Bukan Bikin Selera Naik, Ini Alasan Pemilik Resto Haramkan Foto Makanan AI
Jakarta -
Restoran biasanya berlomba bikin foto makanan semenarik mungkin. Namun, gara-gara visual makanan buatan AI yang aneh, sejumlah restoran kini terang-terangan menolaknya.
Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membuat materi promosi restoran hingga foto makanan di retsoran mulai menuai kritik.
Alih-alih tertarik, sebagian konsumen justru merasa terganggu dengan gambar makanan buatan AI yang terlihat tidak realistis. Bahkan banyak yang menyebut foto makanan buatan AI tampak aneh bahkan membuat mereka mual.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal inilah yang membuat sejumlah restoran kini mengambil langkah berbeda. Para pemilik restoran dan chef ramai mengunggah foto sambil memegang tulisan tangan yang menyatakan mereka tidak akan menggunakan AI untuk mempromosikan bisnisnya.
Bukan Bikin Selera Naik, Ini Alasan Pemilik Resto Haramkan Foto Makanan AI Foto: Site News
Dilansir dari Futurism (23/09/2026), tren ini sebelumnya disorot 404 Media. Setelah pemberitaan tersebut, semakin banyak pelaku bisnis kuliner yang ikut menentang penggunaan AI untuk materi dan foto menu restoran. Mereka juga membuat pernyataan serupa melalui media sosial.
Salah satunya pemenang kompetisi masak 'Chopped' sekaligus chef asal South Carolina, Nikko Cagalanan. Ada pula jaringan pizza Sisilia L&B Spumoni Gardens di Brooklyn dan Niu Mama di Phoenix.
Pesan yang mereka tampilkan cukup sederhana. Mereka berfoto dengan secarik kertas bertuliskan kalimat seperti, "Kami tidak akan menggunakan AI untuk mempromosikan bisnis (kuliner) kami."
Bukan Bikin Selera Naik, Ini Alasan Pemilik Resto Haramkan Foto Makanan AI Foto: Site News
Unggahan semacam ini ternyata menarik perhatian besar. Beberapa unggahan dari chef hingga pemilik restoran yang menantang AI ini mendapat ratusan ribu tanda suka dan ratusan komentar.
Fenomena ini muncul setelah penggunaan gambar AI dalam promosi makanan kerap menjadi bahan kritik di media sosial.
Beberapa gambar bahkan menghasilkan visual makanan yang aneh, seperti roti dengan permukaan menyerupai kulit reptil hingga croissant yang bentuknya dianggap mirip larva.
Di awal kemunculan teknologi AI, beberapa pemilik usaha kuliner kerap menggunakan AI sebagai salah satu cara menekan biaya pembuatan materi promosi.
Namun, hasil visual makanan yang tidak menggugah selera justru memicu komentar negatif terhadap sejumlah bisnis kuliner lokal.
Penggunaan AI juga menjadi isu tersendiri di dunia kuliner. Makanan dan proses memasak selama ini erat dengan kreativitas manusia serta nilai budaya.
Sementara gambar yang dihasilkan AI dinilai sebagian orang tidak selalu mampu menggambarkan makanan secara meyakinkan.
Foto Makanan AI Foto: Site News
Media internasional seperti The New Yorker turut menyoroti fenomena tersebut. Mereka menggambarkan penggunaan gambar makanan AI sebagai sesuatu yang dapat memberikan kesan buruk terhadap kualitas makanan yang dijual, meski persepsi tersebut tidak serta-merta menunjukkan kondisi makanan sebenarnya.
Sebaliknya, pernyataan sederhana untuk tidak menggunakan AI justru mendapat sambutan positif dari sejumlah pengguna media sosial.
"Beginilah cara memancing perhatian," komentar seorang netizen pada foto Cagalanan yang memegang tulisan tersebut. Sementara beberapa netizen lain setuju bahwa foto makanan asli jauh lebih menarik dibanding foto makanan AI.
(sob/adr)