peezycoineth.vip

Bukan Sekadar Adaptasi, Avatar The Last Airbender di Netflix Tunjukkan Kekuatan Pasar Nostalgia

2026-07-21 15:42

Pengamat industri perfilman, Satrio Pamungkas, mengatakan, karya yang telah memiliki banyak penggemar memberi rasa percaya diri lebih besar kepada produsen untuk menghadirkannya kembali.

"Nostalgia dalam seni hiburan itu pasti, bahkan sangat kuat. Apalagi kalau sebuah karya memang sudah mempunyai basis penonton yang banyak," kata Pepo, sapaan akrabnya, Selasa (21/7/2026).

"Termasuk Dragon Ball, Doraemon, atau apa pun yang mempunyai basis penggemar luar biasa. Apalagi The Last Airbender, sejak awal memang sudah memiliki basis penonton yang besar," lanjutnya.

Baca Juga: YouTube Rilis Avatar AI, Kreator Bisa 'Menggandakan Diri' Tanpa Rekam Video

Pepo, yang juga akademisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) berpendapat bahwa industri akan melihat apakah penonton lama masih dapat ditarik kembali. Menurutnya, adaptasi juga menjadi cara untuk memperkenalkan cerita tersebut kepada generasi penonton baru.

Namun, ia menilai mengandalkan nama besar saja tidak cukup. Ia melihat versi baru tetap harus mempunyai daya tarik yang membedakannya dari karya sebelumnya.

"Industri pasti melihat bagaimana pasar sebelumnya, yang sudah mempunyai konsumen atau penonton dalam jumlah banyak, dicoba untuk dihadirkan kembali," ujar Pepo.

"Tetapi, tetap harus ada unique selling point yang bisa menghadirkan kembali penonton lama sekaligus memperoleh penonton yang lebih banyak," sambungnya menambahkan.

Dalam format serial yang tayang di Netflix, Avatar: The Last Airbender dinilai memiliki ruang lebih besar untuk membangun hubungan antara penonton dan karakter.

Baca Juga: Dukung Ekosistem Perfilman Tanah Air Bersama Acha Septriasa, Avatar Media Diluncurkan

Pepo menilai, cerita yang lebih panjang membuat perkembangan tokoh dapat diikuti secara bertahap sehingga ini pembeda dengan format film tunggal yang mempunyai durasi lebih terbatas.

"Melalui serial, kita menjadi lebih terikat, lebih dekat, dan lebih pekat dalam mengikuti cerita maupun tokoh-tokoh lain di luar tokoh utama," katanya.

Ia menambahkan, perbedaan antara versi animasi dan live action merupakan konsekuensi dari proses adaptasi. Penyederhanaan alur dan karakter dibutuhkan agar cerita sesuai dengan durasi serta medium yang digunakan.

"Itulah uniknya adaptasi. Tidak harus sama karena ada pengembangan. Perubahan itu merupakan bagian dari keindahan seni ketika sebuah karya berpindah dari bentuk seni yang satu menjadi bentuk seni yang baru," jelas Pepo.

Bagi industri, basis penggemar yang sudah terbentuk pada akhirnya mengurangi ketidakpastian pasar. Produsen tidak sepenuhnya memulai dari nol karena nama, karakter, dan dunia ceritanya telah dikenal publik.

Baca Juga: Avatar Season 3 Fire and Ash: Jadwal Rilis, Bocoran Sinopsis, dan Fakta Baru!

"Kepercayaan diri itulah yang kemudian menumbuhkan keyakinan dari sisi finansial dan industri untuk menciptakan sebuah produk baru, yaitu versi live action," kata Pepo.