Awan minim, Rekayasa cuaca di Jabar belum dapat dilakukan - ANTARA News Jawa Barat
Bandung (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Bandung menyatakan pelaksanaan modifikasi cuaca di Jawa Barat belum dapat dilakukan untuk mengatasi dampak musim kemarau karena potensi awan di wilayah sasaran masih minim.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi mengatakan keberadaan awan menjadi salah satu syarat utama dalam pelaksanaan modifikasi cuaca yang dilakukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
“Modifikasi cuaca ini tentunya harus ada potensi awan. Nah, saat ini potensi awannya masih kurang dari 30 persen, jadi tidak memungkinkan untuk dibuat modifikasi cuaca. Kita harus menunggu awannya mengumpul baru bisa melakukan hal tersebut,” ujar Suaidi di Bandung, Jumat.
Ia menjelaskan modifikasi cuaca tidak dapat dilakukan apabila kondisi atmosfer belum menyediakan awan yang cukup untuk menjadi sasaran penyemaian.
Suaidi mengatakan wilayah Jawa Barat, termasuk Kota Bandung, memiliki karakteristik musim yang jelas karena masuk dalam Zona Musim (ZOM), yakni wilayah yang memiliki perbedaan musim hujan dan kemarau yang relatif tegas.
Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah wilayah non-ZOM yang cenderung mengalami hujan sepanjang tahun, seperti kawasan pesisir barat Sumatera.
Meski saat ini Jawa Barat berada dalam periode musim kemarau dan dipengaruhi fenomena El Nino, Suaidi menegaskan kondisi tersebut bukan berarti hujan sama sekali tidak dapat terjadi.
Menurut dia, hujan lokal masih berpotensi turun ketika terjadi pembentukan dan pengumpulan awan di suatu wilayah. Kondisi tersebut juga dapat menyebabkan cuaca terasa gerah sebelum hujan turun.
“Isu El Nino itu bukan berarti panas sepanjang masa. Hujan masih bisa terjadi karena ada pengumpulan awan yang akhirnya jatuh sebagai hujan lokal,” katanya.
Suaidi mengatakan potensi hujan lokal tersebut antara lain dipengaruhi massa air yang bergerak dari wilayah selatan, seperti Samudra Hindia, serta dinamika angin yang terjadi selama periode musim angin baratan maupun timuran.
“Hujan lokal ini sangat bergantung pada massa air yang dibawa dari selatan, seperti dari Samudra Hindia, yang dipengaruhi oleh musim angin baratan atau timuran nantinya,” ujarnya.
Pewarta: Rubby Jovan Primananda
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.