peezycoineth.vip

Dari Makan Tabungan, Terancam Makan Utang

2026-08-24 00:00

Liputan6.com, Jakarta - Ketidakpastian ekonomi dilihat dari berbagai indikator, seperti melemahnya nilai tukar, banyaknya PHK, hingga tingkat inflasi, membawa dampak yang memukul kelas menengah Indonesia. Bahkan bahayanya sudah di taraf 'makan tabungan' yang terancam jadi 'makan utang'.

Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), mendefinisikan fenomena 'makan tabungan' ketika masyarakat semakin banyak menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan, karena kemampuan mengakumulasi simpanan semakin terbatas.

Andjas, kelas pekerja Jakarta, menjadi salah satu yang saat ini mengalami fenomena makan tabungan, karena ketidakpastian ekonomi. Dirinya mengakui sudah beberapa kali memakai uang tabungannya untuk memenuhi kebutuhan.

"Sudah dua kali ambil uang tabungan yang jumlahnya lumayan," ujar Andjas kepada Liputan6.com, Kamis (20/8/2026).

Uang tabungan yang diambilnya digunakan untuk kebutuhan transportasi saat memasuki akhir bulan.

"Pernah pas di akhir bulan, saat budget buat transport ke kantor ternyata kurang," kata Andjas.

Andjas juga mengatakan, di tengah ketidakpastian ekonomi, dirinya mulai mengencangkan ikat pinggang dengan membatasi pengeluaran.

"Sekarang mulai membatasi pengeluaran, bahkan terpikirkan untuk lebih memilih beli lauk mateng daripada masak, soalnya beli bahan makanan mentah, misalnya cabe, bawang, ikan lebih mahal daripada beli makanan jadi," katanya.

Dia mengakui, pengeluarannya yang paling terasa menguras kantong adalah untuk kebutuhan sehari-hari, seperti makan dan transportasi.

Masih Bisa Menabung

Meski begitu, Andjas mengaku masih bisa menabung meski nominalnya tidak sebesar dahulu. Namun, dia tetap memiliki dana darurat.

"Masih tapi nominalnya beda sama dulu sebelum apa-apa naik dan kerja masih WFH. Dulu bisa di atas Rp 1 juta. Dana darurat ada, tapi paling cukup buat 10 bulanan," katanya.

Menurut Andjas, jika uang tabungannya semakin menipis, mungkin akan berjualan atau usaha lain yang tidak butuh biaya perjalanan, misalnya dagang di rumah.

Dia pun mengaku khawatir nantinya akan lebih besar pasak daripada tiang, alias lebih banyak pengeluaran daripada pendapatan. Sebab Andjas sampai saat ini tidak pernah mempunyai utang, menggunakan paylater, dan kartu kredit.

"Bakal lebih besar pasak daripada tiang, gaji atau penghasilan gak naik tapi biaya hidup harian naik signifikan. Dan kalau sampai tahun depan situasi gak berubah, bakal cari tambahan penghasilan, misalnya freelance-freelance atau jualan," kata Andjas.

Uang Tabungan Berkurang

Sementara itu, Desi, seorang pekerja swasta bersama suaminya juga mengakui uang tabungannya berkurang. Apalagi, kata dia, ada keperluan memenuhi kebutuhan sekolah dua anaknya.

"Belakangan ini yang berasa banget biaya serba serbi untuk menunjang pendidikan sekolah, seperti seragam, sepatu dan perlengkapan lainnya," cerita Desi.

Dia pun mengakui pernah beberapa kali terpaksa mengambil uang tabungannya untuk keperluan mendadak.

"Biasanya untuk kebutuhan mendadak, seperti salah satu anggota keluarga ada yang sakit, tapi itu juga ambil uang tabungannya gak terlalu sering," ucap Desi.

Meski begitu, dia dan suami masih tetap bisa menabung lagi dari penghasilan keduanya. Desi juga mengaku masih tetap memiliki tabungan untuk dana darurat. Karena Desi dan suami memiliki prinsip untuk tidak meminjam uang kepada siapa pun, baik teman atau saudara juga tak memakai kartu kredit.

Meski demikian, Desi tetap menaruh khawatir terhadap kondisi ekonomi yang sekarang ini dirasakannya, yang apa-apa harganya serba naik dan mahal. Sebab baginya, pengeluaran yang paling sulit ditekan adalah kebutuhan untuk biaya makan dan belanja mingguan.

"Jika terus memaksakan menggunakan tabungan, semakin lama semakin menipis dan khawatir akan merusak keadaan ekonomi keluarga," kata Desi. Jangan sampai dari makan tabungan, berubah jadi makan utang.