peezycoineth.vip

BRIN memperkuat ekosistem riset sel surya untuk dukung proyek pembangunan PLTS - ANTARA News Megapolitan

2026-08-16 08:58

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan pihaknya memperkuat ekosistem riset yang berkenaan dengan listrik bertenaga surya untuk mendukung proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang digagas oleh Presiden RI Prabowo Subianto.

"BRIN terus mendorong terobosan yang melampaui pemanfaatan teknologi panel surya silikon konvensional. Salah satu lompatan teknologi hulu yang kami kembangkan sebagai bagian dari infrastruktur energi masa depan adalah Dye-Sensitized Solar Cells (DSSC)," kata Kepala BRIN kepada ANTARA di Jakarta, Minggu.

Arif menjelaskan keunggulan utama dari teknologi DSSC yang tengah dikembangkan adalah sensitivitasnya yang tinggi, sehingga memungkinkannya untuk dapat dioperasikan dan menghasilkan listrik meskipun berada di dalam ruangan (indoor).

Menurut dia, inovasi ini membuka terobosan baru dalam efisiensi energi bangunan masa depan, di mana cahaya lampu atau pancaran sinar matahari tidak langsung dari jendela sudah cukup untuk memanen energi bersih secara mandiri.

Guna mendukung riset tersebut, Kepala BRIN menuturkan fasilitas berskala internasional telah difungsikan di Serpong, Tangerang Selatan.

"Di kawasan Serpong, kami memiliki pusat rekayasa keteknikan yang secara khusus dilengkapi dengan laboratorium pengujian fotovoltaik," ujar dia.

Arif menyatakan fasilitas ini menjadi tulang punggung bagi para periset BRIN dalam mengembangkan, menguji struktur, dan memastikan keandalan panel surya agar sesuai dan optimal saat diimplementasikan dalam kondisi iklim tropis Indonesia.

Selain itu, Arif mengungkapkan BRIN bersama PLN mengembangkan teknologi Microgrid PLTS terintegrasi Energy Storage yang sesuai kondisi lokal untuk menggantikan PLT Diesel (Program Dedieselisasi), serta PLTS untuk irigasi dan pertanian. 

BRIN juga melakukan riset Teknologi Virtual Power Plant (VPP) atau Pembangkit Listrik Virtual sebagai strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit listrik berbasis fosil di sisi hulu secara signifikan.

"Inovasi ini melahirkan model bisnis kelistrikan baru di mana pelanggan atau pengguna akhir (end-user) energi listrik tidak lagi hanya sekadar menerima pasokan dari hulu, tetapi operator akan berubah fungsi menjadi fasilitator terjadinya jual-beli listrik antarkomunitas," ucap Arif Satria.

Diketahui sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan pemerintah akan membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 30 gigawatt (GW) dan menghentikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sebesar 13 GW pada tahun 2026.

Presiden mengatakan Indonesia memiliki potensi energi surya yang besar karena mendapatkan sinar matahari hampir sepanjang tahun. Kondisi tersebut dinilai dapat dimanfaatkan untuk menyediakan listrik, terutama di wilayah terpencil.

Prabowo mengatakan pemanfaatan PLTS juga dapat memperkuat kemandirian energi nasional karena mengurangi kebutuhan terhadap BBM untuk pembangkit listrik.

Pemerintah menargetkan pembangunan PLTS secara bertahap hingga mencapai kapasitas 100 GW.

"Idealnya, setiap desa bisa memiliki PLTS 1 Megawatt. Kalau desa itu mau siapkan lahan, kita bisa. yakinkan bahwa mereka bisa dapat PLTS 1 MW 1 desa," ucap Presiden Prabowo dalam Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya (14/8).

Pewarta: Sean Filo Muhamad
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.