Cuaca Ekstrem Pernah Terjadi 800 Tahun Lalu, Sekarang Lebih Ngeri!
Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
26 July 2026 20:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang panas yang berlangsung selama empat bulan, kekeringan berkepanjangan, gagal panen, hingga wabah penyakit ternyata bukan fenomena yang baru muncul pada abad ke-21.
Catatan sejarah menunjukkan rangkaian peristiwa serupa pernah melanda Inggris pada abad ke-13, saat dunia berada dalam periode yang dikenal sebagai Medieval Climate Anomaly atau Anomali Iklim Abad Pertengahan.
Melansir artikel The Conversation yang ditulis oleh sejarawan iklim Philip Slavin dari University of Stirling, periode tersebut berlangsung sekitar abad ke-10 hingga ke-13. Suhu di berbagai wilayah dunia saat itu berada sekitar 0,3-1,0 derajat Celsius lebih tinggi dibanding rata-rata periode 1960-1990.
Kenaikan suhu ketika itu dipicu oleh faktor alami. Intensitas radiasi Matahari meningkat sehingga lebih banyak energi mencapai permukaan Bumi. Aktivitas gunung api global juga relatif rendah, sehingga tidak banyak aerosol vulkanik yang memantulkan sinar Matahari dan mendinginkan atmosfer.
Inggris Dilanda Kekeringan Berbulan-bulan
Salah satu catatan paling rinci berasal dari Inggris pada 1252. Biarawan Benediktin Matthew Paris menulis bahwa wilayah tersebut mengalami "panas dan kekeringan yang tak tertahankan" sejak Maret hingga Juli. Selama empat bulan hampir tidak ada hujan maupun embun.
Catatan serupa muncul dalam Tewkesbury Annals. Para biarawan menggambarkan rumput mengering hingga hancur menjadi debu ketika diremas dengan tangan.
Kronik sejarah Wales (Brut y Tywysogion) mencatat kondisi yang sama. Pohon buah gagal menghasilkan panen, tanaman di ladang mengering, sementara hasil tangkapan ikan di sungai maupun laut ikut merosot.
Dokumen administrasi pertanian milik Bishopric of Winchester memperkuat gambaran tersebut. Tanah menjadi sangat keras sehingga petani tidak mampu membajak sawah selama enam minggu.
Produksi pangan pun terganggu. Padang rumput menghilang sehingga ternak kehilangan pakan. Populasi kutu, lalat, dan agas meningkat tajam, diikuti penyebaran berbagai penyakit. Daerah rawa di Inggris bahkan mencatat kemunculan malaria yang saat itu dikenal sebagai ague atau sweats.
Musim panas yang sangat kering pada 1212 juga ikut memperparah Great Fire of Southwark di London, salah satu kebakaran kota terbesar pada masa itu yang menewaskan ribuan orang.
Dampaknya Berbeda di Tiap Wilayah
Anomali iklim tersebut tidak menghasilkan dampak yang sama di seluruh dunia.
Di Atlantik Utara, mencairnya es membuka jalur pelayaran baru bagi bangsa Norse. Mereka membangun permukiman di Islandia dan Greenland, bahkan mencapai Vinland yang kini menjadi Newfoundland di Kanada.
Inggris bagian tenggara juga menjadi cukup hangat untuk mengembangkan kebun anggur. Dalam Domesday Book tahun 1086 tercatat sekitar 45 kebun anggur beroperasi di wilayah tersebut.
Sebaliknya, wilayah Amerika bagian barat mengalami penurunan curah hujan karena pergeseran sirkulasi air hangat di Samudra Pasifik. Kekeringan panjang memicu kebakaran hutan besar di Pegunungan Rocky.
Di Amerika Tengah, kombinasi kekeringan, deforestasi, dan degradasi lingkungan ikut mempercepat kemunduran Peradaban Maya Klasik.
Pertanian dan Ekonomi Sempat Berkembang
Meski memicu bencana di sejumlah kawasan, kondisi yang lebih hangat memberikan keuntungan bagi sebagian wilayah Eropa Utara dan Asia.
Musim tanam menjadi lebih panjang sehingga ekspansi pertanian berlangsung luas. Produksi pangan meningkat dan mendorong pertumbuhan penduduk.
Data sejarah yang dikutip Slavin menunjukkan populasi Eurasia hanya bertambah dari sekitar 167 juta menjadi 178 juta jiwa pada periode 600-900. Dalam rentang 900-1200, jumlah tersebut melonjak hampir dua kali lipat menjadi sekitar 324 juta jiwa.
Pertumbuhan produksi pertanian ikut mempercepat perdagangan dan penggunaan uang. Banyak sejarawan menyebut periode ini sebagai awal revolusi komersial di Eropa abad pertengahan.
Kondisi tersebut tidak berlangsung selamanya.
Pada paruh kedua abad ke-13, iklim kembali berubah drastis. Letusan gunung api besar pada 1257 menyelimuti atmosfer dengan debu vulkanik yang menurunkan suhu global dan memicu gagal panen.
Memasuki awal abad ke-14, curah hujan meningkat tajam disertai suhu yang lebih dingin. Tanaman tidak sempat matang sebelum masa panen.
Rangkaian peristiwa itu memuncak dalam Great Famine 1315-1317 yang diperkirakan menewaskan sekitar 10% populasi Eropa.
Apa Bedanya dengan Pemanasan Global Saat Ini?
Menurut Slavin, kesamaan antara masa lalu dan sekarang terletak pada dampaknya. Kekeringan, kebakaran hutan, penyebaran penyakit, hingga gangguan produksi pangan muncul ketika suhu meningkat dalam periode yang panjang.
Perbedaannya berada pada penyebabnya.
Anomali Iklim Abad Pertengahan merupakan fenomena regional yang dipengaruhi proses alami seperti perubahan radiasi Matahari, aktivitas gunung api, dan dinamika sirkulasi atmosfer.
Pemanasan global saat ini berlangsung hampir di seluruh dunia dan didorong terutama oleh emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia. Laju kenaikan suhunya juga jauh lebih cepat dibanding perubahan iklim alami pada masa lalu.
Catatan sejarah tersebut memberi gambaran bahwa perubahan iklim mampu mengubah kondisi ekonomi, kesehatan, hingga ketahanan pangan dalam waktu yang relatif singkat. Bedanya, masyarakat modern memiliki teknologi pemantauan cuaca, sistem peringatan dini, layanan pemadam kebakaran, dan penyebaran informasi yang jauh lebih baik dibanding masyarakat abad pertengahan.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Add
as a preferred
source on Google