peezycoineth.vip

AS Iran Panas Lagi! Trump Terapkan Sanksi Terkeras Sejarah ke Teheran

2026-08-20 23:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) akan menjatuhkan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran. Hal ini dikatakan Menteri Keuangan (Menkue) AS Scott Bessent dalam sebuah wawancara khusus ke CNBC International, Kamis waktu setempat.

Pernyataan ini mempertegas komentar Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengatakan akan merubah strategi terhadap Iran dari operasi militer saat ini. Trump mengancam akan melakukan "Perang Ekonomi" dan memperingatkan konsekuensi ekonomi lain, ke negara mana pun yang memberikan "bantuan dalam bentuk apa pun kepada Iran".

"Jika kami melakukan tekanan ekonomi maksimum, maka kemungkinan besar tidak akan ada dimulainya kembali operasi militer skala besar," kata Bessent dalam wawancara eksklusif dengan "Squawk on the Street", dikutip Jumat (21/8/2026).

"AS akan menciptakan isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia," tegasnya.

"Jika Anda bersikeras melakukan bisnis dengan (Iran), baik dengan mentransfer uang, membeli minyak mereka, maupun melakukan transfer kapal melalui laut, maka Departemen Keuangan AS dan pemerintah AS ... akan mengerahkan seluruh kekuatan dan kemampuan mereka untuk menegakkan tindakan terhadap Anda," lanjut Bessent.

"Sudah waktunya bagi sekutu kami dan seluruh dunia untuk mengambil keputusan... Kami akan menghancurkan perekonomian rezim 'pembunuh' ini."

Lebih lanjut, Bessent juga menegaskan tekanan ekonomi itu akan berjalan tetap bersama dengan blokade laut yang sedang berlangsung, yang dilakukan AS ke Selat Hormuz. Sebelumnya awal pekan, Trump membuat pernyataan heboh dengan mengklaim Selat Hormuz adalah "teritori AS".

"Ini adalah pukulan satu-dua. Kami memiliki blokade, dan kami akan menerapkan sanksi terberat dalam sejarah," kata Bessent.

"Kami akan meruntuhkan rezim ini," tambahnya.

Memang, produk domestik bruto (PDB) Iran diyakini mengalami kontraksi akibat perang, sementara inflasi di negara tersebut melonjak ke level tertinggi dalam sejarah. Namun, sejumlah pakar mengatakan hal ini tak serta merta bisa diasumsikan bahwa perekonomian Iran akan segera kolaps.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pihaknya mengecam sanksi ekonomi dan perdagangan AS, menyebutnya sebagai "terorisme ekonomi" yang akan menyasar rakyat Iran dan dapat dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Dalam pernyataan di X, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut langkah baru AS sebagai upaya "melipatgandakan kebijakan yang telah gagal hanya akan membawa kekalahan lebih lanjut-dan permusuhan dari rakyat Iran".

Harga minyak naik ke level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan pada Kamis menyusul ancaman AS tersebut berupa hukuman finansial ini.

AS sebenarnya sedang memaksa perang enam bulan dengan Iran yang membuat jutaan barel minyak Timur Tengah terkatung-katung. Namun hingga kini Trump belum mencapai tujuan yang ditetapkannya pada awal perang, yakni "membongkar program nuklir Iran", membatasi kemampuan Iran untuk menyerang rival-rival regionalnya, dan menciptakan kondisi agar rakyat Iran menggulingkan para pemimpin ulama mereka.


Bukan Cuma Iran Tapi China Juga Ditarget?

Sementara itu, ketika ditanya apakah AS dapat menargetkan China karena melakukan bisnis dengan Iran, Bessent mengatakan banyak pembicaraan mengenai hal tersebut lebih baik dilakukan secara tertutup. Mengutip Reuters, China membeli lebih dari 80% minyak Iran yang dikirim melalui jalur laut, merujuk data 2025 dari perusahaan analitik Kpler.

"Perlu diingat bahwa China mendapatkan 50% energinya dari kawasan Teluk. Jadi, akan sangat menguntungkan bagi mereka untuk mengikuti program ini," katanya.

Meski demikian, berurusan dengan China juga akan menyusahkan AS. Data menunjukkan bagaimana China merupakan eksportir besar ke AS termasuk mineral tanah jarang yang sangat penting, di mana setiap sanksi akan berisiko memicu tindakan balasan dari Beijing.

Sebenarnya, Iran sudah bertahun-tahun hidup di bawah tekanan sanksi AS. Di sisi lain, Iran secara terpisah tengah merundingkan kesepakatan dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz dan dalam beberapa pekan terakhir telah beberapa kali mengatakan bahwa kesepakatan tersebut hampir tercapai.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]