa edukasi secara langsung kepada orang tua merupakan langkah strategis untuk mempercepat pencegahan stunting di tingkat keluarga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Diana, stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang lebih pendek dari usianya. Kondisi ini merupakan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang dapat berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga produktivitas anak saat dewasa.
"Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis serta infeksi berulang, yang tidak hanya berdampak pada tinggi badan, tetapi juga perkembangan otak, kemampuan belajar, dan produktivitas anak di masa depan," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Karena itu, ia mengingatkan pentingnya pencegahan dan deteksi dini agar masalah gizi dapat ditangani sebelum terlambat. Orang tua dianjurkan untuk rutin memantau tinggi dan berat badan anak serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan guna memastikan pertumbuhan sesuai dengan usianya.
Diana menilai kegiatan edukasi seperti Festival Sehat Ceria si Kecil dapat menjadi sarana bagi orang tua untuk meningkatkan pengetahuan mengenai peran mereka dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Pilihan Redaksi
- Kebiasaan Shakira yang Membuatnya Awet Muda di Usia 49 Tahun
- Dokter Ingatkan Dengue Tak Hanya Bisa Dilawan dengan 3M
- Viral Ratusan Anak di Sidoarjo Terpapar HIV, Kemenkes Buka Data Resmi
"Setiap langkah kecil yang dilakukan orang tua akan memberikan dampak besar bagi masa depan anak," katanya.
Pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan
Hal senada disampaikan Dokter Gigi Iien Adriany. Dia menyinggung tingginya angka stunting di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terjadi karena masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Selain itu, akses terhadap produk nutrisi khusus bagi anak yang menunjukkan gejala gagal tumbuh atau pre-stunting juga masih terbatas. Iien menjelaskan bahwa intervensi gizi spesifik melalui pangan olahan untuk kondisi medis khusus dan pangan diet khusus dapat menjadi bagian dari penanganan anak yang berisiko tinggi mengalami stunting.
Menurutnya, PKMK dan PDK bukan sekadar susu formula biasa, melainkan pangan yang diformulasikan secara khusus di bawah pengawasan tenaga medis untuk membantu mencegah sekaligus mengatasi malnutrisi energi protein dan kalori pada anak.
Ia berharap kegiatan edukasi seperti Festival Sehat Ceria si Kecil dapat memberikan dampak yang lebih luas, mulai dari meningkatkan pemahaman masyarakat, memperkuat sektor kesehatan, hingga mendukung pembangunan sumber daya manusia di NTT.
Permasalahan stunting memang belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Sejumlah daerah masih membutuhkan perhatian lebih karena memiliki prevalensi yang jauh di atas rata-rata nasional.
Salah satunya adalah Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tercatat memiliki prevalensi stunting sebesar 37 persen atau sekitar 214.143 anak. Angka tersebut menempatkan NTT sebagai provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi kelima di Indonesia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan tidak cukup hanya melalui layanan kesehatan, tetapi juga memerlukan edukasi berkelanjutan kepada masyarakat mengenai gizi dan pemantauan pertumbuhan anak.
Sales Director Sarihusada, Rizki Imam Ardhi mengatakan pencegahan stunting memerlukan kolaborasi berbagai pihak agar edukasi dan layanan nutrisi dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
"Para orang tua perlu mendapatkan kesempatan mengikuti skrining pertumbuhan anak sekaligus memperoleh edukasi mengenai pentingnya pemantauan tumbuh kembang, konsultasi dengan tenaga kesehatan, dan pemenuhan nutrisi yang tepat sebagai langkah pencegahan stunting," kata dia.
Sementara itu, Founder dan CEO Apotek K-24, Dokter Gideon Hartono, menegaskan bahwa upaya mengatasi stunting harus dilakukan secara bersama-sama. Menurutnya, Festival Sehat Ceria si Kecil menjadi salah satu bentuk komitmen untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang, pemantauan tumbuh kembang, dan deteksi dini sehingga setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh sehat dan optimal.
"Kami terus memperluas akses layanan kesehatan melalui penyediaan obat, vitamin, susu, alat kesehatan, layanan konsultasi apoteker, pemeriksaan kesehatan, vaksinasi, hingga telemedicine. Langkah tersebut diharapkan dapat memudahkan masyarakat memperoleh layanan kesehatan sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting sejak dini," katanya,
(tis/tis)
Add
as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNN]