Astrid Widayani sebut Solo tawarkan pengalaman belajar lewat sejarah
Astrid Widayani sebut Solo tawarkan pengalaman belajar lewat sejarah
Sabtu, 19 September 2026 11:53 WIB
Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani saat menjadi narasumber Solo Literacy Festival (SLF) 2026 dalam sesi Ruang Cerita pada Day 2 di Solo, Jawa Tengah, Jumat (18/9/2026). ANTARA/HO-Humas Pemkot Surakarta
Solo (ANTARA) - Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mendorong Solo tidak hanya dikenal sebagai kota wisata, tetapi juga sebagai kota yang menawarkan pengalaman belajar melalui sejarah, budaya, dan ruang-ruang pengetahuan yang dimilikinya.
Hal itu disampaikan Astrid saat menjadi narasumber Solo Literacy Festival (SLF) 2026 dalam sesi Ruang Cerita pada Day 2 di Solo, Jawa Tengah, Jumat. Astrid hadir bersama filolog Rendra Agusta dalam diskusi bertema “Jejak Aksara Membangun Peradaban Kota” yang digelar di Ndalem Djojokoesoeman.
Solo Literacy Festival 2026 digelar pada 17-19 September. Festival ini menjadi ruang kolaborasi komunitas kreatif, pegiat literasi, dan UMKM lokal untuk mendorong budaya literasi yang inklusif sekaligus memperluas wawasan generasi muda. Sejumlah pelatihan menulis dan diskusi literasi juga menjadi bagian dari rangkaian festival.
Dalam diskusi tersebut, Astrid menekankan bahwa literasi tidak sebatas kemampuan membaca buku atau mengenal aksara. Menurutnya, ruang, sejarah, budaya, dan perjalanan waktu juga merupakan sumber pengetahuan yang dapat memperkaya literasi masyarakat.
“Literasi tidak hanya berkaitan dengan buku, huruf, atau kata-kata saja. Tetapi bagaimana satu ruang, satu sejarah, dan dimensi waktu juga menjadi bagian dari bagaimana kita memperkaya literasi,” ujar Astrid.
Menurut Astrid, tema “Jejak Aksara Membangun Peradaban Kota” menjadi relevan dengan karakter Solo yang memiliki kekayaan sejarah dan budaya. Jejak peradaban tersebut, kata dia, perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi dapat menjadi sumber pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai perkembangan kota dan teknologi harus berjalan beriringan dengan penguatan identitas budaya.
“Seberapa maju pun kota atau seberapa cepat teknologi berubah, identitas jati diri bangsa tidak pernah hilang dan tidak pernah runtuh,” tegasnya.
Astrid mengatakan penguatan literasi juga tidak bisa hanya mengandalkan sekolah dan perpustakaan. Ruang publik perlu menjadi bagian dari ekosistem belajar yang mudah dijangkau dan dekat dengan aktivitas masyarakat.
Pemkot Surakarta, lanjutnya, terus mendorong hadirnya aktivitas literasi di berbagai ruang. Salah satunya melalui perpustakaan keliling yang hadir setiap pekan di kawasan Car Free Day dengan membawa koleksi buku yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Fasilitas dan aktivitas literasi juga didorong hadir di ruang publik lainnya, termasuk pusat perbelanjaan, hotel, dan fasilitas umum.
“Tidak hanya di perpustakaan atau di sekolah. Di manapun ada tempat, kita bisa belajar,” katanya.
Dari penguatan ekosistem tersebut, Astrid ingin Solo berkembang sebagai “center of knowledge” atau pusat pengetahuan. Menurutnya, keberadaan museum, perguruan tinggi, ruang budaya, hingga berbagai destinasi edukatif menjadi modal yang dapat dikembangkan lebih jauh.
“Solo ini juga ingin kami dorong sebagai kota yang menjadi pusat referensi atau Solo the center of knowledge. Dengan banyaknya museum dan kampus, bagaimana budaya bisa menjadi bagian dari nilai atau aktivitas kehidupan sehari-hari untuk dijadikan sumber pembelajaran,” jelasnya.
Konsep tersebut sekaligus dapat memperkaya pengalaman wisata di Solo. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat destinasi, tetapi juga mendapatkan pengetahuan tentang sejarah dan budaya kota.
“Sehingga semua datang ke Solo itu tidak hanya untuk wisata, tetapi juga untuk belajar,” imbuh Astrid.
Astrid juga mengajak keluarga menjadi lingkungan pertama dalam membangun budaya literasi. Kebiasaan membaca, berdiskusi, mengenal sejarah, maupun mengunjungi ruang edukatif dapat dimulai dari rumah dan kemudian diperkuat dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia di Kota Solo.
Ia menyebut sejumlah destinasi seperti Solo Safari, Solo Technopark, museum, dan ruang budaya dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar alternatif bagi masyarakat.
“Mulai dari rumah, tidak hanya di sekolah. Kemudian kita juga gunakan fasilitas dari pemerintah. Ada destinasi yang sifatnya edukatif, seperti Solo Safari, Solo Technopark, dan museum. Ini juga bisa digunakan sebagai sarana untuk penguatan literasi,” pungkasnya.
Rangkaian Solo Literacy Festival 2026 sendiri menjadi salah satu agenda literasi dan kebudayaan Kota Solo sepanjang September. Festival tersebut berlangsung hingga 19 September di Ndalem Djojokoesoeman.
Pewarta: Aris Wasita
Editor:
Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.