BPBPK Kalteng terus optimalkan penanganan karhutla
BPBPK Kalteng terus optimalkan penanganan karhutla
Rabu, 23 September 2026 17:32 WIB
Foto udara api membakar hutan dan lahan di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu (9/9/2026). (ANTARA/Bayu Pratama S/nym)
Palangka Raya (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kalimantan Tengah (Kalteng) menekankan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan, tak hanya sekadar berfokus pada pemadaman saja.
"Penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman ketika api sudah muncul, tetapi juga pada upaya pencegahan maupun pembasahan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api," jelas Kalaksa BPB-PK Kalimantan Tengah Ahmad Toyib di Palangka Raya, Rabu.
Selain pemadaman dan patroli, langkah pembasahan menjadi bagian penting dalam penanganan kawasan yang berpotensi terbakar kembali. Upaya tersebut dilakukan untuk menekan potensi munculnya kembali api, terutama pada wilayah dengan karakteristik lahan gambut.
Toyib menegaskan pemprov terus memperkuat penanganan di lapangan dengan mengoptimalkan personel dan sarana prasarana yang tersedia.
"Pemantauan titik panas dan kondisi wilayah kami lakukan secara berkelanjutan, sehingga setiap potensi karhutla dapat segera ditindaklanjuti,” jelasnya.
Berdasarkan data harian Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Provinsi Kalimantan Tengah per 22 September 2026 pukul 18.00 WIB, tercatat 8.093 titik hotspot, dengan 88 kejadian karhutla dan luas area terbakar mencapai 195,57 hektare.
Data tersebut dihimpun berdasarkan pemantauan titik panas dari BRIN dan Sipongi serta laporan kejadian dan luas area terbakar dari kabupaten/kota kepada Pusdalops BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah.
Sejumlah wilayah tercatat memiliki hotspot cukup tinggi. Pulang Pisau mencatat 2.381 hotspot, disusul Kotawaringin Timur 1.292 hotspot, Seruyan 1.288 hotspot, Kapuas 764 hotspot, Kotawaringin Barat 869 hotspot, dan Katingan 460 hotspot.
Sementara itu, dari sisi kejadian, Kotawaringin Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kejadian tertinggi, yakni 18 kejadian dengan luas area terbakar 12,78 hektare. Kapuas tercatat 13 kejadian dengan luas 31,25 hektare, Murung Raya 11 kejadian dengan luas 10,32 hektare, serta Seruyan 11 kejadian dengan luas 31,71 hektare.
Baca juga: Bantuan Pemprov Kalteng dianggap ringankan beban masyarakat Bartim hadapi karhutla
Kondisi tersebut menjadi perhatian BPB-PK Kalteng untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan, khususnya melalui penguatan koordinasi, pemantauan titik panas, patroli serta penanganan di lapangan.
"Kondisi lahan gambut menjadi salah satu tantangan dalam penanganan karhutla karena api dapat menjalar di bawah permukaan dan kembali muncul apabila proses pembasahan tidak dilakukan secara optimal," terangnya.
Oleh karena itu upaya penanganan harus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan seluruh unsur terkait, mulai dari pemerintah daerah, TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat hingga unsur penanggulangan bencana lainnya.
“Kunci penanganan karhutla adalah kecepatan informasi, kecepatan respons dan kesinambungan penanganan. Ketika ada indikasi titik api, kita harus segera bergerak agar tidak berkembang dan meluas,” tegasnya.
Baca juga: Hari Jadi ke-67 Barito Selatan, Gubernur Kalteng pacu sinergi optimalkan pembangunan
Baca juga: Pemkab Barito Utara apresiasi bantuan pangan karhutla dari Pemprov Kalteng
Baca juga: Wagub Kalteng: Pemprov dan pemkab harus bersinergi hadapi kemarau dan karhutla
Pewarta : Muhammad Arif Hidayat
Uploader: Admin 3
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.