Bebersih Leuweung di Titik Awal Napas Kehidupan Warga Jabar dan Jakarta |Republika Online
Oleh Ferry Bangkit Riski
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Mentari pagi sedikit memberi kehangatan di tengah dinginnya suhu di Kertasari, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di balik rimbunnya pepohonan yang menjulang tinggi, tersimpan hamparan air bening yang menampakan ketenangan dan kesejukan.
Namanya Situ Cisanti yang bersandar di bawah kaki Gunung Wayang. Hamparan air seluas 5 hektare itu bukan sekedar kesegaran semata, lebih dari itu, Situ Cisanti adalah awal napas kehidupan bagi masyarakat Jawa Barat bahkan Jakarta.
Dari ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut itulah Sungai Citarum bermula. Situ Cisanti adalah Titik Nol Kilometer sungai yang memanjang hampir 300 kilometer melintasi kabupaten dan kota hingga bermuara di Bekasi lalu berakhir di Laut Jawa.
Berbeda dengan kawasan hilir yang visualnya menampakan adanya potret pencemaran, air di kawasan Situ Cisanti begitu bening dan jernih yang memancarkan ketenangan di tengah asrinya pemandangan di kawasan kaki Gunung Wayang itu.
Sabtu (26/9/2026), kawasan Situ Cisanti itu mendadak riuh. Tentu bukan karena ada keributan, namun karena kehadiran sekelompok orang yang ingin menjaga dan melestarikan kawasan hulu Citarum melalui Bebersih Leuweung yang digagas Republika.
"Peradaban Jawa Barat dan Jakarta itu sangat bergantung pada Citarum," kata Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang menjadi pembicara dalam Ground Talk & Bebersih Leuweung Republika 2026.
Dulunya kawasan itu merupakan hamparan rawa alami di bawah kaki Gunung Wayang. Transformasi menjadi danau buatan baru dilakukan oleh pemerintah tahun 2001-2002. Terdapat tujuh sumber mata air utama yang menjadi tumpuan hidup masyarakat, yakni Citarum, Cikahuripan, Cikoleberes, Cihaniwung, Cisadane, Cikawudukan, dan Cisanti.
Dari sanalah mengalir air ke Sungai Citarum adalah urat nadi kehidupan. Citarum menyuplai sebagian besar air bersih untuk warga dan industri di Jawa Barat serta DKI Jakarta, mengairi tiga waduk besar (Saguling, Cirata, dan Jatiluhur) yang menghasilkan listrik untuk jaringan Jawa-Bali serta menjadi sumber pengairan utama bagi ratusan ribu hektar lahan sawah di wilayah Jawa Barat.
"Kalau Citarumnya mengering, Cisantinya mengering, maka industri akan mati. Orang Jawa Barat yang pakai PAM dari Citarum, tidak ada air termasuk Jakarta," ujar Dedi Mulyadi. Dengan vitalnya peran Sungai Citarum itu, Dedi Mulyadi melarang adanya alih fungsi lahan di kawasan hulu di Gunung Wayang. Bahkan, dirinya menginstruksikan agar kawasan yang memang sudah gundul agar ditanami kembali agar sumber air tetap terjaga.