Bank Jatim-OJK tanamkan budaya menabung pelajar SMP/SMA di Situbondo - ANTARA News Jawa Timur
Situbondo (ANTARA) - Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jawa Timur (Bank Jatim) dan Otoritas Jasa Keuangan Jember menanamkan budaya menabung serta pengelolaan finansial sejak dini bagi ratusan pelajar SMP/SMA sederajat di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Rabu.
Senior Executive Vice President Network dan Digital BPD Jawa Timur Glemboh Priambodo mengatakan kegiatan bertajuk "Merajut Masa Depan Melalui Literasi dan Inklusi Keuangan" ini selain menanamkan budaya menabung, juga untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai pentingnya mengelola keuangan.
"Kegiatan yang berkolaborasi dengan OJK Jember ini juga dalam rangka memperingati Hari Indonesia Menabung 2026 dengan memberikan edukasi literasi dan inklusi keuangan melalui program Satu Rekening Satu Pelajar," katanya usai acara yang digelar di SMA Negeri 2 Situbondo.
Melalui program Satu Rekening Satu Pelajar ini, Glemboh berharap seluruh pelajar di Situbondo memiliki akses layanan perbankan yang aman serta dapat membentuk kebiasaan menabung dengan menyisihkan uang saku mereka.
"Menyisihkan uang saku untuk ditabung adalah pengelolaan finansial yang bijak untuk masa depan mereka sendiri," katanya.
Sementara itu, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo mengatakan bahwa literasi dan inklusi keuangan bagi pelajar harus tetap dikuatkan, karena di era saat ini kerap terjadi kejahatan digital.
"Literasi dan inklusi keuangan di kalangan masyarakat, terutama bagi pelajar sangatlah penting dan bermanfaat," katanya.
Pada momentum Hari Indonesia Menabung, Bupati Rio mengajak siswa SMP/SMA sederajat agar memanfaatkan HP mereka untuk kegiatan yang positif.
"Sebenarnya kami tidak hanya hari ini, kami juga sudah seringkali memberikan edukasi literasi keuangan kepada masyarakat terutama siswa," katanya.
Kepala Kantor OJK Jember Aris Budiman menyampaikan bahwa pada tahun 2026 indeks literasi keuangan di Indonesia masih di angka 65,57 persen, sedangkan inklusi keuangan 93,61 persen.
"Di mana masyarakat sudah melakukan transaksi keuangan tapi tidak tahu risikonya apa, dan mereka belum paham apa yang mereka transaksikan. Oleh karena itu paling penting adalah meningkatkan literasi, karena indeks literasi itu semakin mendekati indeks inklusi maka pemahaman dan pengertian masyarakat mengelola keuangan itu akan semakin tinggi," katanya.
Dari pantauan, dalam kegiatan itu siswa mendapatkan bantuan buku tabungan Simpanan Pelajar atau Simpel yang dibagikan secara simbolis kepada perwakilan siswa SMP dan SMA sederajat.
Pewarta: Novi Husdinariyanto
Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.