Dunia Dihantui Rekor Imbal Hasil Obligasi AS, Semoga IHSG-Rupiah Aman
- Pasar keuangan RI ditutup beragam IHSG menguat sementara Rupiah dan SBN melemah
- Wall Street kompak menguat, Nasdaq rekor
- Neraca Perdagangan AS dan Pernyataan Gubernur BoJ menjadi penggerak utama pasar pada hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam pada perdagangan terakhir kemarin, Senin (5/10/2026). Bursa saham menguat sementara nilai tukar rupiah dan SBN kembali melemah.
Sentimen pasar kemarin masih dibayangi perkembangan konflik di Timur Tengah serta rilis data perekonomian dalam maupun luar negeri yang masih sulit diprediksi arahnya.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak menguat pada perdagangan hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Senin (5/10/2026). Indeks naik 81,97 poin atau 1,36% ke level 6.118,86.
IHSG sepanjang kemarin disebabkan oleh 547 saham menguat. Sementara 252 saham tak bergerak dan 164 saham melemah.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG berupaya bertahan di jalur hijau. IHSG dibuka di level 6.055,16. Pergerakan indeks sempat berfluktuasi pada sesi pagi dan melemah menjelang pukul 11.00 WIB, dengan titik terendah harian di 6.019,84.
Setelah itu, IHSG berbalik arah dan bergerak naik secara bertahap. Penguatan semakin terlihat pada sesi sore kemarin, terutama setelah pukul 15.00 WIB, hingga indeks menyentuh level tertinggi harian di 6.119,22 dan ditutup tidak jauh dari level tersebut.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebanyak 40,25 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp9,96 triliun sementara frekuensi mencapai 1,64 juta kali transaksi.
Dari segi perdagangan foreign, terpantau di all market bursa mengalami net foreign outflow sebesar Rp 115,72 miliar sementara di pasar reguler tercatat juga mengalami net foreign outflow sebesar Rp 123,10 miliar.
Sehingga apabila dijumlah dalam kurun waktu year to date atau sejak awal tahun 2026, all market terpantau mengalami net foreign outflow sebesar Rp 82,10 triliun sementara di reguler juga terpantau net outflow sebesar Rp 108,85 triliun.
Hingga penutupan perdagangan, pendorong IHSG kemarin bersal dari sektor infrastruktur yang naik 4,2%, disusul oleh sektor properti yang nak 2,3%, dan sektor energi yang naik 2%.
Adapun saham-saham pengungkit IHSG kemarin antara lain, PT. Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA),, PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) dan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI).
Sementara saham-saham penekan IHSG antara lain, PT. DCI Indonesia Tbk. (DCII), PT. Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA), PT. GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT. Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), dan PT. United Tractors Tbk. (UNTR)
Lanjut ke mata uang Rupiah, tekanan terhadap rupiah belum benar-benar mereda pada perdagangan Senin (5/10/2026). Mata uang Garuda sempat berbalik menguat di tengah sesi, tetapi gagal mempertahankan penguatannya hingga penutupan dan kembali berakhir di zona merah.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp17.895/US$, melemah 0,15% dibandingkan penutupan Jumat (2/10/2026) di Rp17.868/US$. Penutupan tersebut membalikkan penguatan rupiah pada perdagangan sebelumnya. Secara nominal, rupiah melemah 27 poin dari posisi penutupan Jumat.
Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah bergerak cukup fluktuatif. Mata uang Garuda sempat tertekan hingga Rp17.935/US$, sebelum berbalik menguat ke level terbaiknya di Rp17.850/US$. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan hingga akhir sesi.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,25% ke posisi 102,187.
Dolar AS masih menunjukkan penguatan pada awal pekan dan bertahan di sekitar level tertingginya dalam 17 bulan terakhir.
Kekuatan greenback masih mendapat dukungan dari imbal hasil US Treasury yang tetap tinggi, sementara meningkatnya volatilitas di pasar obligasi global turut menjaga permintaan terhadap aset berdenominasi dolar.
Kondisi tersebut membuat tekanan eksternal terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, belum sepenuhnya mereda.
Di dalam negeri, pelemahan rupiah dalam beberapa waktu terakhir mulai menjadi perhatian bukan hanya dari sisi pasar keuangan, tetapi juga dampaknya terhadap tekanan harga.
Sementara di pasar SBN, imbal hasil obligasi tenor 10 tahun Indonesia mengalami sedikit kenaikan. Kenaikan imbal hasil disini mengartikan bahwa pasar lebih didominasi oleh penjual dibandingkan dengan pembeli pada pasar sekunder.