peezycoineth.vip

Counter-Pressing Spanyol vs Serangan Argentina yang Berpusat pada Messi

2026-07-19 12:50

Pemain Spanyol Mikel Oyarzabal merayakan gol bersama rekan setimnya Lamine Yamal

Perbesar

Pemain Spanyol Mikel Oyarzabal merayakan gol bersama rekan setimnya Lamine Yamal, kiri, setelah mencetak gol dalam laga Grup H Piala Dunia 2026 antara Spanyol vs Arab Saudi di Atlanta, Minggu, 21 Juni 2026. (AP Photo/Erik S.Lesser)

Liputan6.com, Jakarta - Spanyol mencapai final Piala Dunia 2026 dengan identitas yang berbeda dari banyak tim juara sebelumnya. La Roja tidak hanya mengandalkan penguasaan bola, tetapi juga menjadikan transisi bertahan sebagai fondasi utama untuk mengendalikan pertandingan.

Di sisi lain, Argentina melangkah ke partai puncak melalui pendekatan yang lebih fleksibel. Lionel Scaloni membangun tim yang mampu memaksimalkan kualitas Lionel Messi sebagai pusat kreativitas sekaligus penyelesai serangan.

Perbedaan filosofi itu menjadi salah satu cerita terbesar menjelang final Piala Dunia 2026. Bukan sekadar adu kualitas individu, laga ini mempertemukan dua cara berbeda dalam memahami dan memainkan sepak bola modern.

Counter-Pressing Menjadi Identitas Baru Spanyol

Marc Cucurella

Perbesar

Marc Cucurella dari Spanyol merayakan gol keempat timnya, yang tercipta melalui gol bunuh diri Hassan Al-Tambakti (#5) dari Arab Saudi, dalam pertandingan Grup H Piala Dunia FIFA 2026 antara Spanyol melawan Arab Saudi di Stadion Atlanta, pada 21 Juni 2026 di Atlanta, Georgia. (Foto: Florencia Tan Jun/Getty Images/AFP)

Menurut anggota FIFA Technical Study Group, Gilberto Silva, kekuatan Spanyol tidak hanya terlihat saat menguasai bola. Juara Piala Dunia 2002 bersama Brasil itu menilai La Roja memiliki kemampuan luar biasa ketika kehilangan penguasaan.

"Dalam penguasaan bola, Spanyol sangat sabar dan presisi. Mereka tidak pernah terburu-buru menyerang serta terus menggerakkan pemain sayap dari satu sisi ke sisi lain," kata Gilberto Silva.

Kesabaran tersebut membuat ruang di tengah perlahan terbuka sebelum dimanfaatkan pemain depan. Pola itu terus diulang hingga Spanyol menemukan momen terbaik untuk menyerang.

Gilberto Silva juga memberikan apresiasi terhadap reaksi cepat para pemain Spanyol setelah kehilangan bola. "Tanpa penguasaan bola, Spanyol tampil luar biasa dalam counter-pressing. Saat kehilangan bola, satu, dua, tiga pemain langsung mengejarnya sehingga lawan sangat kesulitan membangun permainan."

Kecepatan merebut kembali bola menjadi salah satu alasan Spanyol hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen. Data FIFA juga menempatkan mereka sebagai salah satu tim dengan waktu pemulihan penguasaan bola tercepat di Piala Dunia 2026.

Argentina Membangun Permainan untuk Messi

Lionel Messi

Perbesar

Selebrasi kapten Argentina, Lionel Messi, saat laga 16 besar Piala Dunia 2026 kontra Mesir di Stadion Atlanta, Georgia, Selasa (7/7/2026) malam. (Elsa/Getty Images/AFP)

Jika Spanyol membangun sistem kolektif, Argentina justru menyusun permainan agar Lionel Messi selalu berada pada posisi paling berbahaya. Pendekatan tersebut mendapat perhatian dari Tobin Heath yang juga menjadi anggota FIFA Technical Study Group.

"Salah satu hal yang sangat disukai Argentina adalah menciptakan keunggulan jumlah pemain di area tengah maupun sisi lapangan. Semua itu dilakukan agar Messi mendapatkan bola dalam situasi terbaik," ujar Heath.

Argentina kerap memenuhi satu sisi lapangan untuk menarik konsentrasi lawan. Setelah ruang terbuka, bola segera dialirkan kepada Messi atau dipindahkan ke sisi lain yang lebih longgar.

Heath menilai hampir seluruh serangan Argentina memiliki tujuan yang sama. "Apa pun polanya, tujuannya tetap satu, yaitu memberikan bola kepada Messi."

Adu Ide di Final Piala Dunia

Lionel Messi

Perbesar

Kapten Argentina Lionel Messi merayakan gol ke gawang Austria pada laga Grup J Piala Dunia 2026 di Dallas Stadium, Selasa (23/6/2026) dini hari WIB. (AFP/Charlotte Wilson

Argentina juga memiliki pendekatan yang berbeda saat bertahan. Messi tetap berada di area depan sehingga tidak dibebani pekerjaan defensif yang berlebihan.

Menurut Heath, cara tersebut membuat Argentina mampu mengubah bertahan menjadi menyerang hanya dalam beberapa detik. Ketika bola berhasil direbut, Messi sudah berada pada posisi ideal untuk memulai serangan berikutnya.

Final Piala Dunia 2026 akhirnya menjadi panggung bagi dua filosofi yang sama-sama berhasil membawa tim menuju pertandingan terakhir. Spanyol mengandalkan kontrol melalui counter-pressing, sedangkan Argentina bertumpu pada kebebasan Messi untuk mengubah satu momen menjadi peluang yang menentukan.

Sumber: FIFA

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Rodri Ungkap 2 Cara Spanyol Meredam Lionel Messi