Dari "Mata" Greater Bay Area, turun ke hati
Di tengah kota yang dipenuhi kecanggihan kecerdasan buatan, laju ekonomi yang begitu cepat, dan persaingan yang semakin ketat, Shenzhen Book City menjadi pengingat bahwa masa depan tidak hanya dibangun melalui inovasi teknologi.
Jakarta (ANTARA) - Bagi negara yang berlomba menjadi yang terdepan dalam riset, pengembangan, kecerdasan artifisial (AI), dan inovasi, mungkin tidak ada kata istirahat dalam kamus warganya. Terlebih di Shenzhen, kota yang dikenal sebagai pusat teknologi dan inovasi China, tempat para talenta dari berbagai penjuru dunia berkumpul untuk mewujudkan gagasan-gagasan brilian menjadi kenyataan.
Namun, di tengah ritme hidup yang serba cepat dan dipenuhi otomatisasi, tetap tersedia ruang untuk berhenti sejenak. Bagaikan sebuah oase, Shenzhen Book City menghadirkan hamparan buku, aneka cendera mata dari berbagai intellectual property (IP), serta ruang-ruang hijau yang menawarkan jeda dari hiruk-pikuk kota.
Dilihat dari udara, kompleks toko buku seluas sekitar 131 ribu meter persegi ini seolah menatap balik para pengunjung. Bentuk bangunannya menyerupai sepasang mata yang jernih, sementara dua gedung utamanya menghadap langsung ke kawasan teluk. Tak heran jika tempat ini dijuluki sebagai "Eye of the Greater Bay Area."
Di sinilah para pengunjung, terutama warga lokal, diajak untuk kembali jatuh cinta. Bukan hanya pada arsitekturnya yang hijau, terintegrasi, dan modern, tetapi juga pada kisah-kisah, sejarah, serta perjumpaan antarmanusia yang tumbuh dan hidup di kompleks budaya ini.
Ruang untuk romansa
Bicara soal cinta, tentu selalu ada maksud di baliknya. Demikian pula dengan pemerintah ketika membangun kompleks budaya ini.
Shenzhen ditetapkan sebagai Zona Ekonomi Khusus China pada 1980 oleh Deng Xiaoping. Dalam kurun empat dekade, kota ini mengalami metamorfosis luar biasa. Dari sekadar kumpulan komunitas petani dan nelayan, Shenzhen menjelma menjadi pusat teknologi dan inovasi China. Perubahan yang begitu cepat itu turut membentuk orientasi hidup dan budaya kerja generasi mudanya.
"Orang-orang di sini, generasi pertama, anak muda Shenzhen, termasuk generasi sekarang, semuanya hanya mengejar kesuksesan dalam karier," ujar General Manager Shenzhen Bay Book City, Zhang Kei.
"Mereka menghabiskan sangat sedikit waktu untuk mencari cinta dan membangun keluarga."
Berangkat dari realitas itulah Shenzhen Book City lahir. Kompleks ini dirancang sebagai penyeimbang budaya kerja yang sangat kompetitif. Pemerintah menghadirkannya bukan sekadar sebagai toko buku, melainkan ruang publik yang mampu menarik generasi muda melalui pertunjukan seni, opera, pameran teknologi, hingga berbagai kegiatan budaya.
Lokasinya pun sangat strategis, berada di jantung Qianhai, kawasan yang diproyeksikan menjadi pusat kolaborasi Shenzhen dan Hong Kong di bidang keuangan, teknologi, logistik, dan inovasi. Dari kompleks ini, pengunjung dapat menikmati panorama kawasan teluk, sementara beragam sudut dengan desain artistik menjadikannya destinasi yang ramah bagi para pemburu foto.
Baca juga: Kunjungi Shenzhen, wartawan mancanegara terkesan oleh peran iptek dalam pembangunan China
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.