Diancam Iran, Trump Disebut Umpankan Air Force One dan Kabur dari Turki
Warta Ekonomi, Jakarta -
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan diam-diam meninggalkan Turki menggunakan pesawat militer C-32A setelah adanya ancaman pembunuhan yang dikaitkan dengan Iran.
Trump disebut tidak meninggalkan Turki menggunakan Air Force One seperti yang diketahui publik. Ia justru dilaporkan berpindah pesawat secara rahasia menggunakan kendaraan kontainer katering sebelum menaiki C-32A yang lebih kecil untuk terbang menuju Inggris.
Dikutip Serambinews melalui Al Jazeera, Selasa (11/8/2026), informasi tersebut mengacu pada laporan sejumlah media Amerika Serikat, termasuk The Washington Post dan The New York Times.
Air Force One Disebut Jadi Umpan
Peristiwa itu terjadi setelah Trump menghadiri KTT NATO di Ankara, Turki, pada 8 Juli 2026.
Sebelumnya, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya akan meninggalkan Turki menggunakan Air Force One versi lama. Ia bahkan menyebut keputusan tersebut dilakukan demi nostalgia.
Namun, laporan terbaru menyebut penggunaan pesawat tersebut merupakan bagian dari operasi pengalihan untuk menjaga keselamatan presiden.
Trump memang terlihat menaiki Air Force One lama di hadapan kamera. Setelah itu, ia disebut dipindahkan secara diam-diam menggunakan kendaraan kontainer katering.
Kendaraan tersebut kemudian membawa Trump menuju pesawat militer C-32A yang telah menunggu di lokasi lain. Dengan cara itu, lokasi sebenarnya Trump selama penerbangan keluar dari Turki dapat disembunyikan.
Air Force One lama yang terlihat membawa Trump kemudian disebut berfungsi sebagai umpan. Sejumlah wartawan yang berada di pesawat tersebut bahkan tidak mengetahui bahwa Trump sebenarnya telah berpindah ke pesawat lain.
Beberapa staf Gedung Putih juga dilaporkan tidak mengetahui keberadaan Trump yang sebenarnya.
Menurut laporan yang dikutip Al Jazeera, operasi pengalihan tersebut dilakukan setelah muncul ancaman yang dinilai kredibel terhadap Trump dan dikaitkan dengan Iran.
Ancaman Iran Jadi Perhatian
Ancaman terhadap keselamatan Trump menjadi perhatian setelah hubungan Washington dan Teheran mengalami ketegangan.
Media AS sebelumnya melaporkan ancaman dari kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran menjadi salah satu pertimbangan keamanan dalam perjalanan Trump.
Sebelumnya, Trump menggunakan pesawat baru yang diberikan Qatar kepada Amerika Serikat untuk melakukan perjalanan menuju Turki. Namun, ketika meninggalkan negara tersebut, ia justru memilih menggunakan Air Force One lama.
Keputusan itu sempat dijelaskan sebagai pilihan karena alasan nostalgia. Laporan terbaru menunjukkan aspek keamanan menjadi faktor penting di balik penggunaan pesawat tersebut.
Trump sendiri sebelumnya pernah mengatakan dirinya menjadi salah satu target utama pembunuhan Iran.
Operasi pengalihan tersebut dilakukan dengan tingkat kerahasiaan tinggi. Para wartawan yang mengikuti perjalanan Trump mengira mereka akan terbang bersama presiden menggunakan Air Force One lama.
Menurut laporan The Washington Post, para wartawan bahkan diminta menutup tirai jendela di kabin pers.
Namun, mereka tidak diberi tahu bahwa Trump sebenarnya telah meninggalkan pesawat tersebut. Beberapa staf Gedung Putih juga disebut masih mengira Trump berada di dalam Air Force One lama.
Kondisi itu membuat keberadaan Trump sulit diketahui selama beberapa jam.
Setelah tiba di Inggris, Trump kembali terlihat di hadapan media ketika turun dari Air Force One lama.
Kemunculan tersebut seolah menunjukkan bahwa Trump memang melakukan perjalanan dari Turki menggunakan pesawat tersebut.
Namun, laporan media AS menyebut belum diketahui secara jelas bagaimana Trump kembali berpindah dari C-32A ke Air Force One sebelum muncul di Inggris.
Setelah kunjungan di Inggris, Trump kemudian melanjutkan perjalanan kembali ke Amerika Serikat menggunakan pesawat baru yang diberikan Qatar.
Gedung Putih tidak secara langsung membantah laporan mengenai operasi pengalihan tersebut. Direktur Komunikasi Gedung Putih Steve Cheung justru menegaskan bahwa pemerintah AS menggunakan berbagai cara untuk menghadapi ancaman terhadap presiden.
Cheung juga membela penggunaan pesawat baru yang diberikan Qatar kepada Amerika Serikat.
"Pesawat Air Force One yang baru ini adalah pesawat canggih yang telah dilengkapi dengan protokol keamanan tingkat tinggi yang menjamin keselamatan Presiden dan stafnya," kata Cheung.
Ia menegaskan ancaman terhadap Trump tidak dapat dianggap remeh.
Baca Juga: Trump: AS Kuasai 100 Persen Selat Hormuz, Iran Disebut Tak Lagi Berdaya
"Seperti yang telah dikatakan Presiden baru-baru ini, ada banyak musuh Amerika yang mengincarnya, dan kami menggunakan setiap alat yang kami miliki untuk mengatasi ancaman tersebut," lanjutnya.
Laporan mengenai penerbangan rahasia tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap keselamatan Trump turut memengaruhi pola perjalanan presiden AS.
Meski demikian, laporan media tersebut belum mengungkap secara rinci bentuk ancaman yang menjadi dasar operasi pengalihan. Yang diketahui, perubahan pesawat dan upaya menyamarkan keberadaan Trump dilakukan secara rahasia sebagai bagian dari langkah pengamanan presiden.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.