Ekspor LNG Qatar Anjlok 96 Persen, Eropa Terancam Krisis Gas Musim Dingin 2026/2027
AKURAT.CO Ekspor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) Qatar anjlok hingga 96 persen selama enam bulan perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Kondisi ini terjadi setelah blokade di Selat Hormuz hampir sepenuhnya menghentikan pengiriman LNG dari salah satu pemasok energi terbesar dunia.
Sebelum perang pecah pada akhir Februari 2026, Qatar menyumbang sekitar 20 persen ekspor LNG global. Namun sejak Maret hingga kini, Qatar hanya mampu mengirimkan 18 kargo LNG, dibandingkan 509 kargo pada periode yang sama tahun 2025.
Menurut perhitungan Reuters, gangguan ekspor tersebut membuat Qatar kehilangan pendapatan sekitar 24 miliar dolar AS.
Dampak terbesar mulai dirasakan pasar energi Eropa. Andreas Schröder, Kepala Analisis Gas di ICIS, memperkirakan negara-negara Uni Eropa akan memasuki musim pemanasan dengan defisit gas. Persediaan gas diperkirakan berada sekitar 5,7 miliar meter kubik di bawah target.
“Perkiraan ini didasarkan pada asumsi bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Maret 2027, tetapi durasi sebenarnya dari blokade tersebut belum diketahui. Hal ini membuat pelaku pasar harus membuat perkiraan berdasarkan informasi yang tersedia. Saat ini, pasar tampaknya semakin memperhitungkan skenario penutupan Selat Hormuz yang lebih lama.”
Eropa Kesulitan Mengganti LNG Qatar
Penggantian pasokan LNG Qatar dengan sumber alternatif diperkirakan tidak mudah bagi Eropa.
Pada Maret-Juli 2025, negara-negara Eropa menyerap sekitar 67 persen ekspor LNG Amerika Serikat. Namun pada periode yang sama tahun 2026, porsinya turun menjadi 51 persen.
Sebaliknya, pangsa Asia Timur—yang mencakup China, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan—dari pasokan LNG AS meningkat dari 10 persen menjadi 16 persen. Secara keseluruhan, porsi Asia terhadap ekspor LNG AS juga naik dari 16 persen pada musim panas 2025 menjadi 29 persen pada musim panas 2026.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa Eropa harus menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan pembeli LNG dari Asia.
ICIS juga telah menurunkan proyeksi tingkat puncak penyimpanan gas untuk Eropa Barat dan Tengah dari 81 persen menjadi 75 persen. Revisi itu mencerminkan lemahnya laju pengisian fasilitas penyimpanan sepanjang 2026.
Dalam skenario dasar terbaru, stok gas diperkirakan mencapai puncaknya sekitar 5,7 miliar meter kubik lebih rendah dan enam hari lebih cepat dibandingkan proyeksi sebelumnya.