peezycoineth.vip

Asuransi Astra Bidik 80 Persen Klaim Diproses Tanpa Manusia, AI Dipakai untuk Deteksi Fraud

2026-09-11 15:58

Target tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital perusahaan mulai bergerak dari sekadar pengajuan klaim secara online menuju otomatisasi proses di belakangnya.

Bagaimana AI Asuransi Astra Digunakan untuk Mendeteksi Fraud?

AI dalam proses klaim Asuransi Astra dikembangkan untuk membantu sistem mengenali pola yang berpotensi tidak wajar. Salah satu contoh yang disampaikan manajemen adalah pemeriksaan terhadap klaim dengan nominal dan tanggal yang sama dengan pengajuan sebelumnya.

Artinya, teknologi tidak sekadar menjadi “pintu masuk” bagi nasabah untuk mengirim dokumen klaim. Sistem juga mulai digunakan untuk membaca dan membandingkan informasi yang masuk.

Siswadi, Direktur Astra sekaligus Director in Charge Astra Financial, menjelaskan bahwa pengembangan tersebut dilakukan untuk mengurangi pekerjaan manual dalam proses klaim.

“AI memeriksa apakah jumlah atau tanggal yang sama pernah diklaim sebelumnya,” jelas Siswadi dalam pemaparan mengenai pengembangan teknologi Asuransi Astra di Media Conference Asuransi Astra di Jakarta, Jumat, 11 September 2026.

Secara sederhana, mekanismenya dapat dibayangkan seperti sistem yang memberikan tanda ketika menemukan pola tertentu dalam sebuah pengajuan. Jika data klaim menunjukkan kemiripan dengan klaim sebelumnya, sistem dapat membantu mengidentifikasi pengajuan tersebut untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Penting dicatat, indikasi yang diberikan AI bukan berarti otomatis membuktikan terjadinya fraud. Sistem berfungsi membantu menemukan pola yang perlu diperhatikan, sedangkan kasus tertentu tetap dapat membutuhkan pemeriksaan manusia.

Baca Juga: Rincian Klaim dan Premi Asuransi Umum dari Setiap Lini pada Semester I 2026, Apa yang Rasionya Paling Tinggi?

Baca Juga: Bencana Makin Sering, Mengapa Banyak Nasabah Tak Mau Bayar Premi Asuransi Tambahan?

Mengapa Deteksi Fraud Menjadi Penting dalam Digitalisasi Klaim?

Digitalisasi membuat pengajuan klaim menjadi lebih mudah. Namun, kemudahan tersebut sekaligus membuat perusahaan perlu memiliki sistem pemeriksaan yang mampu mengikuti volume dan kompleksitas data yang masuk.

Pada proses manual, petugas harus memeriksa informasi satu per satu. Ketika data klaim semakin banyak, pekerjaan semacam pencocokan data berulang dapat menyita waktu.

Di sinilah AI memiliki fungsi yang berbeda dari sekadar aplikasi layanan pelanggan.

Ada setidaknya tiga pekerjaan yang dapat dibantu teknologi:

  • membaca dan mengolah data klaim;

  • mencocokkan informasi dengan riwayat pengajuan;

  • memberikan indikasi ketika ditemukan pola yang tidak biasa.

Perubahan ini penting karena pekerjaan pemeriksaan awal bersifat relatif repetitif. Mesin dapat melakukan pencocokan data secara konsisten, sementara tenaga manusia dapat diarahkan pada kasus yang membutuhkan penilaian lebih kompleks.

Dengan kata lain, tujuan penggunaan AI bukan semata-mata membuat aplikasi terlihat lebih canggih. AI mulai ditempatkan sebagai bagian dari mesin operasional perusahaan asuransi.

Apa Arti Target 80 Persen Klaim Diproses Tanpa Manusia?

Angka 80 persen perlu dibaca secara hati-hati.

Asuransi Astra menyampaikan target agar sekitar 70–80 persen proses dapat dilakukan tanpa intervensi manusia. Angka tersebut bukan berarti 80 persen seluruh klaim saat ini sudah diputuskan oleh AI.

Ada perbedaan antara proses klaim yang otomatis dan keputusan klaim yang sepenuhnya dilakukan mesin.

Proses otomatis dapat mencakup pemeriksaan data dan pencocokan informasi yang memiliki parameter jelas. Sementara itu, klaim yang kompleks, memiliki informasi tidak lengkap, atau menunjukkan pola tertentu tetap berpotensi memerlukan pemeriksaan manusia.

