peezycoineth.vip

Berkat 'Kecoa', Desainer Muda Asal Surabaya Ini Bisa Belajar Fashion di Paris

2026-08-12 12:30

Jakarta -

Tidak pernah bermimpi menjadi desainer mode, Aldri Indrayana justru berhasil membuat karya yang membawanya ke Paris, Prancis. Ada andil kecoa, serta keberaniannya untuk menantang gagasan tentang makna maskulinitas.

Aldri terkejut ketika namanya disebut oleh Fabien Penone, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, sebagai peserta Pintu Incubator 2026 yang terpilih untuk maju ke tahap berikut. Salah satunya mengikuti program studi singkat di sekolah mode Ecole Duperre Paris.

"Congratulation Aldri," ujar Fabien dalam pidato sambutan pada reception night yang digelar di rumah dinasnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, baru-baru ini. Turut hadir dalam acara tersebut Menteri Ekonomi Kreatif Indonesia Teuku Riefky Harsya, delegasi desainer Prancis, dan perwakilan Pintu Incubator.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Koleksi Aldrie Pintu Incubator 2026Reaksi Aldri ketika namanya diumumkan sebagai peserta Pintu Incubator yang terpilih ke Paris. (Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Aldri dengan labelnya yang bernama Aldrie adalah satu dari lima kreator mode yang mengikuti program inkubasi mode besutan JF3 Fashion Festival, Lakon Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis melalui IFI (Institut Francais Indonesie), tersebut.

"Jujur, nggak punya ekspektasi untuk ke Paris saat mendaftar Pintu. Aku pikir cuma ikut bimbingan saja, lalu menampilkan karya di panggung JF3. Aku benar-benar nggak nyangka," kata Aldri kepada Wolipop di sela acara.

Beberapa hari sebelumnya, karya Adri hasil enam bulan pelatihan dan bimbingan bersama para mentor dari pakar mode dan bisnis dari Indonesia dan Prancis, dipresentasikan di runway BRI JF3 Fashion Festival 2026. Bertajuk 'Roach Me, Roach Me Not', koleksi yang terdiri dari lima set busana ini lahir dari pandangannya terhadap karakter pria tangguh yang dibentuk oleh konstruksi sosial.

Koleksi Aldrie Pintu Incubator 2026Koleksi 'Roach Me, Roach Me Not' karya Aldri ditampilkan di BRI JF3 Fashion Festival 2026. (Foto: Dok. JF3)

"Sejak kecil, laki-laki diajarkan untuk kuat dan tidak boleh takut. Padahal ketakutan adalah sifat yang manusiawi," ujar pria 35 tahun itu.

Ia membayangkan, pria yang kuat sekalipun mungkin secara naluriah akan mundur saat melihat seekor kecoa (roach). Serangga tersebut menjadi 'bintang' di koleksi ini dalam bentuk bros yang menghiasi pakaian rancangannya. Aldi menerjemahkannya dalam desain kontemporer dengan menggunakan material beludu berwarna merah, lalu membentuknya dengan screen printing.

Namun, tawaran utama Adri sejatinya adalah bagaimana ia mendefinisikan ulang pakaian resmi. "Aku menyebutnya 'alternative for formal wear'," kata Adri. Pilihan luaran seperti jas atau coat hadir dalam berbagai potongan asimetris, kadang di lapel, sesekali di keliman lengan. Ada tambahan kancing yang menyerupai pin untuk rambut.

Koleksi Aldrie Pintu Incubator 2026 di Jakarta Fashion Festival 2026Foto: Daniel Ngantung/detikcom

Aldri juga bermain dengan elemen ritsleting yang diaplikasikan tak sekadar untuk memberi kesan dekoratif, melainkan untuk keperluan multi-styling. Salah satu jas dapat diubah tampilannya seperti sebuah vest apabila ritsleting di area bahu dibuka.

Untuk bawahan, alih-alih celana panjang, ia lebih banyak menghadirkan celana pendek sebagai opsi untuk acara formal. Dasi tidak dipakai sebagaimana mestinya, tapi menjadi dekorasi bertumpuk yang menghiasi baju dan celana.

Kecoa bukan satu-satunya binatang yang dieksplorasi Aldri. Seorang model menenteng sebuah objek yang tampak seperti boneka gurita. "Itu sebenarnya tas. Ada bukaan di atas, jadi bisa muat benda seperti hape dan sejenisnya," ungkap Aldri.

