BP BUMN-InJourney memperkuat daya saing industri perhotelan nasional
BP BUMN-InJourney memperkuat daya saing industri perhotelan nasional
Kamis, 23 Juli 2026 21:32 WIB
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria menggelar pertemuan bersama Direktur Utama InJourney Maya Watono pada Rabu (22/7). (ANTARA/HO-BP BUMN)
Jakarta (ANTARA) - Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) bersama InJourney mengembangkan InJourney Hospitality sebagai operator hotel terbesar kedua di Indonesia setelah bergabungnya 120 hotel BUMN ke dalam InJourney Group untuk memperkuat daya saing industri perhotelan nasional.
“Konsolidasi ini bukan sekadar menggabungkan aset, tetapi membangun operator hotel nasional yang lebih kuat, efisien, dan mampu bersaing di tingkat global,” ujar Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria dalam keterangannya yang dikonfirmasi ANTARA dari Jakarta, Kamis.
Langkah strategis ini merupakan bagian dari program streamlining BUMN yang diharapkan Presiden Prabowo Subianto guna menciptakan pengelolaan BUMN yang lebih efisien, fokus, dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional.
Menurut Dony, konsolidasi tersebut menjadi langkah penting untuk memperkuat daya saing industri perhotelan nasional melalui pengelolaan yang lebih terintegrasi dan efisien.
Transformasi ini, kata dia, tidak hanya memperkuat portofolio aset BUMN di sektor perhotelan, tetapi juga menjadi momentum untuk menghadirkan standar layanan kelas dunia yang berakar pada kekayaan keramahtamahan Nusantara.
Melalui langkah tersebut, BP BUMN bersama Danantara terus mendorong penguatan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
Presiden Prabowo Subianto saat memberikan taklimat pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7), menyatakan uang negara yang dihemat setelah menutup, merger, dan mengonsolidasikan 250 BUMN hingga 31 Juli 2026 mencapai Rp50 triliun.
Penghematan itu, Prabowo melanjutkan, merupakan biaya rutin (overhead cost) yang bisa dihemat karena negara tidak perlu lagi menggaji direksi, komisaris, membayar sewa gedung beserta listriknya, dan pengeluaran lainnya dari 250 BUMN tersebut.
Pada kesempatan itu, Presiden Prabowo kemudian menargetkan pada akhir tahun 2026 ini, jumlah BUMN yang tersisa maksimal 350 BUMN dari semula 1.077 BUMN.
"Mereka (Danantara, red.) menyanggupi," kata Prabowo.
Jika perampingan itu terwujud, Presiden yakin uang yang bisa dihemat dapat mendekati Rp70 triliun sampai Rp80 triliun.
Oleh karena itu, Presiden pun meyakini Danantara merupakan salah satu capaian dalam pemerintahannya.
Pewarta : Putu Indah Savitri
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026