peezycoineth.vip

Astra Agro memanfaatkan 8,01 juta Nm3 biogas limbah cair sawit

2026-09-23 10:51

Jakarta (ANTARA) - Anak usaha PT Astra International Tbk yang bergerak di bidang pertanian dan perkebunan kelapa sawit, PT Astra Agro Lestari Tbk, memanfaatkan sekitar 8,01 juta normal meter kubik (Nm3) biogas dari limbah cair pabrik kelapa sawit melalui tiga fasilitas penangkapan metana di Riau hingga semester I 2026.

Direktur Astra Agro Lestari Tingning Sukowignjo mengatakan teknologi penangkapan metana (methane capture) digunakan untuk mengolah Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi biogas yang kemudian dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi.

“Jadi intinya adalah mentransformasi atau mengubah emisi itu menjadi sumber energi terbarukan,” kata Tingning dalam Astra Media Day 2026 di Jakarta, Rabu.

Tiga fasilitas penangkapan metana tersebut beroperasi di PT Eka Dura Indonesia, PT Tunggal Perkasa Plantations, dan PT Kimia Tirta Utama yang berada di Provinsi Riau.

Hingga semester I 2026, pemanfaatan biogas dari ketiga fasilitas itu mencapai sekitar 8,01 juta Nm3 dan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 39.573 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e).

“Dengan methane capture ini kita punya dua manfaat, kita bisa menurunkan emisi dan meningkatkan efisiensi energinya juga,” ujar Tingning.

Dalam prosesnya, POME yang dihasilkan dari pengolahan kelapa sawit dialirkan ke fasilitas biogas untuk menangkap gas metana. Gas tersebut selanjutnya dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi dalam kegiatan operasional pabrik.

Berdasarkan materi paparan perseroan, biogas yang dihasilkan memiliki kandungan metana sekitar 55 persen dan dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler untuk menggantikan sebagian penggunaan cangkang inti sawit.

Pemanfaatan limbah cair kelapa sawit sebagai biogas juga menjadi bagian dari pengembangan bioenergi nasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi pemanfaatan biogas nasional mencapai 103,2 juta meter kubik pada 2025.

Dalam Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Tahun 2025, pemerintah menyebut lebih dari 75 persen pemanfaatan biogas nasional berasal dari pemanfaatan langsung atau nonlistrik di sektor industri.

Sebanyak 32 pabrik kelapa sawit pada 2025 tercatat memanfaatkan langsung biogas secara nonlistrik dengan volume sekitar 71 juta meter kubik per tahun. Pemerintah menempatkan POME bersama limbah ternak dan limbah organik rumah tangga sebagai sumber daya domestik yang dapat dimanfaatkan secara produktif untuk pengembangan biogas.

Kementerian ESDM juga menilai pengembangan biometana memiliki posisi strategis dalam upaya mengurangi emisi metana sekaligus menyediakan energi rendah karbon sebagai pengganti sebagian energi fosil.

Pemerintah pada 2026 turut memperkuat tata kelola pemanfaatan kelapa sawit untuk bioenergi melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 3 Tahun 2026 tentang Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (ISPO) terhadap Usaha Bioenergi Kelapa Sawit.

Regulasi tersebut diarahkan untuk memastikan kegiatan usaha bioenergi berbasis kelapa sawit berjalan sesuai prinsip keberlanjutan, memiliki standar terukur, dan mendukung ketahanan serta transisi energi nasional.

Sementara itu, Astra Agro mencatat pengurangan emisi cakupan 1 dan 2 sebesar 35,69 persen pada 2025 dibandingkan dengan tahun dasar 2019. Pada periode yang sama, penggunaan energi terbarukan perseroan mencapai 92,3 persen dan pemanfaatan limbah padat tercatat 100 persen.

Baca juga: Universitas Mataram uji teknologi ubah sampah menjadi energi bersih

“Bagi kami, kinerja dan transformasi harus berjalan bersama. Peningkatan produktivitas, efisiensi sumber daya, pengembangan sumber daya manusia, serta pengelolaan lingkungan merupakan pondasi untuk keberlanjutan bisnis,” ucap Tingning.

Dari sisi kinerja keuangan, Astra Agro membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,10 triliun pada semester I 2026, meningkat 56,5 persen dibandingkan Rp702 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca juga: BRIDA NTB mengembangkan teknologi biodigester

Pendapatan bersih perseroan tercatat Rp15,26 triliun atau tumbuh 5,6 persen dibandingkan Rp14,45 triliun pada semester I 2025. Laba per saham meningkat dari Rp365 menjadi Rp571 per saham. Dalam materi paparan perusahaan, produksi minyak sawit mentah (CPO) pada semester I 2026 tercatat 588 ribu ton, turun 2,1 persen dibandingkan 601 ribu ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, volume penjualan CPO dan produk turunannya mencapai 898 ribu ton, meningkat 1,7 persen dibandingkan 883 ribu ton pada semester I 2025.

Pewarta : Aria Ananda
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026