Koleksi Aldrie Pintu Incubator 2026 di Jakarta Fashion Festival 2026(Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Idenya berawal dari anting gurita yang dirilis Aldri untuk koleksi sebelumnya. Lalu mentor Pintu, Susan Budihardjo (pendiri Lembaga Pengajaran Tata Busana Susan Budihardjo), menyarankan Adri untuk membuatnya dalam bentuk tas.

Aksesori tersebut terbuat dari plastik. Ke depan, ia berencana menggunakan plastik daur ulang sebagai upayanya untuk menekan limbah fashion.

Secara keseluruhan, karya Adri terasa serius, tapi pengemasannya di sisi lain juga dapat mengakomodasi mereka yang ingin bersolek dengan gaya yang jenaka.

Produk keluaran label Aldrie dijual dari harga Rp 650.000 hingga termahal, Rp 5 juta.

Sekolah Teknik Elektro

Perjalanan karier Aldri tidak seperti desainer kebanyakan yang dimulai dengan hobi menggambar semasa kecil. "Dulu aku nggak suka fashion sama sekali. Pas SD, semua nilai pelajaranku 9 di rapor, kecuali seni. Hahaha," kenang pria yang nyentrik dengan rambut merahnya.

Masuk ke jenjang perguruan tinggi, ia memutuskan untuk mengambil studi teknik elektro di Sydney, Australia. Sembari kuliah, Aldri berkesempatan magang di sebuah studio fashion. Di situ, ketertarikannya pada dunia mode mulai tumbuh sampai akhirnya ia ditawari untuk belajar di sekolah bisnis fashion.

"Aku melihat teman-temanku yang bekerja di bidang fashion sangat bekerja keras daripada yang elektro. Rasanya seperti ada apresiasi baru di industri fashion," tuturnya.

Mau serius meniti karier sebagai perancang, Aldri mengikut kursus singkat di London, Inggris, sebelum akhirnya diminta orangtua untuk kembali ke Indonesia. Setelah pulang, desainer yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, ini mendirikan labelnya pada 2015.

Koleksi Aldrie Pintu Incubator 2026 di Jakarta Fashion Festival 2026(Foto: Daniel Ngantung/detikcom)

Usahanya sempat berjalan lancar beberapa tahun sebelum terdampak pandemi yang melemahkan daya belanja konsumen. Saat bisnis landai, Aldri mengisi waktu dengan bekerja sebagai desainer grafis dan beberapa kali mengajar di pelatihan untuk pelaku UMKM yang digelar instansi pemerintah di daerah-daerah.

Label Aldrie tak dibiarkan begitu saja. Ia terus menggodok ide-ide yang potensial untuk membangkitkan kembali jenamanya yang sempat 'tertidur'.

"Setelah menemukan formula yang pas tahun lalu, aku mencoba daftar Pintu," kata Adri yang sebelumnya membuat busana wanita, tapi kini memilih fokus pada koleksi pria.

Adri berpartisipasi pada tahun kelima Pintu Incubator. Di edisi kali ini, peserta Pintu Incubator yang terpilih ke Paris tidak langsung mengikuti trade show internasional yang mempertemukan buyers dengan para desainer atau pemilik jenama dari seluruh dunia.

Menurut Thresia Mareta, pendiri Lakon Indonesia sekaligus salah seorang inisiator Pintu Incubator, berkaca dari pengalaman sebelumnya, peserta Pintu masih perlu mendapat bimbingan lebih lanjut agar produk mereka lebih siap bersaing di pasar global.

Oleh karena itu, Pintu Incubator meluncurkan inisiasi baru bernama Pintu Accelerator. "Setelah mereka ikut Pintu Accelerator dan dirasa sudah matang, baru bisa jualan di trade show," ujarnya.

Pada tahun-tahun sebelumnya, peserta Pintu mengikuti Premiere Classe, salah satu pameran fashion berkonsep B-to-B terbesar di Paris.

Meski belum dapat menjual busana rancangannya, ia tetap berencana menyambangi perhelatan tersebut untuk sekadar memantau. "Aku mau lihat apa yang dicari buyer di sana, dan kira-kira apa yang aku bisa kasih sesuatu yang baru," kata Aldri.

(dtg/dtg)