peezycoineth.vip

Astronaut Melihat Matahari Terbit 16 Kali Sehari, Kok Bisa?

2026-08-04 09:00

Jakarta -

Sehari di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) sangat berbeda dengan di Bumi. Dalam waktu 24 jam, astronaut dapat menyaksikan sekitar 16 kali Matahari terbit dan 16 kali Matahari terbenam. Fenomena ini terjadi karena ISS mengorbit Bumi setiap sekitar 92 menit dengan kecepatan hampir 28.000 kilometer per jam.

Mengapa bisa terjadi? ISS berada di orbit rendah Bumi pada ketinggian sekitar 400 kilometer. Dengan kecepatan sekitar 7,66 kilometer per detik, stasiun ini mampu mengelilingi Bumi sekitar 15,5 hingga 16 kali setiap hari.

Setiap kali ISS berpindah dari sisi Bumi yang gelap ke sisi yang diterangi Matahari, astronaut melihat Matahari terbit. Sebaliknya, ketika ISS kembali memasuki bayangan Bumi, mereka menyaksikan Matahari terbenam. Akibatnya, pergantian siang dan malam yang di Bumi berlangsung 24 jam terjadi hanya dalam waktu sekitar satu setengah jam di orbit.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untungnya, astronaut tidak menjalani pola tidur berdasarkan 16 kali Matahari terbit tersebut. Tanpa pengaturan khusus, paparan cahaya yang terus berubah dapat mengacaukan jam biologis, mengganggu tidur, hingga menurunkan konsentrasi astronaut.

Dikutip dari Space Daily, NASA dan badan antariksa lainnya menerapkan jadwal kerja yang mengikuti Waktu Universal Terkoordinasi (UTC), bukan berdasarkan kondisi cahaya di luar jendela. Lampu LED di dalam ISS juga diatur agar meniru perubahan cahaya alami di Bumi.

Pada pagi hari, lampu memancarkan cahaya kebiruan yang membantu menekan hormon melatonin sehingga astronaut tetap waspada. Menjelang waktu tidur, pencahayaan berubah menjadi lebih hangat untuk membantu tubuh bersiap beristirahat.

Sistem pencahayaan tersebut dikembangkan berdasarkan penelitian tentang ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur siklus tidur, hormon, suhu tubuh, hingga metabolisme. Jika ritme sirkadian terganggu dalam waktu lama, astronaut berisiko mengalami gangguan tidur, penurunan kemampuan berpikir, perubahan suasana hati, hingga menurunnya kinerja saat menjalankan misi. Karena itu, pencahayaan menjadi bagian penting dalam desain ISS, sama pentingnya dengan sistem pendukung kehidupan lainnya.

Teknologi pencahayaan dan pengaturan ritme biologis ini diperkirakan akan menjadi semakin penting ketika manusia menjalani misi jangka panjang ke Bulan maupun Mars. Dalam perjalanan yang dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, astronaut tidak lagi memiliki siklus siang dan malam alami seperti di Bumi.

Karena itu, para ilmuwan terus mengembangkan sistem pencahayaan cerdas yang mampu menjaga kesehatan fisik dan mental awak selama berada jauh dari planet asal mereka. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tantangan hidup di luar angkasa bukan hanya soal gravitasi atau radiasi, tetapi juga bagaimana menjaga jam biologis manusia tetap selaras meski setiap hari menyaksikan Matahari terbit sebanyak 16 kali.

(rns/rns)

TAGS

LIHAT LAINNYA