Banjir Bandang Terjang Perbatasan Nepal-Tibet, 95 Orang Dilaporkan Tewas, Ratusan Hilang |Republika Online
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banjir bandang dan tanah longsor hebat menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada Rabu (26/8/2026). Bencana tersebut menewaskan sedikitnya 95 orang dan menyebabkan ratusan wisatawan serta pelancong dilaporkan hilang, seperti laporan BBC dan Anadolu.
Badan pariwisata Nepal menyebut kawasan terdampak merupakan salah satu jalur yang ramai dilalui wisatawan, peziarah, dan pendaki. Di antara wisatawan yang belum diketahui keberadaannya terdapat lebih dari 100 warga India, 47 warga Amerika Serikat, dan 33 warga Inggris.
Bencana terjadi sekitar pukul 08.30 waktu setempat atau 09.45 WIB. Air bercampur lumpur menerjang permukiman dan sejumlah fasilitas umum di sekitar perbatasan Nepal-China. Kantor polisi, kantor bea cukai, serta rumah warga dilaporkan ikut tersapu derasnya arus.
Wilayah Rasuwagadhi menjadi salah satu titik yang terdampak parah. Kawasan tersebut merupakan jalur menuju Langtang, salah satu destinasi pendakian populer Nepal. Jalur yang sama juga digunakan wisatawan dan peziarah menuju Gunung Kailash dan Danau Mansarovar di China.
Kepolisian Nepal menemukan sejumlah jenazah di Distrik Nuwakot dan Dhading. Sementara itu, operasi pencarian dan penyelamatan terus dilakukan dengan melibatkan personel keamanan, tim penyelamat, warga setempat, serta helikopter.
Seorang pejabat Pasukan Kepolisian Bersenjata Nepal Shailendra Thapa mengatakan, banjir kemungkinan berkaitan dengan jebolnya danau glasial di bagian hulu Sungai Bhotekoshi. Namun, Menteri Luar Negeri Nepal menyebut bencana tersebut juga kemungkinan dipicu gempa bumi yang menyebabkan longsoran salju atau tanah.
Dampak bencana tidak hanya dirasakan di Nepal. Di sisi Tibet, media pemerintah China melaporkan tiga orang tewas dan 265 orang lainnya hilang. Rekaman CCTV memperlihatkan dinding air bercampur lumpur menerjang bangunan di sekitar pos perbatasan.
Longsor di sekitar Pelabuhan Gyirong, salah satu jalur darat utama yang menghubungkan Nepal dan China, memutus akses jalan dari sisi China. Jaringan komunikasi dan pasokan listrik di kawasan tersebut juga mengalami gangguan.
Peringatan darurat kemudian dikeluarkan bagi masyarakat di wilayah hilir hingga Chitwan, distrik Nepal yang berbatasan dengan India. Rumah sakit pemerintah dan fasilitas kesehatan yang dikelola lembaga keamanan di Kathmandu disiapkan untuk menerima korban luka.
Besarnya dampak bencana membuat operasi pencarian menghadapi tantangan berat. Pihak berwenang masih berupaya memastikan keberadaan dan kondisi para wisatawan yang berada maupun sedang melakukan perjalanan melalui kawasan terdampak.
sumber : Antara