peezycoineth.vip

Daya Beli Belum Pulih, Kredit Konsumsi Perbankan Tumbuh Melambat

2026-08-02 09:44

ILUSTRASI. Kredit Melambat Pembangunan perumahan di Depok (KONTAN/Baihaki)

Reporter: Aura Putri | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan kredit konsumsi perbankan mulai kehilangan momentum di tengah pemulihan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya kuat. Meski masih tumbuh positif, laju kredit konsumsi pada Juni 2026 tercatat melambat dibandingkan bulan sebelumnya.

Berdasarkan Analisis Perkembangan Uang Beredar Bank Indonesia (BI), kredit konsumsi pada Juni 2026 tumbuh 5,7% secara tahunan, sedikit lebih rendah dibandingkan 5,8% secara year on year (yoy) pada Mei 2026.

Bank Indonesia mencatat, pertumbuhan kredit konsumsi masih ditopang oleh kredit pemilikan rumah dan apartemen (KPR/KPA) dan kredit multiguna. Pada Juni 2026, KPR/KPA tumbuh 4,4% yoy dan kredit multiguna 8,3% yoy. Sebaliknya, kredit kendaraan bermotor masih terkontraksi 9,9% yoy.

Baca Juga: Kontribusi Bancassurance Baru 3% ke Premi Asuransi Umum, Ini Penyebabnya

Dalam paparan publik kuartal II-2026, PT Bank Mandiri Tbk membukukan portofolio kredit konsumsi sebesar Rp 125 triliun atau tumbuh 1,39% yoy. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kredit pemilikan rumah (KPR) yang naik 4,34% yoy dan kartu kredit sebesar 7,62% yoy. Sebaliknya, kredit kendaraan bermotor masih turun 19,2% yoy.

Direktur Risk Management Bank Mandiri Danis Subyantoro mengatakan, perseroan memastikan pertumbuhan kredit berjalan seiring dengan kualitas aset yang tetap terjaga.

"Kami memastikan pertumbuhan kredit selalu berjalan beriringan dengan kualitas aset yang terjaga. Prinsip kehati-hatian inilah yang menjaga akselerasi bisnis tetap sehat dan berkelanjutan dalam jangka panjang," ujar Danis.

Sementara itu, dalam paparan kinerja semester I 2026, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) mencatat kredit perumahan tumbuh 4,8% yoy menjadi Rp 332,88 triliun per Juni 2026. Pertumbuhan itu terutama ditopang oleh KPR subsidi yang naik 8,1% yoy menjadi Rp 196,96 triliun.

Baca Juga: Likuiditas Perbankan Makin Ketat, LDR Sejumlah Bank Besar Naik pada Semester I-2026

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menegaskan, strategi beyond mortgage tidak berarti perseroan meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan.

"Strategi beyond mortgage tidak berarti meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan, tetapi melengkapinya sehingga nasabah BTN bisa mengakses kredit dari masa produktif hingga masa pensiun," ujar Nixon.

Head of Research and Product Development Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai, pertumbuhan kredit konsumsi masih tertahan karena daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.

"Daya beli masyarakat masih belum pulih sehingga berdampak pada kredit ritel pada umumnya. Segmen kredit yang akan menopang adalah investasi, terutama yang berhubungan dengan realisasi proyek-proyek pemerintah," ujar Trioksa kepada Kontan, Jumat (31/7/2026).

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, pertumbuhan kredit konsumsi yang lebih lambat dibandingkan kredit investasi mencerminkan pergeseran penyaluran kredit ke segmen investasi dan korporasi.

"Faktor paling kuat adalah pergeseran penyaluran menuju kredit investasi dan kredit korporasi besar yang umumnya memiliki imbal hasil lebih rendah karena nilai pinjamannya besar, risikonya relatif terukur, dan debiturnya mempunyai daya tawar tinggi," kata Josua kepada Kontan, Kamis (30/7/2026).

Menurut Josua, hingga akhir tahun perbankan perlu memastikan pertumbuhan kredit tetap menghasilkan pendapatan yang memadai dengan memperhitungkan biaya dana dan risiko.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News