Danantara Siapkan Aset untuk Tiga Museum Baru di Jakarta, Bandung, dan Semarang
Bagikan:
JAKARTA – Kementerian Kebudayaan dan BPI Danantara menyiapkan pemanfaatan aset untuk membangun tiga museum baru. Proyek itu mencakup Museum Perfilman Indonesia di Jakarta, Museum Musik Indonesia di Bandung, dan Museum Fotografi Indonesia di Semarang.
Rencana tersebut menjadi bagian dari nota kesepahaman penguatan ekosistem pemajuan kebudayaan yang ditandatangani Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Kepala Badan Pelaksana BPI Danantara Rosan Perkasa Roeslani di Jakarta, Senin, 13 Juli.
“Kita berharap dalam waktu dekat dapat mendirikan paling tidak tiga museum melalui pemanfaatan aset-aset yang dimiliki Danantara,” kata Fadli.
Kerja sama berlaku selama lima tahun dan mencakup BUMN serta perusahaan yang berada di bawah kendali langsung maupun tidak langsung Danantara. Pelaksanaannya akan diatur lebih rinci melalui perjanjian kerja sama.
Fadli mengatakan kolaborasi kedua lembaga sebenarnya sudah berjalan sebelum nota kesepahaman diteken. Danantara sebelumnya mendukung revitalisasi Museum Nasional setelah kebakaran, pembangunan perpustakaan museum, serta keikutsertaan Indonesia di Venice Biennale setelah vakum tujuh tahun.
Indonesia saat ini memiliki sekitar 516 museum. Namun, menurut Fadli, jumlah museum yang memenuhi standar internasional masih terbatas.
BACA JUGA:
Pemerintah juga ingin meningkatkan mutu museum daerah agar tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi mampu menarik pengunjung dan mendukung pariwisata.
Kerja sama dengan Danantara mencakup pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan yang memiliki nilai sosial dan ekonomi. Bidang lain meliputi kemitraan nasional dan internasional, pengembangan sumber daya manusia, digitalisasi kebudayaan, pemanfaatan teknologi, serta pertukaran data.
Kementerian Kebudayaan juga mempercepat penetapan cagar budaya nasional dan pencatatan Warisan Budaya Takbenda. Saat ini, Indonesia memiliki 2.727 Warisan Budaya Takbenda.
Sekitar 20 persen di antaranya berupa kuliner dan pangan lokal. Fadli menilai kelompok ini memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai sumber ekonomi budaya.
Rosan mengatakan kebudayaan merupakan aset strategis yang harus dijaga dan dikembangkan. Ia menegaskan kerja sama tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif.
“Nota kesepahaman ini akan diwujudkan dalam berbagai program nyata melalui kolaborasi kedua lembaga,” kata Rosan.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+