Dokter: Pentingnya penanganan segera "heat stroke" - ANTARA News Megapolitan
Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis penyakit dalam Faisal Parlindungan dari Rumah Sakit Universitas Indonesia menekankan pentingnya penanganan segera heat stroke atau serangan panas guna mencegah gangguan dan kerusakan organ yang berakibat fatal.
Ia menjelaskan bahwa heat stroke merupakan kondisi kegawatdaruratan medis yang terjadi ketika tubuh gagal mengatur dan membuang panas sehingga suhu tubuh meningkat secara berlebihan.
Menurut dia, kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan fungsi organ seperti otak, ginjal, dan hati serta masalah otot dan sistem pembekuan darah.
Ia menyampaikan bahwa keterlambatan penanganan heat stroke dapat meningkatkan risiko kerusakan organ, yang berpeluang mengakibatkan kematian.
Dokter Faisal menyampaikan bahwa penanganan heat stroke utamanya ditujukan untuk menurunkan suhu tubuh secepat mungkin.
Menurut dia, individu yang mengalami gejala serangan panas mesti segera dipindahkan ke tempat yang teduh dan menjalani proses pendinginan aktif.
Di fasilitas kesehatan, dr. Faisal menjelaskan, tenaga medis bisa membantu menstabilkan kondisi pasien serta melakukan pemeriksaan guna mengetahui dampak peningkatan suhu tubuh terhadap kondisi organ.
Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia Dr. Hermawan Saputra, SKM., MARS., CICS. mengatakan bahwa hal pertama yang harus dilakukan saat mengalami gejala serangan panas adalah berpindah ke tempat teduh.
Kalau sampai pusing, kulit memerah, pening, atau mual saat beraktivitas di lingkungan yang panas, ia menyarankan penerapan metode kompres dingin untuk menurunkan suhu tubuh.
"Kalau misalnya suhu badan lebih dari 40 derajat Celsius bahkan lebih, tentu saja itu kondisi yang sudah tidak normal yang harus segera diatasi," kata Hermawan.
Dia menyarankan individu dengan kondisi demikian segera dibawa ke fasilitas kesehatan agar bisa segera mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.
Pewarta: Farika Nur Khotimah
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.