Dunia Makin Kaya, Tapi Cuma di Atas Kertas!
Aisha Mayra, CNBC Indonesia
25 July 2026 12:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia tampak semakin kaya tetapi hanya di atas kertas.
Nilai kekayaan global pada 2025 diperkirakan telah melampaui US$600 triliun, atau sekitar 5,1 kali produk domestik bruto (PDB) dunia dalam setahun.
Namun, kenaikan itu bukan terutama berasal dari bertambahnya aset baru yang membuat ekonomi lebih produktif. Sebagian besar justru datang dari lonjakan harga aset yang sudah ada.
Ini disampaikan McKinsey Global Institute (MGI) dalam laporan terbarunya yang dirilis pada 23 Juli 2026.
Menurut lembaga riset di bawah konsultan McKinsey & Company itu, perubahan tersebut membuat neraca kekayaan dunia mulai bergerak menjauh dari fondasi ekonomi riil yang menopangnya.
Dunia Memang Lebih Kaya
Selama ini, ukuran ekonomi dunia umumnya merujuk pada PDB global yang mencapai sekitar US$120 triliun. Angka itu menggambarkan nilai seluruh barang dan jasa yang diproduksi selama satu tahun, atau sederhananya dapat dianalogikan sebagai "pendapatan tahunan" ekonomi dunia.
Namun, kekayaan berbeda dengan pendapatan. Jika pendapatan menggambarkan apa yang dihasilkan dalam setahun, kekayaan mencerminkan akumulasi aset yang dimiliki, mulai dari properti, infrastruktur, mesin, hingga kekayaan intelektual.
MGI mencoba menghitung seluruh aset dan kewajiban tersebut dalam satu neraca global.
Hasilnya, total kekayaan dunia pada 2025 diperkirakan mencapai lebih dari US$600 triliun, setara 5,1 kali PDB global. Angka itu relatif tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi komposisinya mengalami pergeseran yang cukup besar.
Kenaikan Terbesar Datang dari Paper Wealth
Perubahan paling mencolok terjadi pada kekayaan rumah tangga (household wealth). Nilainya bertambah sekitar US$40 triliun dalam setahun menjadi US$570 triliun.
Kenaikan tersebut bukan terutama karena dunia membangun lebih banyak pabrik, infrastruktur, atau aset produktif baru. Menurut MGI, sebagian besar berasal dari kenaikan harga aset yang sudah ada setelah disesuaikan dengan inflasi.
Kekayaan net dunia Foto: Economist
MGI menyebut fenomena ini sebagai paper wealth, yakni kekayaan yang muncul karena valuasi aset meningkat, bukan karena kapasitas ekonomi benar-benar bertambah.
Dengan kata lain, pemilik rumah, saham, atau aset finansial memang terlihat lebih kaya di atas kertas, meski jumlah aset riil yang dimiliki dunia tidak bertambah dalam skala yang sama.
Di sinilah perbedaannya. Nilai kekayaan dapat meningkat jauh lebih cepat dibanding kemampuan ekonomi menghasilkan barang dan jasa baru.
Harga Saham Naik, Dunia Belum Tentu Lebih Kaya
Contoh paling jelas terlihat di pasar saham Amerika Serikat. Menurut MGI, nilai pasar saham AS kini telah mencapai lebih dari 3,7 kali produk domestik bruto (PDB) negara tersebut. Sebagai perbandingan, saat gelembung dotcom pada 1999, nilainya bahkan masih berada di bawah dua kali PDB.
Lonjakan valuasi itu membuat pemegang saham terlihat semakin kaya. Namun, kenaikan harga saham tidak otomatis berarti dunia memiliki lebih banyak pabrik, jalan, pelabuhan, atau teknologi baru yang mampu meningkatkan produksi barang dan jasa.
Dalam skala global, saham pada dasarnya hanya berpindah sisi. Bagi investor, saham merupakan aset yang nilainya terus berubah. Sementara bagi perusahaan, saham adalah klaim kepemilikan atas bisnis yang sama. Karena itu, kenaikan valuasi saham memang dapat memperbesar kekayaan di atas kertas, tetapi tidak serta-merta menambah kekayaan riil dunia.
Nilai pasar bisa melonjak jauh lebih cepat dibanding kemampuan ekonomi menghasilkan pendapatan baru.
Mengapa Ini Jadi Masalah?
Bagi MGI, persoalannya bukan semata harga aset yang tinggi. Yang menjadi perhatian adalah laju kenaikan valuasi aset kini semakin menjauh dari kemampuan ekonomi menghasilkan pendapatan.
Lembaga riset tersebut menyebut neraca kekayaan dunia mulai out of kilter, atau tidak lagi bergerak seirama dengan ekonomi riil. Ketika harga aset terus naik lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi, jarak antara nilai kekayaan dan aktivitas ekonomi yang menopangnya ikut melebar.
Selama kesenjangan itu terus membesar, kenaikan kekayaan menjadi semakin bergantung pada ekspektasi pasar dibanding penciptaan aset produktif baru. Itulah sebabnya MGI menilai komposisi kekayaan global saat ini menjadi lebih rapuh dibanding yang terlihat dari angka totalnya.
Jalan Keluarnya Tidak Mudah
MGI melihat keseimbangan itu pada akhirnya harus kembali. Salah satu caranya adalah ekonomi riil tumbuh lebih cepat sehingga mampu mengejar lonjakan nilai aset. Dalam skenario ini, pertumbuhan pendapatan dan produktivitas menjadi penopang utama kenaikan kekayaan.
Namun ada kemungkinan lain. Jika harga aset terkoreksi, sebagian paper wealth yang terbentuk selama beberapa tahun terakhir dapat menghilang. Kekayaan di atas kertas
(mae/mae)
Add
as a preferred
source on Google