peezycoineth.vip

CNG Clustering Dinilai Jadi Tahap Awal Konversi LPG 3 Kg |Republika Online

2026-09-25 03:59

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Pengembangan CNG Merah Putih sebagai alternatif LPG 3 kilogram dinilai perlu dimulai secara selektif melalui pendekatan clustering. Model ini memungkinkan pemerintah menguji kesiapan pasokan gas, infrastruktur, keekonomian, dan keselamatan sebelum konversi diperluas ke wilayah lain.

Kepala Pusat Energi dan Pangan Indef Abra Talattov mengatakan, pemanfaatan gas bumi domestik berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor sekaligus memperluas pasar gas nasional. Namun, CNG tidak dapat langsung menggantikan LPG 3 kilogram di seluruh Indonesia.

“Pengembangan CNG untuk rumah tangga merupakan peluang yang perlu didorong. Ketergantungan terhadap LPG impor membuat Indonesia rentan terhadap perubahan harga internasional, nilai tukar, dan gangguan rantai pasok,” ujar Abra dalam keterangan yang diterima pada Jumat (25/9/2026).

Menurut Abra, pendekatan CNG clustering dapat menjadi model transisi awal karena mengintegrasikan sumber gas, fasilitas kompresi dan pengisian, sistem pengangkutan, serta konsumen dalam satu wilayah layanan. Konsentrasi kegiatan dalam satu klaster dapat menekan biaya logistik dan mempermudah pengawasan, sekaligus memungkinkan pemerintah menguji keandalan rantai pasok dalam skala terkendali.

“Pemerintah sebaiknya memulai dari klaster yang paling siap. Setiap klaster harus memiliki sumber gas yang jelas, jarak distribusi relatif pendek, konsumen yang memadai, dan infrastruktur pendukung yang tersedia,” jelas Abra.

Klaster awal, lanjut dia, perlu diprioritaskan di wilayah yang dekat dengan sumber gas, fasilitas pemrosesan, jaringan pipa, atau fasilitas distribusi yang telah tersedia. Pemilihan lokasi tidak cukup hanya berdasarkan jumlah rumah tangga penerima LPG 3 kilogram, tetapi juga perlu memperhitungkan jarak angkut, kepadatan konsumen, kondisi jalan, dan akses terhadap titik penukaran tabung.

“Klaster yang ideal memiliki pasokan cukup, jarak angkut pendek, permintaan terkonsentrasi, dan akses distribusi yang baik. Kombinasi itu penting agar fasilitas CNG dapat dimanfaatkan secara optimal,” kata Abra.

Menurut dia, kebutuhan rumah tangga juga dapat digabungkan dengan permintaan dari UMKM, pasar tradisional, rumah makan, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas publik. Konsumen pengguna utama dapat membantu menciptakan volume permintaan yang stabil sehingga utilisasi fasilitas pengisian dan kelayakan investasi tetap terjaga.

Namun, penambahan konsumen pengguna utama tidak boleh mengurangi prioritas pasokan kepada rumah tangga. Alokasi gas untuk setiap kelompok pengguna perlu ditetapkan secara jelas, termasuk penyediaan cadangan untuk menghadapi kenaikan permintaan atau gangguan distribusi.

“Indikator utamanya adalah kontinuitas pasokan, keterjangkauan harga, kemudahan akses, dan keselamatan,” ujar Abra.

Setiap klaster awal juga perlu diperlakukan sebagai proyek percontohan sebelum program diperluas. Pemerintah perlu mengevaluasi biaya distribusi, harga akhir, waktu pengisian ulang, kemudahan penggunaan, penerimaan konsumen, dan insiden keselamatan.

Hasil evaluasi tersebut perlu dibuka secara transparan sebagai dasar pengambilan keputusan. Klaster yang berhasil dapat direplikasi di wilayah dengan karakteristik serupa, sedangkan klaster yang belum memenuhi aspek keekonomian atau keselamatan perlu diperbaiki terlebih dahulu.

Abra menilai penerapan CNG clustering sebaiknya ditempatkan sebagai proses transisi, bukan penggantian LPG 3 kilogram secara mendadak. LPG tetap perlu tersedia sampai pasokan CNG terbukti andal dan fasilitas distribusinya mudah dijangkau masyarakat.

Masa transisi juga diperlukan agar masyarakat dapat menyesuaikan perangkat dan kebiasaan penggunaan energi. Konsumen perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan serta mendapatkan edukasi dan akses terhadap layanan pengaduan.

“Transisi tidak boleh menambah beban rumah tangga miskin dan usaha mikro. Perhitungan harga harus mencakup biaya tabung, penyesuaian kompor, regulator, transportasi, serta waktu untuk memperoleh pasokan,” tegas Abra.

Aspek keselamatan menjadi persyaratan penting karena CNG disimpan pada tekanan tinggi. Tabung, katup, regulator, fasilitas pengisian, kendaraan pengangkut, dan tempat penyimpanan perlu memenuhi standar serta sertifikasi.

Setiap tabung juga perlu memiliki identitas yang dapat ditelusuri untuk memantau usia pakai, inspeksi, dan riwayat perawatan. Operator harus menarik dan mengganti tabung yang rusak atau tidak lagi memenuhi standar, sementara konsumen perlu mendapat demonstrasi penggunaan, penyimpanan, tanda gangguan, dan prosedur keadaan darurat.

Pada sisi pasokan, Abra mengatakan setiap klaster perlu memiliki alokasi, kontrak pasokan, dan rencana cadangan yang jelas. Pemerintah juga membutuhkan neraca gas regional untuk menentukan lokasi prioritas sekaligus menjaga keseimbangan dengan kebutuhan industri, kelistrikan, pupuk, dan sektor lainnya.

“Peta jalan CNG harus memuat sumber pasokan, kebutuhan investasi, model distribusi, standar keselamatan, perlindungan konsumen, dan jadwal evaluasi,” kata Abra.