Pemisahan ini penting karena industri asuransi tidak hanya berurusan dengan data, tetapi juga dengan penilaian terhadap risiko dan kondisi nasabah.

Dengan demikian, target 70–80 persen lebih tepat dipahami sebagai perubahan komposisi pekerjaan: sebagian tugas administratif dan pemeriksaan berulang dipindahkan kepada sistem, sedangkan manusia berkonsentrasi pada bagian yang membutuhkan judgement.

Jadi, apakah AI akan menggantikan petugas klaim?

Tidak sesederhana itu.

Justru semakin tinggi tingkat otomatisasi, semakin penting menentukan kapan sebuah klaim harus keluar dari jalur otomatis dan masuk ke pemeriksaan manusia.

Bayangkan dua klaim yang masuk pada hari yang sama. Klaim pertama memiliki data lengkap dan tidak menunjukkan pola yang janggal. Klaim kedua memiliki kemiripan nominal dan tanggal dengan pengajuan sebelumnya.

Dalam skenario seperti itu, sistem dapat menangani pemeriksaan rutin pada klaim pertama, sementara klaim kedua memperoleh perhatian lebih lanjut.

Hasil akhirnya bukan manusia versus AI, melainkan AI menyaring pekerjaan repetitif agar manusia dapat menangani kasus yang membutuhkan pemeriksaan lebih mendalam.

Seberapa Jauh Pengembangan AI Klaim Asuransi Astra Saat Ini?

Asuransi Astra menyebut pengembangan deteksi fraud pada klaim kesehatan masih berlangsung.

Dalam penjelasan manajemen, tingkat akurasi untuk beberapa jenis klaim disebut sudah mendekati 80 persen. Namun, angka tersebut tidak dapat digeneralisasi sebagai akurasi AI untuk seluruh jenis klaim.

Perusahaan menargetkan pengembangan tersebut dapat terus meningkat.

“Target 70–80% proses berjalan tanpa campur tangan manusia,” ujar Siswadi saat menjelaskan arah pengembangan teknologi tersebut.

Ia juga menyampaikan harapan agar pengembangan teknologi tersebut mengalami kemajuan signifikan pada tahun ini dan dapat diluncurkan lebih luas pada tahap berikutnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Asuransi Astra masih berada dalam proses membangun dan menyempurnakan sistem. Dengan kata lain, otomatisasi klaim bukan fitur yang tiba-tiba muncul dalam satu aplikasi, melainkan bagian dari transformasi operasional yang dikembangkan bertahap.

Dari OCR hingga AI, Digitalisasi Asuransi Astra Mulai Masuk ke Proses Inti

Penggunaan AI untuk klaim sebenarnya merupakan kelanjutan dari digitalisasi yang telah dilakukan Asuransi Astra selama beberapa tahun.

Perusahaan mulai mengembangkan layanan digital sejak 2015 melalui Otocare, kemudian Medcare pada 2016. Dalam perkembangannya, layanan tersebut berevolusi menjadi myGarda yang mengintegrasikan berbagai layanan Asuransi Astra dalam satu aplikasi.

myGarda kini menyediakan lebih dari 20 layanan dari berbagai produk Asuransi Astra. Layanan tersebut mencakup antara lain kebutuhan darurat, klaim, survei, hingga pengelolaan layanan kesehatan.

Digitalisasi juga diterapkan pada proses pembelian asuransi kendaraan melalui GardaOto.com.

Salah satu perubahannya adalah pemanfaatan teknologi OCR untuk membaca data dari KTP dan STNK. Sebelumnya, terdapat sekitar 16 bidang data yang perlu dimasukkan secara manual. Kini, sebagian data dapat diekstraksi dari dokumen yang diunggah.

Perubahan tersebut memperlihatkan pola yang sama: teknologi digunakan untuk menghilangkan pekerjaan administratif yang sebenarnya tidak perlu dilakukan manusia satu per satu.

Pada tahap berikutnya, pendekatan serupa mulai masuk ke proses klaim.

Perbedaannya cukup signifikan. Jika OCR terutama mengurangi pekerjaan saat memasukkan data, AI pada klaim mulai digunakan untuk menganalisis data dan menemukan pola.

Itulah titik ketika digitalisasi berubah dari sekadar memindahkan proses offline ke aplikasi menjadi otomatisasi pengambilan keputusan awal.

