Dishub Kotim sebut kabut asap berpotensi hambat pelayaran
Dishub Kotim sebut kabut asap berpotensi hambat pelayaran
Selasa, 28 Juli 2026 10:23 WIB
Suasana perairan Sungai Mentaya dekat Pelabuhan Sampit. ANTARA/Devita Maulina
Sampit (ANTARA) - Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, mengingatkan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berpotensi menghambat aktivitas pelayaran yang dapat memberikan efek domino terhadap perekonomian.
“Sementara ini kabut asap dari karhutla sudah berdampak kepada penerbangan dan yang kita khawatirkan ini kapal-kapal yang melalui Sungai Mentaya juga terdampak,” kata Kepala Dishub Kotim Raihansyah di Sampit, Senin.
Ia menjelaskan, Sungai Mentaya memiliki peran strategis sebagai jalur transportasi barang, terutama untuk memasok berbagai kebutuhan pokok ke Kotim. Karena itu, gangguan terhadap aktivitas pelayaran akan memberi efek terhadap sektor ekonomi masyarakat.
Apabila kapal pengangkut logistik tidak dapat beroperasi secara normal akibat jarak pandang yang menurun karena kabut asap, maka distribusi sembako berpotensi mengalami keterlambatan.
Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu kelangkaan sejumlah komoditas di pasaran yang pada akhirnya berdampak terhadap kenaikan harga barang dan mempengaruhi laju inflasi daerah.
“Terutama kapal yang membawa sembako dan lain sebagainya. Kalau itu tertunda juga kita juga akan merasakan berkaitan dengan inflasi nantinya, kenaikan harga ataupun kelangkaan bahan-bahan pokok,” ujarnya.
Selain mengantisipasi dampak terhadap pelayaran, Dishub Kotim juga terus memantau operasional penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit yang beberapa waktu terakhir sempat terdampak aktivitas karhutla di sekitar kawasan bandara.
Baca juga: Kebakaran lahan di Kotim rambah kebun sawit warga
Raihansyah mengungkapkan, pada pekan lalu penerbangan Super Air Jet rute Jakarta-Sampit sempat mengalami keterlambatan sekitar dua jam. Meski begitu, penundaan itu bukan disebabkan kabut asap yang mengganggu jarak pandang pilot.
Keterlambatan terjadi karena terdapat kebakaran di sekitar runway 13 yang menjadi lintasan pesawat saat melakukan manuver pendaratan, sehingga aspek keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama sebelum pesawat diberangkatkan dari Jakarta.
“Jadi bukan karena kabut asap, tapi karena ada karhutla di runway 13. Sehingga karena itu lintasan mereka untuk melakukan manuver landing. Sebelum area itu dinyatakan aman, mereka tidak berani berangkat dari Jakarta. Sehingga kemarin kami lakukan pemadaman itu bersama BPBD,” ungkapnya.
Ia menambahkan, apabila karhutla terus meluas dan menghasilkan kabut asap yang semakin pekat, maka dampaknya dapat lebih besar terhadap sektor transportasi, baik melalui udara maupun jalur sungai.
Penundaan operasional selama beberapa hari, akan mengganggu mobilitas masyarakat yang bepergian ke luar daerah serta menghambat arus distribusi barang yang menjadi penopang aktivitas ekonomi di Kotim.
“Saya takutnya ke depan kalau tidak kita jaga bersama, ini akan penundaan harinya. Kalau sehari, kalau dua hari, tiga hari ini sangat merugikan bagi masyarakat juga terhadap yang mau ke Jakarta, yang mau ke Surabaya ataupun melalui kapal, kabut asap dan sebagainya, dan juga pasti untuk kesehatan kita,” tuturnya.
Oleh sebab itu, Dishub Kotim mengajak seluruh masyarakat berperan aktif mencegah karhutla dengan tidak membuka lahan menggunakan api serta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan titik api agar dapat ditangani lebih cepat sebelum meluas.
“Maka dari itu, kami mengimbau supaya kita jaga bersama selama kemarau ini. Jangan membakar hutan dan lahan. Kalaupun ada api-api kecil segera kita padamkan atau segera laporkan, karena ini juga bisa berdampak pada perekonomian kita,” demikian Raihansyah.
Baca juga: Dinkes Kotim perkuat pencegahan ISPA lewat pembagian masker gratis
Baca juga: Diskominfo Kotim dorong UMKM naik kelas melalui digitalisasi
Baca juga: Karhutla sempat sebabkan penerbangan ke Bandara Haji Asan Sampit tertunda
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.