peezycoineth.vip

Berbekal Pinjaman Rp 200 Ribu, Ayah Cari Putranya Usai Banjir Bandang Nepal

2026-09-03 00:00

Sada mengenakan kemeja putih yang telah pudar dan celana hitam. Untuk melindungi diri dari hujan, ia mengenakan kantong plastik oranye layaknya jas hujan. Sebuah ransel abu-abu tersandang di bahunya.

Ia ditemani saudaranya, yang terus mendampinginya dalam perjalanan panjang mencari Vinod, perjalanan yang semakin melelahkan dan membuat mereka frustrasi.

Sada mengeluarkan saputangan kotor dari sakunya. Di dalamnya terselip sejumlah uang kertas kusut yang jika ditotal nilainya kurang dari 2.000 rupee Nepal atau sekitar Rp 230 ribu.

Uang itu merupakan hasil pinjaman yang digunakannya untuk menyusuri berbagai daerah terdampak banjir demi mencari putranya.

"Saya meminjam uang supaya bisa datang jauh-jauh dari Saptari ke sini. Setiap meminjam 100 rupee, saya harus membayar bunga 20 rupee," kisahnya.

Sebagian uang tersebut digunakan Sada dan saudaranya untuk naik bus dari Saptari menuju Kathmandu, ibu kota Nepal.

Jarak kedua tempat itu sekitar 292 kilometer. Namun, karena harus melintasi medan berbukit, perjalanan dengan bus memakan waktu sekitar sembilan jam.

Setibanya di Kathmandu, Sada dan saudaranya mendatangi rumah sakit satu demi satu. Mereka mencari Vinod di antara para penyintas maupun dalam daftar korban yang telah dinyatakan meninggal.

Banyak korban banjir dari wilayah utara Nepal diterbangkan ke Kathmandu untuk mendapat penanganan.

Di luar kamar jenazah, foto-foto korban yang dipajang kerap sulit dikenali. Banyak jenazah yang ditemukan sudah membusuk atau dalam kondisi tidak utuh.

Namun, Sada tak menemukan tanda-tanda keberadaan Vinod. Nama maupun foto putranya juga tidak ditemukan di rumah sakit yang mereka datangi.

Karena itu, Sada melanjutkan pencarian dengan berjalan kaki menuju Nuwakot, hampir 60 kilometer dari Kathmandu. Daerah tersebut lebih dekat dengan lokasi pembangkit listrik tempat Vinod diyakini bekerja.

Setelah berjam-jam berjalan melewati jalan yang rusak, Sada dan saudaranya tiba di Trishuli, sebuah kota yang berada di jalur menuju lokasi tersebut.

Kawasan pasar di kota itu kini tertutup puing, lumpur, dan sisa material yang terbawa banjir.

"Tadi malam, ketika kami sampai di sini, sebuah penginapan meminta bayaran 1.500 rupee Nepal untuk menginap. Kami hanya diberi seporsi kecil nasi yang bahkan tidak cukup untuk menghilangkan rasa lapar," kata Sada.

"Kalau kami harus menginap satu malam lagi di sini, uang saya yang tersisa akan habis. Saya tidak akan punya uang untuk pulang ke rumah."