peezycoineth.vip

Bukan Sekadar Bertanding, YESIST12 2026 Tantang Inovator Muda Ciptakan Dampak Nyata |Republika Online

2026-10-03 09:14

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Sebuah kompetisi inovasi mungkin selesai ketika pemenang diumumkan. Namun, bagi Universitas Nusa Mandiri (UNM), cerita IEEE YESIST12 2026 justru seharusnya baru dimulai setelah panggung kompetisi berakhir.

Pesan itu disampaikan Rektor Universitas Nusa Mandiri, Prof Dr Dwiza Riana, saat menyambut para peserta dan tamu undangan IEEE YESIST12 2026 di Indonesia, yang digelar di BSI Convention Center, Bekasi, Jumat (2/10/2026). UNM di tahun ini menjadi host dalam penyelenggaraan Yesist12 yang diselenggarakan di Indonesia.

Menurut Prof Dwiza, YESIST12 tidak semestinya dipandang hanya sebagai ajang untuk mencari siapa yang paling unggul dalam menghasilkan sebuah inovasi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang global yang mempertemukan generasi muda, teknologi, inovasi, dan tanggung jawab sosial.

“YESIST12 jauh lebih dari sekadar kompetisi. Ini adalah platform global tempat generasi muda, teknologi, inovasi, dan tanggung jawab sosial bersatu,” ujar Prof. Dwiza, Jumat.

Melalui pembelajaran berbasis praktik, kolaborasi internasional, pengembangan keterampilan, pembentukan tim, pengembangan produk hingga kewirausahaan, YESIST12 mendorong anak muda untuk membawa gagasan keluar dari kepala dan mengujinya menjadi sesuatu yang bisa digunakan.

Bagi Prof Dwiza, titik pentingnya bukan berhenti pada lahirnya sebuah ide. Tantangan berikutnya adalah bagaimana ide tersebut berkembang menjadi solusi yang pada akhirnya memberi manfaat bagi masyarakat.

Pandangan itu juga menempatkan perguruan tinggi pada peran yang lebih luas. Kampus, menurutnya, tidak cukup hanya menjadi tempat berlangsungnya transfer pengetahuan. Pendidikan tinggi perlu ikut membentuk generasi yang mampu membaca persoalan, mencari solusi, membangun inovasi, dan bekerja bersama lintas batas.

“Misi ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa dan tanggung jawab perguruan tinggi dalam mempersiapkan generasi muda kita menghadapi masa depan,” katanya.

Ia menilai Indonesia memiliki modal yang cukup kuat untuk mengambil peran lebih besar dalam ekosistem inovasi sosial berbasis teknologi. Mulai dari populasi generasi muda yang besar, ekosistem digital yang terus berkembang, beragam persoalan sosial, hingga komunitas pendidikan tinggi yang dapat menjadi ruang tumbuh bagi inovasi.

Namun, ada satu pertanyaan yang menurutnya jauh lebih penting daripada sekadar apa yang terjadi selama YESIST12 2026, “Apa yang akan berlanjut setelah YESIST12 2026?”

Pertanyaan tersebut menyentuh sisi yang lebih panjang dari sebuah kompetisi. Apakah kolaborasi internasional yang terbentuk selama kegiatan dapat terus berjalan? Apakah mahasiswa dari berbagai negara masih akan mengembangkan gagasan bersama? Apakah prototipe yang dihasilkan dapat berkembang menjadi produk nyata? Dan apakah perguruan tinggi bersama industri dapat membawa inovasi tersebut untuk menjawab persoalan di masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan itu sekaligus menjadi tantangan bagi para inovator muda yang hadir dalam YESIST12 2026.

Prof Dwiza mengingatkan agar peserta tidak menjadikan kompetisi sebagai satu-satunya tujuan. Pertemuan dengan peserta dari negara lain, pertukaran gagasan, proses belajar, hingga kesempatan membangun jejaring merupakan bagian penting dari pengalaman yang mereka bawa pulang.

“Gunakan kesempatan ini tidak hanya untuk bertanding, tetapi juga untuk terhubung dengan orang lain, bertukar ide, saling belajar, menantang diri sendiri, dan yang terpenting, menciptakan sesuatu yang berarti,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan bahwa inovasi tidak selalu harus hadir dalam skala besar untuk disebut berdampak. Sebuah teknologi yang mampu membantu satu komunitas, menyelesaikan satu persoalan bermakna, atau memperbaiki kehidupan satu orang, menurutnya, sudah menjadi awal dari perubahan.

“Inovasi Anda tidak harus mengubah seluruh dunia dalam semalam. Jika teknologi Anda dapat meningkatkan satu komunitas, menyelesaikan satu masalah bermakna, atau memperbaiki kehidupan satu orang saja, Anda telah mulai menciptakan dampak nyata,” katanya.

Keterlibatan UNM dalam YESIST12 2026 sekaligus menjadi bagian dari komitmen kampus terhadap kolaborasi internasional dan inovasi generasi muda. Dalam kesempatan tersebut, Prof Dwiza turut menyampaikan apresiasi kepada Universitas Bina Sarana Informatika dan Yayasan Bina Sarana Informatika yang menyediakan kampus dan fasilitas untuk penyelenggaraan IEEE YESIST12 2026.

Ia juga mengapresiasi dukungan Yayasan Indonesia Nusa Mandiri serta kolaborasi berbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Sebab, seperti yang ditekankan Prof Dwiza, inovasi tidak tumbuh sendirian. Ia membutuhkan ruang untuk diuji, orang lain untuk diajak berdiskusi, serta kolaborasi untuk membuatnya bergerak lebih jauh.

“Inovasi hebat tidak tumbuh dalam isolasi. Inovasi hebat tumbuh melalui kolaborasi,” tegasnya.

Pada akhirnya, YESIST12 2026 bukan hanya tentang siapa yang membawa pulang penghargaan. Ada cerita yang lebih panjang tentang bagaimana anak muda dari berbagai latar belakang bertemu, menguji gagasan, menemukan persoalan yang ingin diselesaikan, lalu mencoba membawa teknologi lebih dekat dengan kebutuhan manusia.

Dan mungkin, ukuran keberhasilan sebuah kompetisi inovasi bukan hanya berapa banyak piala yang dihasilkan di akhir acara, melainkan berapa banyak gagasan yang tetap hidup ketika panggungnya sudah selesai.

Bersama-sama, semangat YESIST12 2026 diarahkan untuk mengubah ide menjadi inovasi, lalu membawa inovasi tersebut menjadi dampak nyata.

_kata kunci: yesist12_