Efek Avtur Naik, Tiket Mahal hingga Maskapai Pangkas Rute Penerbangan
Jakarta, CNN Indonesia --
Ada kabar kurang menyenangkan bagi para pelancong. Harga tiket pesawat berpotensi semakin mahal seiring meningkatnya biaya bahan bakar penerbangan.
Kondisi ini menjadi perhatian bagi wisatawan yang berencana bepergian, terutama menjelang musim liburan akhir tahun ketika permintaan penerbangan biasanya meningkat.
Melansir Business Insider, sejumlah maskapai besar di Amerika Serikat mulai mengurangi penerbangan yang direncanakan selama musim liburan. Maskapai juga berpotensi menaikkan tarif untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu penyebab meningkatnya harga bahan bakar adalah kenaikan harga minyak dunia akibat situasi geopolitik di Timur Tengah.
Saat ini harga minyak kembali menembus US$100(Rp1,77 juta)per barel pada September 2026. Sementara itu, harga bahan bakar jet mencapai US$4,53 (Rp80.366) per galon.
Pilihan Redaksi
- 3 Alasan Maskapai Perketat Aturan Berat Bagasi Kabin
- Pesawat Delay atau Dibatalkan, Yuk Ketahui Apa Saja Hak Penumpang!
- 7 Kota Luar Negeri Terjangkau dari Indonesia, Tiket Mulai Rp1 Jutaan
Dampak kenaikan biaya tersebut selanjutnya bisa dirasakan para pelancong lewat perubahan harga tiket pesawat. Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan harga tiket pesawat pada Agustus 2026 naik lebih dari 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan biaya bahan bakar tidak hanya berpotensi membuat tiket lebih mahal, tetapi juga memengaruhi jumlah penerbangan yang tersedia.
United Airlines, Southwest Airlines, dan American Airlines menyatakan akan mengurangi kapasitas atau jadwal penerbangan apabila harga bahan bakar tetap tinggi. United Airlines bahkan telah memangkas sejumlah rute yang dinilai kurang menguntungkan dalam kondisi biaya bahan bakar yang meningkat.
CFO United Airlines, Mike Leskinen, mengatakan kenaikan harga bahan bakar membutuhkan waktu sebelum sepenuhnya tercermin dalam harga tiket. Ia juga menyebut jika harga bahan bakar tetap tinggi, maskapai akan melakukan penyesuaian hingga 2027.
Bagi wisatawan, pengurangan penerbangan dapat berarti pilihan rute dan jadwal yang lebih terbatas. Analis perjalanan NerdWallet Sally French juga mengatakan biaya penerbangan kini semakin tinggi, termasuk dengan adanya kenaikan biaya bagasi tercatat dan pemilihan kursi.
Kondisi serupa juga menjadi perhatian di Indonesia. Mengutip dari Antara, Kementerian Pariwisata tengah menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi tingginya harga tiket pesawat.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan pada September 2026 menetapkan batas maksimal fuel surcharge penerbangan domestik kelas ekonomi sebesar 40 persen dari Tarif Batas Atas (TBA), naik dari 30 persen pada bulan sebelumnya.
Kebijakan tersebut mengikuti kenaikan harga avtur. Rata-rata harga avtur naik sekitar 6,5 persen, dari Rp21.892 per liter pada Agustus menjadi Rp23.315 per liter pada September 2026.
Penyesuaian fuel surcharge tersebut diperkirakan berdampak rata-rata sekitar 8 persen terhadap harga tiket pesawat.
Namun, angka 40 persen tersebut bukan berarti harga tiket naik 40 persen. Kemenhub menegaskan angka itu merupakan batas maksimal fuel surcharge sebagai salah satu komponen tarif, bukan persentase kenaikan dari total harga tiket.
(dsd/wiw)