peezycoineth.vip

BMKG: Penyesuaian pola tanam penting untuk mencegah gagal panen saat El Nino

2026-08-04 07:13

BMKG: Penyesuaian pola tanam penting untuk mencegah gagal panen saat El Nino

Selasa, 4 Agustus 2026 14:13 WIB

Image Print

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani (kanan) didampingi Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto (kiri) memberikan keterangan terkait perkembangan musim kemarau dan penguatan operasi modifikasi cuaca sebagai antisipasi dampak El Nino di Kantor Pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Kamis (30/7/2026). ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/am.

Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menekankan pentingnya penyesuaian pola tanam di wilayah terdampak El Nino untuk mencegah risiko gagal panen akibat berkurangnya curah hujan selama musim kemarau.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan wilayah yang perlu mendapat perhatian terutama daerah di selatan garis khatulistiwa yang memiliki risiko dampak El Nino lebih signifikan, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, Jawa, Sumatera bagian selatan, dan Papua bagian selatan.

"Di sana memang kita harus menyesuaikan untuk memulai periode tanam. Apakah akan dipercepat supaya pada saat mendekati panen itu ketika masuk kemarau tidak mempengaruhi hasil panennya," kata Teuku setelah menghadiri Dialog Nasional tentang Dampak El Nino di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, penyesuaian waktu tanam diperlukan karena kondisi kemarau yang lebih kering dan panjang berpotensi mengganggu produktivitas pertanian.

"Yang kita takutkan adalah ketika terjadi gagal panen atau masyarakat enggan menanam karena menghadapi El Nino ini," ujarnya.

Selain pengaturan waktu tanam, BMKG juga mendorong penggunaan varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi lebih kering selama periode El Nino.

Teuku mengatakan BMKG terus memberikan pendampingan kepada dinas pertanian dan petani melalui Sekolah Lapang Iklim untuk meningkatkan pemahaman mengenai strategi pertanian yang menyesuaikan kondisi cuaca dan iklim.

Ia mengatakan BMKG juga melibatkan penyuluh pertanian lapangan dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan sektor pangan menghadapi perubahan kondisi iklim.

Lebih lanjut, Teuku mengatakan dampak El Nino tidak akan sama di seluruh wilayah Indonesia.

Menurut dia, meskipun El Nino saat ini telah memasuki fase kuat dan berpotensi menjadi sangat kuat, pengaruhnya tetap bergantung pada dinamika atmosfer serta kondisi suhu muka laut di wilayah Indonesia.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan berkurangnya curah hujan akibat El Nino juga dapat berdampak pada berkurangnya pasokan air yang masuk waduk yang dimanfaatkan untuk pertanian, air baku, hingga pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Tri menyebut BMKG bersama pemangku kepentingan terkait melakukan operasi modifikasi cuaca guna meningkatkan pasokan air ke sejumlah waduk.

Ia menambahkan operasi modifikasi cuaca juga dilakukan sebagai upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan dengan menjaga kelembapan kawasan gambut agar tidak mudah terbakar.

BMKG menyatakan El Nino yang mulai aktif pada Juni 2026 telah memasuki fase kuat dan masih berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Namun, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan mengalami musim kemarau sepanjang periode El Nino berlangsung.

Curah hujan pada Agustus hingga September 2026 diperkirakan berada pada kategori rendah hingga sangat rendah sehingga meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah.

Sementara itu, musim hujan diperkirakan mulai berlangsung pada pertengahan Oktober 2026 sehingga pengaruh El Nino terhadap pola hujan di Indonesia diperkirakan semakin berkurang.

Pewarta : Shofi Ayudiana
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.