peezycoineth.vip

BPBD Kaltim dan mitra semai garam cegah karhutla - ANTARA News Kalimantan Timur

2026-09-16 17:10

Samarinda (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Timur (BPBD Kaltim) bersama para mitra berkolaborasi menyemai garam di awan untuk mencegah sekaligus memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah setempat.

"Operasi modifikasi cuaca (OMC) atau penyemaian garam sudah dilakukan sejak Selasa, (15/9) kemarin hingga sekarang dengan pesawat Cessna Caravan 208/PK-SNL," ujar Plt Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Kaltim Sugeng Priyanto di Samarinda, Rabu.

Titik penerbangan dilakukan dari Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto Samarinda dengan tiap kali penerbangan membawa NaCl (garam) sekira 1.000 kilogram untuk disemai pada awan. Sedangkan total garam yang disiapkan di bandara tersebut mencapai 60 ton.

Operasi semai garam ini merupakan salah satu upaya penting pemerintah dalam mengurangi dampak kekeringan dan karhutla, selain penanganan dari sisi darat yang terus dilakukan dengan berbagai pihak.

OMC, katanya lagi, dilakukan karena dalam pemadaman karhutla mengalami kesulitan akibat beberapa faktor, antara lain minimnya sumber air di dekat lokasi kebakaran akibat kemarau panjang dengan kondisi lebih kering akibat El Nino.

"Sebab lainnya adalah medan yang sulit dijangkau oleh petugas darat saat memadamkan karhutla, mengingat lokasi yang jauh, terjal bahkan jurang yang mengakibatkan peralatan pemadam tidak bisa menjangkau," katanya.

Ia menyebut bahwa operasi udara menjadi langkah vital untuk memperkuat tim darat di area yang krisis air dan sulit dijangkau. Terlebih fenomena kekeringan akibat El Nino diperkirakan masih akan memicu ancaman karhutla hingga bulan depan.

Dalam operasi ini, tim OMC dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta pihak terkait terus mengamati perkembangan awan. Pesawat langsung terbang jika kondisi mendukung untuk dilakukan penyemaian agar turun hujan. Penyemaian bisa dilakukan kapan saja, bisa pagi, siang, sore, atau malam.

"Dalam hal ini, tim selalu siaga selama 24 jam. Harapannya adalah agar dapat merespons cepat ketika muncul awan yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi hujan melalui teknologi modifikasi cuaca tersebut," kata Sugeng..

Pewarta: Novi Abdi
Editor : M.Ghofar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.