Ekowisata Boon Pring di Malang, Kesejukan yang Menambah Pengetahuan
Malang -
Di Malang, ada destinasi Ekowisata Boon Pring yang bisa dikunjungi wisatawan. Selain merasakan kesejukan, di sini pengunjung bisa menambah ilmu pengetahuan.
Berlokasi di Desa Sanankerto, kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Boon Pring menawarkan wisata edukasi yang cocok untuk keluarga. Di sini ada danau berair jernih lengkap dengan ratusan ekor ikan di dalamnya.
Pengunjung bisa langsung menyapa ikan-ikan yang nampak dari permukaan air sembari memberinya makan, sambil naik bebek-bebekan keliling danau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fasilitas lain di Boon Pring juga cukup lengkap. Ada kolam renang bagi anak-anak hingga dewasa. Tersedia pula mushola, toilet hingga puluhan stan yang menjajakan kudapan khas Malang.
Tak hanya itu, danau elok ini juga dikelilingi rerimbun pepohonan bambu. Rimbunan pohon bambu inilah yang menjadi asal usul nama Boon Pring yang menjadi nama destinasi wisata ini. Seperti diketahui, dalam bahasa Jawa, Pring adalah Bambu.
Boon Pring memang punya koleksi beragam varietas pring atau bambu. Di sini, ada hutan bambu yang instagramable. Hutan bambu ini merupakan warisan nenek moyang yang dilestarikan hingga kini.
Kepala Desa Sanankerto, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, H. Subur yang bertugas dalam mengembangkan ekowisata Boon Pring menjelaskan bahwa bambu menjadi salah satu potensi alam yang memiliki banyak manfaat bagi masyarakat.
Selain berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan dan memperkuat struktur tanah, bambu juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, kerajinan, perlengkapan rumah tangga, hingga berbagai produk bernilai ekonomi.
"Bambu ini manfaatnya sangat banyak. Selain untuk menjaga lingkungan, bambu juga bisa dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bahan bangunan, kerajinan, sampai produk yang memiliki nilai ekonomi. Karena itu, bambu perlu dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan," ujar dia seperti dikutip, Selasa (6/10/2026).
Boon Pring Andeman Foto: (Boonpring Andeman/instagram)
Menurut dia, keberadaan bambu di kawasan Boon Pring juga memiliki nilai ekologis yang penting. Tanaman bambu membantu menjaga ketersediaan air dan mendukung keberlangsungan ekosistem di kawasan tersebut.
Pengelolaan bambu yang dilakukan secara baik juga dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan. Bambu adalah tumbuhan yang suka menyerap air pada musim hujan. Lalu, air yang tersimpan dalam batang bambu tersebut kerap muncul saat musim panas.
Desa Sanankerto pun tidak pernah mengalami kekeringan jika musim kemarau datang. Potensi air di Boon Pring bahkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH).
Pemanfaatan energi terbarukan itu dikembangkan dengan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem di sekitarnya dan tidak mengurangi kebutuhan air bagi warga sekitar. Banyak pengunjung pun tertarik dengan edukasi ini.
Melalui pembelajaran di Boon Pring, para pengunjung dapat memahami bahwa pelestarian lingkungan dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Mulai dari menjaga sumber air, mempertahankan kawasan hijau, mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan, hingga memanfaatkan teknologi energi terbarukan.
"Bambu yang kita rawat hari ini bisa menjadi sumber kehidupan, sumber ekonomi, sekaligus menjaga lingkungan untuk generasi berikutnya dan tak lupa juga disampaikan dan dilihat potensi serupa ini yang bisa dikembangkan di daerah asal masing-masing," pungkas Subur.
(wsw/wsw)