Bagaimana Jika Nasabah Mengajukan Klaim yang Sama Dua Kali?

Sebagai ilustrasi, seorang nasabah mengajukan klaim kesehatan melalui kanal digital.

Data klaim masuk ke sistem. Alih-alih langsung bergantung pada pemeriksaan manual, sistem dapat mencocokkan informasi tertentu dengan pengajuan sebelumnya.

Jika ditemukan nominal dan tanggal yang sama atau pola yang dianggap perlu diperiksa, sistem dapat memberikan sinyal.

Alurnya secara sederhana menjadi:

  1. Nasabah mengajukan klaim secara digital.

  2. Sistem membaca data yang masuk.

  3. Data dibandingkan dengan informasi klaim sebelumnya.

  4. AI membantu menemukan pola yang berulang atau tidak biasa.

  5. Klaim yang membutuhkan perhatian dapat diteruskan untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Simulasi tersebut merupakan ilustrasi untuk menjelaskan mekanisme teknologi, bukan contoh kasus aktual Asuransi Astra.

Hal yang paling penting adalah posisi AI dalam alur tersebut. Teknologi berfungsi sebagai alat penyaring dan pendeteksi pola, bukan hakim yang otomatis menyatakan seorang nasabah melakukan penipuan.

Apakah Otomatisasi Klaim Berarti Manusia Tidak Lagi Dibutuhkan?

Justru di sinilah paradoks penggunaan AI dalam industri asuransi.

Jika seluruh klaim diperlakukan sama dan diperiksa manusia satu per satu, sumber daya akan banyak terserap untuk pekerjaan yang berulang. Sebaliknya, jika semua keputusan diserahkan kepada mesin, terdapat risiko kasus-kasus tertentu kehilangan konteks yang hanya dapat dipahami melalui pemeriksaan manusia.

Karena itu, model yang lebih masuk akal adalah pembagian pekerjaan.

Mesin menangani pola. Manusia menangani pengecualian.

Mesin dapat bekerja cepat pada data yang terstruktur. Manusia tetap dibutuhkan ketika kasus memiliki kondisi yang tidak biasa, informasi yang saling bertentangan, atau membutuhkan pertimbangan lebih mendalam.

Jika target otomatisasi 70–80 persen tersebut tercapai, dampaknya bukan hanya soal mengurangi pekerjaan petugas. Perubahan yang lebih besar adalah bergesernya jenis pekerjaan petugas klaim dari pekerjaan administratif menuju pekerjaan yang lebih banyak membutuhkan analisis dan judgement.

Apa Dampaknya bagi Nasabah?

Dari sisi konsumen, manfaat paling mudah terlihat adalah potensi proses yang lebih sederhana dan cepat.

Nasabah tidak perlu membayangkan seluruh proses klaim sebagai rangkaian pemeriksaan manual. Sebagian pekerjaan di belakang layar dapat dilakukan sistem, sementara petugas berfokus pada kasus yang memang membutuhkan perhatian.

Ada tiga dampak yang paling mungkin dirasakan:

  • Waktu proses: pekerjaan pencocokan data dapat dilakukan sistem dengan lebih cepat.

  • Pengalaman digital: nasabah dapat mengajukan klaim melalui kanal digital tanpa harus bergantung pada proses administratif konvensional.

  • Pemeriksaan fraud: sistem dapat membantu menemukan pola klaim berulang atau tidak biasa sejak tahap awal.

Namun, otomasi tidak berarti setiap klaim akan selesai secara instan. Kecepatan tetap bergantung pada karakteristik klaim, kelengkapan data, dan apakah terdapat kondisi yang memerlukan pemeriksaan tambahan.

AI Asuransi Bukan Sekadar Fitur Baru, tetapi Perubahan Cara Kerja

Jika dilihat dari rangkaian inovasi Asuransi Astra, penggunaan AI pada klaim menunjukkan tahap yang berbeda dalam perjalanan digitalisasi perusahaan.

Pada tahap awal, teknologi membuat layanan dapat diakses melalui perangkat digital. Selanjutnya, OCR mengurangi kebutuhan memasukkan data secara manual. Kini, AI mulai digunakan untuk membaca pola dalam data dan membantu pemeriksaan klaim.

Urutannya dapat diringkas menjadi:

digitalisasi layanan → otomatisasi pekerjaan administratif → analisis data → deteksi pola → otomatisasi proses klaim.

