Daftar Negara Eksportir Pupuk Terbesar di Dunia, Ada Indonesia?
Salma Laiqa, CNBC Indonesia
27 September 2026 12:50
Jakarta, CNBC Indonesia - Pupuk menjadi salah satu komoditas strategis di balik keberlangsungan produksi pangan dunia. Namun, perdagangan pupuk global ternyata sangat terkonsentrasi dan hanya dikuasai segelintir negara.
Data terbaru Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan ekspor pupuk dunia mencapai sekitar 113,3 juta ton pada 2024. Empat eksportir terbesar yakni Rusia, Kanada, Maroko, dan China menguasai lebih dari separuh perdagangan pupuk global.
Rusia berada di posisi teratas dengan ekspor mencapai 23,2 juta ton, disusul Kanada 14,4 juta ton, Maroko 12,2 juta ton, dan China 10,1 juta ton. Amerika Serikat berada di posisi kelima dengan 6,4 juta ton.
Data tersebut menggabungkan ekspor tiga unsur utama pupuk, yakni nitrogen, fosfor, dan kalium atau potash. Angka ekspor dihitung berdasarkan kandungan nutrisi, bukan berat keseluruhan produk pupuk. Karena itu, angka tersebut tidak bisa langsung disamakan dengan volume tonase produk pupuk dalam laporan perusahaan.
Rusia Kok Bisa Nomer 1?
Dominasi Rusia tidak terlepas dari kombinasi sumber daya energi dan mineral yang dimilikinya.
Produksi pupuk nitrogen sangat bergantung pada amonia, sementara produksi amonia membutuhkan energi dalam jumlah besar dan hidrogen yang umumnya berasal dari gas alam. Rusia memiliki sumber gas alam yang besar sehingga memiliki keunggulan biaya dalam memproduksi pupuk berbasis nitrogen dalam skala besar.
Namun, kekuatan Rusia tidak hanya berasal dari gas. Data US Geological Survey (USGS) menunjukkan Rusia pada 2024 merupakan produsen potash terbesar kedua dunia, dengan sekitar 21% produksi global. Rusia juga menjadi produsen nitrogen terbesar kedua dengan pangsa sekitar 9,6%, serta produsen batuan fosfat terbesar keempat dengan pangsa sekitar 6%.
Artinya, Rusia memiliki basis produksi pada hampir seluruh rantai utama industri pupuk, mulai dari nitrogen, kalium, hingga fosfat.
Besarnya kapasitas tersebut tercermin dari kebijakan ekspor Rusia. Pemerintah Rusia bahkan menetapkan kuota ekspor pupuk mineral sekitar 19,2 juta ton untuk periode Desember 2024-Mei 2025, terdiri dari sekitar 11,2 juta ton pupuk nitrogen dan hampir 8 juta ton pupuk majemuk. Kebijakan tersebut ditujukan untuk memastikan kebutuhan domestik tetap terpenuhi di tengah besarnya kapasitas ekspor.
Kanada dan Maroko Punya 'Harta Karun' Sendiri
Berbeda dengan Rusia, posisi Kanada terutama ditopang cadangan potash yang sangat besar, khususnya di Saskatchewan.
Pada 2024, ekspor pupuk berbasis kalium Kanada mencapai sekitar 22,9 juta ton produk, dengan Amerika Serikat menjadi tujuan terbesar. Indonesia juga menjadi salah satu pasar penting, menerima sekitar 1,25 juta ton pupuk potash Kanada pada tahun tersebut.
Maroko memiliki keunggulan berbeda. Negara tersebut merupakan salah satu pusat produksi batuan fosfat dunia. Pada 2024, Maroko menjadi eksportir pupuk fosfat terbesar dengan pengiriman sekitar 5,14 juta ton produk, jauh di atas China yang berada di posisi berikutnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan dalam perdagangan pupuk sangat ditentukan oleh akses terhadap bahan baku. Negara dengan cadangan mineral besar atau energi murah memiliki keunggulan yang sulit ditiru negara lain.
Indonesia Negara Pertanian, Tapi Cuma Nomor 23
Di tengah besarnya sektor pertanian nasional, posisi Indonesia dalam perdagangan pupuk global masih relatif jauh dari kelompok teratas.
Berdasarkan data FAO, Indonesia berada di peringkat ke-23 eksportir pupuk dunia pada 2024, dengan ekspor sekitar 748.316 ton berdasarkan kandungan nutrisi.
Posisi tersebut cukup menarik mengingat pertanian masih memiliki peran besar dalam perekonomian nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sekitar 12,61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2024. Khusus pertanian, peternakan, perburuan, dan jasa pertanian kontribusinya mencapai sekitar 9,52%.
Indonesia sebenarnya memiliki industri pupuk yang besar. Pupuk Indonesia Group memiliki kapasitas produksi pupuk sekitar 14,65 juta ton per tahun, terdiri dari urea 9,36 juta ton, NPK 4,52 juta ton, ZA 750 ribu ton, dan ZK 20 ribu ton.
Namun, besarnya produksi tersebut tidak otomatis menjadikan Indonesia eksportir besar. Salah satu alasannya adalah prioritas pemenuhan kebutuhan dalam negeri, terutama mendukung program ketahanan pangan nasional.
Indonesia Masih Bergantung Terhadap Bahan Baku Impor
Indonesia memiliki kapasitas kuat pada pupuk nitrogen seperti urea, tetapi masih bergantung pada impor untuk sejumlah bahan baku, terutama potash. Pada 2024, Indonesia mengimpor pupuk potash senilai sekitar US$1,02 miliar, terutama dari Kanada dan Rusia.
Kondisi ini menunjukkan bahwa besarnya sektor pertanian tidak otomatis menjadikan Indonesia eksportir pupuk utama. Posisi dalam perdagangan global juga ditentukan oleh ketersediaan bahan baku, energi, kapasitas produksi, serta besarnya kebutuhan domestik.
Kondisi tersebut membuat harga dan ketersediaan pupuk domestik tetap sensitif terhadap dinamika pasar global. Perubahan harga energi, biaya logistik, hingga gangguan pasokan dari negara produsen utama dapat ikut memengaruhi biaya produksi pertanian di dalam negeri.
(slm/slm)