BPBD Pasuruan fokus water bombing padamkan titik api baru Gunung Arjuno - ANTARA News Jawa Timur
Pasuruan, Jawa Timur (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan memfokuskan pemadaman dua titik api baru kebakaran kawasan Gunung Arjuno menggunakan helikopter water bombing.
"Lokasi kebakaran yang sekarang tidak bisa dijangkau lewat darat, makanya pemadaman dilakukan dengan menggunakan helikopter water bombing," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasuruan Sugeng Hariyadi , dalam keterangan diterima di Pasuruan, Senin.
Menurutnya, dua titik api baru tersebut terpantau berada di dua titik koordinat, yakni -7.75848, 112.59563 dan -7.76209, 112.59417, pada tebing bagian utara puncak Gunung Arjuno.
Sugeng mengatakan, kobaran api di kawasan tersebut terus bergerak mengarah ke sisi timur sehingga pengerahan helikopter menjadi opsi utama untuk menekan penyebaran api di medan yang curam.
Ia menjelaskan penerbangan water bombing dilakukan sejak pagi hingga sore hari ini, Senin (24/8), dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan keselamatan penerbangan di kawasan pegunungan.
Menurutnya, penerbangan tidak dilakukan pada malam hari karena keterbatasan jarak pandang, sementara petugas pemadam darat tetap disiagakan untuk memantau perimeter dan dampak pembasahan.
Dirinya menyebut, BPBD Kabupaten Pasuruan bersama Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo terus berkoordinasi dalam mengawal proses pemadaman dari udara serta mengantisipasi munculnya titik panas baru.
Ia menegaskan, sinergi antarlembaga tersebut diperlukan untuk memantau perubahan arah angin yang berpotensi mempercepat rambatan api dan memastikan seluruh kawasan terdampak dapat segera ditangani.
Sugeng menambahkan tim gabungan juga terus memantau kondisi tebing puncak Gunung Arjuno untuk memastikan pembasahan berjalan optimal serta mencegah kebakaran kembali meluas ke kawasan sekitarnya.
"Pemantauan lokasi tebing puncak Gunung Arjuno terus dilakukan hingga situasi dinyatakan bersih dari titik panas," kata Sugeng.
Pewarta: Fahmi Alfian
Editor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.