peezycoineth.vip

El Nino tingkatkan risiko kepunahan lokal satwa endemik

2026-09-16 06:24

Mataram (ANTARA) - Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang dan kekeringan ekstrem meningkatkan tekanan terhadap satwa endemik dan terancam punah, serta membuat mereka berisiko mengalami kepunahan lokal.

Guru Besar Ekologi Hewan dari Universitas Mataram (Unram) I Wayan Suana mengatakan satwa yang bergantung pada habitat tertentu menjadi kelompok yang paling rentan.

"Untuk NTB, perhatian khusus juga perlu diberikan kepada spesies endemik dan terancam punah karena populasinya sudah relatif kecil, sehingga tambahan tekanan akibat kekeringan dapat meningkatkan risiko kepunahan lokal," ujar dosen jurusan biologi tersebut di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu.

Baca juga: Guru Besar: Fenomena El Nino dorong satwa liar perluas wilayah jelajah

Suana menjelaskan satwa yang paling rentan menghadapi kemarau panjang adalah hewan yang sangat bergantung pada habitat tertentu dan memiliki kemampuan adaptasi terbatas terhadap kekurangan air maupun pakan.

Satwa pemakan buah dan biji, amfibi, serta hewan berukuran kecil dengan wilayah jelajah terbatas juga dapat lebih terdampak karena memiliki keterbatasan dalam mencari sumber air dan pakan baru.

Dia menegaskan perhatian khusus perlu diberikan kepada satwa endemik dan terancam punah lantaran populasi mereka relatif kecil, sehingga tambahan tekanan akibat kekeringan dapat meningkatkan risiko kepunahan lokal.

Salah satu upaya perlindungan yang dapat dilakukan adalah mempertahankan sumber air alami di dalam habitat satwa. Jika diperlukan, sumber air tambahan dapat disediakan secara terbatas dan dikelola dengan baik agar tidak menyebabkan konsentrasi satwa secara berlebihan.

Selain air, perlindungan vegetasi juga penting, terutama pohon besar, pohon sumber pakan, serta pohon yang menyediakan tempat bersarang.

Pemantauan secara berkala terhadap populasi, perilaku, ketersediaan pakan, reproduksi, dan penggunaan habitat juga diperlukan untuk mengetahui perubahan kondisi satwa selama kemarau panjang.

"Pencegahan kebakaran hutan dan lahan menjadi sangat penting. Pada musim kemarau panjang, vegetasi kering meningkatkan risiko kebakaran yang dapat menyebabkan kehilangan habitat dalam waktu sangat singkat," kata Suana.

Lebih lanjut, dia menegaskan masyarakat perlu dilibatkan untuk menjaga kelangsungan hidup hewan dan ekosistem, sebab konservasi tidak cukup hanya dilakukan di dalam kawasan konservasi.

Habitat penyangga, koridor ekologis, dan kawasan yang berada di luar kawasan konservasi juga harus dipertahankan. Hutan yang sehat dengan vegetasi beragam, pohon pakan yang cukup, sumber air, dan konektivitas habitat memberikan peluang lebih besar bagi hewan untuk beradaptasi terhadap El Nino dan perubahan iklim.

Baca juga: Kementan alokasikan AUTP 100 ribu ha, lindungi petani saat El Nino

Baca juga: NTB perlu perkuat mitigasi hadapi kemarau panjang akibat El Nino

Berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut musim kemarau yang terjadi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) berpeluang berlangsung hingga akhir November 2026.

Prakirawan Stasiun Klimatologi NTB Suci Agustiarini mengatakan musim hujan yang biasanya terjadi pada November diperkirakan mengalami kemunduran hingga Desember akibat pengaruh El Nino sangat kuat dengan indeks mencapai +2,74 derajat Celcius.

Pewarta: Sugiharto Purnama
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.