peezycoineth.vip

Basarnas perhitungkan arus laut demi keselamatan penyelaman KM Virgo

2026-09-21 15:51

Banjarmasin (ANTARA) - Basarnas memperhitungkan kondisi arus bawah laut yang cepat berubah di lokasi kecelakaan KM Virgo Transport 8 dengan memanfaatkan waktu laut teduh agar penyelam Basarnas Special Group (BSG) dapat masuk ke badan kapal yang tenggelam.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Kelas A Banjarmasin I Putu Sudayana selaku SAR Mission Coordinator mengatakan penyelam memanfaatkan waktu ketika arus mulai teduh dan gelombang mengecil karena kondisi tersebut tidak berlangsung lama, sehingga tim harus segera melakukan penyelaman.

“Saat arus bawah laut teduh, gelombang mulai kecil, waktu itulah yang dimanfaatkan oleh tim penyelam untuk segera melaksanakan penyelaman, dan itu waktunya tidak berlangsung lama,” kata Putu dalam konferensi pers perkembangan operasi SAR hari kesembilan kecelakaan KM Virgo Transport 8 di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Senin malam.

Menurut dia, waktu penyelaman yang terbatas membuat tim harus memaksimalkan setiap kesempatan ketika kondisi laut memungkinkan saat kecepatan arus berada di bawah 2,5 knot, sehingga penyelam dapat segera turun melakukan pencarian dan beberapa korban berhasil dievakuasi dari dalam badan kapal.

“Dengan berkejaran dengan waktu, namun kita bisa memaksimalkan waktu yang ada sehingga beberapa korban kita berhasil evakuasi. Berkat cara ini, penyelam berhasil menemukan dan mengevakuasi lima jasad dari dalam kapal yang tenggelam pada operasi SAR hari kesembilan,” ujarnya.

Baca juga: Basarnas-TNI AL kerahkan 34 penyelam hari ke-10 operasi SAR KM Virgo

Putu menjelaskan bagian bawah kapal menjadi area paling sulit dan berisiko dijangkau karena penyelam tidak mengetahui kestabilan kapal ketika memasuki kompartemen tersebut, sehingga perubahan posisi kapal dapat membahayakan keselamatan tim selama pencarian.

“Paling sulit dan paling berbahaya dijangkau adalah kompartemen yang bagian bawah. Di sanalah yang paling sulit dan berisiko karena begitu kita masuk ke bagian bawah kapal, kita tidak tahu kestabilan kapal saat ini,” katanya.

Ia mengatakan penyelam juga harus memperhatikan teknik ketika memecahkan kaca dari tiap bagian badan kapal untuk menjangkau bagian tertentu di dalam kapal, karena kaca yang pecah dapat menimbulkan dorongan luar biasa apabila penyelam berada tepat di depannya.

“Begitu kaca pecah, ini akan ada dorongan yang luar biasa. Ini akan membahayakan untuk penyelam sendiri,” ujarnya.

Putu menegaskan berbagai kondisi tersebut menjadi perhatian tim, terutama saat penyelam bekerja di kedalaman dan memasuki ruang-ruang kapal yang tersekat, sehingga setiap kesempatan penyelaman harus dimanfaatkan dengan tetap mempertimbangkan risiko terhadap keselamatan penyelam.

Hingga Senin (21/9) malam pukul 22.00 Wita, Basarnas mengonfirmasi sebanyak 123 korban telah ditemukan, terdiri atas 108 orang selamat dan 15 orang meninggal dunia, sementara 120 korban masih proses pencarian dari total 243 orang dalam manifes KM Virgo Transport 8.

Baca juga: Basarnas konfirmasi dua jasad di Kalteng merupakan korban KM Virgo

Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor: Riza Mulyadi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.