peezycoineth.vip

Australia Keluarkan Travel Warning ke Jepang Usai Gempa dan Cuaca Ekstrem

2026-08-01 09:06

Sydney -

Pemerintah Australia memperbarui peringatan perjalanan bagi warganya yang berada atau akan bepergian ke Jepang setelah gempa bermagnitudo 6,8 mengguncang Prefektur Kumamoto pada Selasa lalu.

Wisatawan diminta tetap waspada karena gempa susulan masih terus terjadi. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengatakan sedikitnya 30 orang meninggal dunia akibat gempa tersebut.

Pemerintah Prefektur Kumamoto juga mencatat sedikitnya 62 orang mengalami luka-luka. Gempa terjadi ketika wilayah Kumamoto sedang dilanda cuaca panas ekstrem.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kerusakan pada rumah dan jaringan listrik membuat ribuan warga mengungsi ke pusat evakuasi untuk mencari tempat yang lebih aman sekaligus menghindari suhu yang menyengat.

Melansir 9News, Sabtu (1/8/2026) pembaruan informasi perjalanan pada hari Rabu oleh Pemerintah Australia melalui Smartraveller, meminta wisatawan mengikuti seluruh arahan otoritas setempat. Mereka mengingatkan agar pelancong memantau perkembangan situasi sebelum bepergian.

"Jika Anda berada di wilayah terdampak, ikuti arahan otoritas setempat. Periksa informasi gempa bumi dan tsunami dari Badan Meteorologi Jepang serta ikuti panduan keselamatan gempa dari Organisasi Pariwisata Nasional Jepang," tulis Smartraveller.

Hingga kini, lebih dari 100 gempa susulan telah tercatat. Tim penyelamat masih menyisir bangunan-bangunan yang runtuh untuk mencari korban yang diduga masih terjebak.

Sebanyak 170 personel penyelamat dikerahkan ke pusat perbelanjaan Aeon di Kota Kashima setelah lantai dua bangunan itu ambruk. Dinas Pemadam Kebakaran Kumamoto menyebut jumlah orang yang terjebak masih belum diketahui.

Sebelum bangunan runtuh, diduga terjadi ledakan akibat kebocoran gas. Namun, pihak Aeon mengatakan seluruh pengunjung dan karyawan telah dievakuasi sesaat setelah gempa pertama terjadi, penyebab pasti ledakan tersebut masih diselidiki.

Gempa juga merusak pabrik Yatsushiro milik Nippon Paper Industries. Sejumlah pekerja sempat terjebak, cerobong roboh, dan sebagian bangunan mengalami kerusakan.

Rekaman NHK juga memperlihatkan beberapa bangunan terbakar atau roboh sebagian, retakan besar di sejumlah jalan utama, serta terhentinya layanan kereta api dan penerbangan.

Dampak gempa turut dirasakan di Kastel Kumamoto, salah satu destinasi wisata populer di wilayah tersebut. Sejumlah dinding batu kastel mengalami kerusakan, padahal bangunan bersejarah itu masih menjalani proses restorasi akibat gempa besar yang pernah terjadi sebelumnya.

Sebagai informasi, Jepang merupakan salah satu tujuan favorit wisatawan Australia. Organisasi Pariwisata Nasional Jepang mencatat lebih dari satu juta warga Australia berkunjung ke Negeri Sakura sepanjang 2025.

Kemudian, selain ancaman gempa, Smartraveller juga mengingatkan wisatawan agar mewaspadai gelombang panas yang biasanya terjadi pada Juli hingga September.

"Gelombang panas ekstrem dapat terjadi di Jepang antara Juli hingga September. Otoritas setempat akan mengeluarkan peringatan saat suhu diperkirakan sangat tinggi. Waspadai gejala dehidrasi dan heatstroke," jelas mereka.

(upd/wsw)