Perubahan tersebut membuat pertanyaan tentang teknologi asuransi menjadi lebih menarik. Persoalannya bukan lagi apakah nasabah bisa mengajukan klaim melalui aplikasi, melainkan berapa banyak pekerjaan di belakang pengajuan tersebut yang sebenarnya masih membutuhkan manusia.

Target 70–80 persen Asuransi Astra menjadi penting dalam konteks itu.

Jika berhasil diterapkan secara luas, sebagian proses klaim yang selama ini bergantung pada pekerjaan repetitif dapat dialihkan kepada sistem. Tenaga manusia kemudian dapat difokuskan pada pekerjaan yang lebih sulit digantikan mesin.

Pada akhirnya, keberhasilan AI dalam klaim bukan hanya diukur dari seberapa banyak pekerjaan manusia yang berhasil dihilangkan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah teknologi mampu membuat proses menjadi lebih efisien tanpa mengorbankan ketepatan pemeriksaan dan kejelasan bagi nasabah.

Bagi industri asuransi, masa depan otomatisasi kemungkinan bukan tentang manusia atau AI, melainkan tentang manusia dan AI mengerjakan bagian yang memang paling sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Baca Juga: Cermati Protect Komitmen Hadirkan Pembelian Asuransi Mobil dengan Praktis dan Mudah

Baca Juga: OJK Targetkan Seluruh Asuransi Kesehatan Terapkan KAPJ 2026

FAQ

Apa itu AI dalam proses klaim asuransi?

AI dalam proses klaim asuransi merupakan penggunaan kecerdasan buatan untuk membantu membaca, membandingkan, dan menganalisis data klaim. Dalam pengembangan Asuransi Astra, AI antara lain digunakan untuk membantu mendeteksi pola seperti kemungkinan pengajuan dengan nominal atau tanggal yang sama dengan klaim sebelumnya.

Bagaimana AI dapat mendeteksi fraud dalam klaim asuransi?

AI dapat membantu mendeteksi indikasi fraud dengan menemukan pola data yang tidak biasa atau berulang. Dalam pengembangan Asuransi Astra, salah satu contoh yang disebutkan adalah pemeriksaan apakah nominal dan tanggal klaim tertentu pernah diajukan sebelumnya. Indikasi tersebut tidak otomatis membuktikan fraud dan dapat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Apakah semua klaim Asuransi Astra akan diproses tanpa manusia?

Tidak. Target Asuransi Astra adalah sekitar 70–80 persen proses dapat dilakukan tanpa intervensi manusia. Klaim dengan kondisi kompleks, data yang membutuhkan klarifikasi, atau pola tertentu tetap dapat membutuhkan pemeriksaan manusia. Jadi, otomatisasi proses tidak sama dengan menghapus seluruh peran petugas klaim.

Apa arti target 80 persen proses klaim tanpa manusia?

Target 80 persen berarti Asuransi Astra ingin sebagian besar proses klaim yang dapat distandardisasi dan diotomatisasi berjalan tanpa intervensi manusia. Angka tersebut bukan berarti 80 persen seluruh klaim saat ini sudah diputuskan oleh AI. Target ini juga berbeda dengan angka akurasi sistem yang disebut mendekati 80 persen untuk beberapa jenis klaim.

Apakah AI dapat menggantikan petugas klaim?

AI lebih tepat dipandang sebagai alat untuk membantu petugas klaim daripada pengganti seluruh pekerjaan manusia. Mesin dapat menangani pencocokan data dan pola yang repetitif, sedangkan petugas dapat berkonsentrasi pada kasus yang membutuhkan pemeriksaan atau penilaian lebih kompleks.

Apa keuntungan AI bagi nasabah asuransi?

AI berpotensi membuat proses klaim lebih efisien dengan mengurangi pekerjaan administratif dan mempercepat pemeriksaan data. Teknologi juga dapat membantu menemukan pola klaim yang perlu diperiksa. Meski demikian, penerapan AI tidak berarti semua klaim otomatis disetujui atau selesai dalam waktu yang sama.

Apakah klaim yang terindikasi fraud otomatis ditolak?

Tidak. Indikasi yang ditemukan AI sebaiknya dipahami sebagai sinyal untuk pemeriksaan lebih lanjut, bukan keputusan otomatis bahwa telah terjadi fraud. Penilaian terhadap suatu klaim tetap perlu mempertimbangkan data dan kondisi kasus secara menyeluruh.