DPRD Belitung panggil Pertamina bahas kelangkaan BBM - ANTARA News Bangka Belitung
Belitung (ANTARA) - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, memanggil PT Pertamina Patra Niaga dan pemilik SPBU guna membahas dan mencari solusi terkait kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di daerah itu.
"Kelangkaan ini sudah berlangsung sekian minggu dan sangat mengganggu aktivitas dan perekonomian masyarakat" kata Ketua DPRD Belitung Vina Cristyn Ferani di Tanjungpandan, Selasa.
Menurut dia, kelangkaan BBM telah berdampak luas, mulai dari sepinya aktivitas perekonomian, menurunnya pendapatan pedagang, pengemudi ojek, dan jasa rental mobil, hingga terganggunya aktivitas harian warga seperti mengantar anak sekolah.
Vina menjelaskan, dalam pertemuan tersebut diketahui kelangkaan BBM disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah keterlambatan proses bongkar muat pasokan akibat kendala cuaca.
Selain itu, disparitas atau perbedaan harga yang cukup jauh antara Pertamax dan Pertalite memicu masyarakat beralih (switching) menggunakan Pertalite, sehingga konsumsi BBM bersubsidi tersebut meningkat tajam.
"Kondisi di lapangan memang sempat terjadi kekosongan di SPBU, sehingga masyarakat melihat banyaknya antrean itu memicu terjadinya panic buying," ujarnya.
Oleh karena itu, DPRD Belitung meminta Pertamina Patra Niaga semaksimal mungkin memastikan kuota BBM di seluruh SPBU di daerah itu tercukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
DPRD Belitung juga meminta agar operasional Pertashop kembali diaktifkan sebagai solusi jangka pendek guna membantu distribusi BBM dan mengurai antrean panjang kendaraan.
"Kami juga meminta pengawasan dan pendampingan dari aparat penegak hukum, dalam hal ini Polres Belitung, agar tidak terjadi kericuhan atau chaos di SPBU karena ramainya antrean masyarakat," katanya.
Sales Branch Manager (SBM) Pertamina Patra Niaga Belitung, Rafli Alhaq memastikan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) baik jenis subsidi maupun non subsidi di daerah itu dalam kondisi aman dan cukup guna memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Kondisi stok saat ini untuk Pertalite, Pertamax, Biosolar, maupun Dexlite dalam posisi aman. Pasokan beberapa hari ke depan juga masih sangat mencukupi dan terkendali," ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini stok Pertalite di dalam tangki timbun sebanyak 900 KL dan yang masih berada (floating) di atas kapal 200 KL.
"Rata-rata konsumsi Pertalite masyarakat sekitar 240 KL per hari, sehingga stok yang ada saat ini dapat mengcover kebutuhan hingga 4,5 hari ke depan. Tambahan kargo berkapasitas 600 KL yang akan bersandar pada 22 atau 23 Juli mendatang juga akan menambah ketahanan pasokan (coverage days) Pertalite sekitar tiga hari setelah," ujarnya.
Sementara itu, untuk BBM jenis Biosolar, stok yang tersedia saat ini tercatat sebanyak 1.288 KL dengan daya tahan pasokan mencapai 5,5 hari ke depan.
Rafli menambahkan, pasokan BBM di Belitung terus diperkuat dengan masuknya kapal pengangkut BBM secara bertahap.
"Pagi tadi, kapal kargo pengangkut Pertamax dan Pertalite telah sukses bersandar," katanya.
Pewarta: Apriliansyah
Uploader : Bima Agustian
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.