peezycoineth.vip

ESDM tarik investor untuk kembangkan pembangkit listrik dari angin

2026-09-16 12:22

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berupaya menarik investor untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) guna dikombinasikan dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

“Sampai saat ini, sampai empat tahun ke belakang itu, investasi PLTB belum ada. Padahal sangat bagus kalau kita panen angin di saat airnya surut,” ucap Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi ketika dijumpai setelah Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu.

Eniya menyampaikan, pada musim kemarau, angin di Indonesia bisa berhembus seharian penuh atau selama 24 jam.

Peristiwa tersebut, kata Eniya, terjadi selama empat bulan, yakni Juni, Juli, Agustus, September, bahkan hingga pertengahan Oktober.

“Apalagi dipicu panas yang berkepanjangan, justru anginnya tambah tinggi,” kata Eniya.

Ia meyakini bahwa PLTB merupakan kombinasi yang tepat bagi PLTA di Indonesia. Pada musim panas, kata Eniya, aliran air di sungai-sungai cenderung surut sehingga PLTA harus dikombinasikan dengan PLTB.

Adapun wilayah-wilayah dengan potensi PLTB yang sudah dipetakan oleh Eniya, yakni Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan wilayah-wilayah lainnya di Indonesia Timur, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku.

“Kemarin saya didatangi oleh JETP, ya. Itu menawarkan pinjaman, very soft loan, gitu. Saya sih mengarahkannya untuk ke angin atau PLTS terapung, karena untuk mengakselerasi. Dengan demikian, kita bisa segera juga menjual karbonnya,” kata Eniya.

Baca juga: Perusahaan energi asal Jerman bangun PLTB di Banyuwangi 200 megawatt

Baca juga: PLN akan bangun pembangkit listrik tenaga angin di Banten

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menjelaskan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, sistem kelistrikan Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel) menghadapi tekanan seiring menurunnya daya mampu sejumlah pembangkit hidro.

Kondisi hidrologi yang dipengaruhi fenomena El Nino menyebabkan produksi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso, Bakaru, Malea, serta sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) menurun.

Darmawan merinci, daya mampu agregat pembangkit hidro turun dari sekitar 850 MW menjadi 250 MW, atau berkurang sekitar 600 MW.

Di sisi lain, terdapat perbaikan PLTU Jeneponto berkapasitas 2 x 100 megawatt (MW) milik swasta yang terkendala oleh gangguan teknis sehingga menyebabkan pasokan listrik berkurang.

Kondisi ini menambah tekanan terhadap keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik di Sulbagsel.

Untuk meningkatkan pasokan, PLN menjalankan sejumlah langkah secara simultan. Selain mempercepat perbaikan pembangkit, PLN mengoptimalkan pembangkit yang tersedia dan menyiapkan tambahan kapasitas pembangkit hingga 627 MW.

PLN juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dalam pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk meningkatkan potensi ketersediaan air bagi pembangkit hidro. Namun, kondisi atmosfer yang sangat kering membuat ketersediaan awan yang dapat disemai masih terbatas.

Untuk jangka panjang, PLN juga menyiapkan penguatan sistem Sulbagsel agar lebih beragam, fleksibel, dan resilien menghadapi dinamika pasokan.

Sesuai arahan Presiden melalui program PLTS 100 gigawatt (GW), PLN akan memperkuat sistem Sulbagsel dengan sekitar 5,2 GWp Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan 8,2 gigawatt hour (GWh) Battery Energy Storage System (BESS).

Baca juga: Kapasitas pembangkit listrik tenaga angin Sidrap ditingkatkanp

Baca juga: Pemkab Banyuwangi-Indonesia Power kembangkan listrik tenaga bayu

Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.