Fasilitas tempat sampah organik di Mataram mencapai 1.220 unit
Mataram (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), mencatat jumlah tempah dedoro atau tempat sampah organik di Kota Mataram hingga akhir Juli 2026 sudah mencapai, 1.220 unit.
Kepala DLH Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Kamis, mengatakan sebanyak 1.220 unit fasilitas tempah dedoro tersebut tersebar pada enam kecamatan se-Kota Mataram dan kantor/instansi pemerintah.
Dengan rincian, kata dia, di Kecamatan Ampenan tercatat 160 unit, Kecamatan Selaparang 127 unit, Kecamatan Mataram 54 unit, Sandubaya 169 unit, Cakranegara 615 unit, Kecamatan Sekarbela 47 unit, serta ada 48 unit di kantor/instansi pemerintah.
"Melihat cakupan fasilitas tempah dedoro yang sudah mencapai 1.220 unit tersebut, menjadi salah satu indikasi antusias masyarakat mendukung program pengolahan sampah dari sumber," katanya.
Program tempah dedoro di Kota Mataram dibuat dengan menggunakan buis beton dan penutup serta diberi lubang untuk membuang sampah organik. Program itu baru dicanangkan pada Januari 2026, namun masyarakat sudah antusias memberikan dukungan dengan menyiapkan tempah dedoro di wilayah masing-masing.
Program tersebut merupakan salah satu inovasi DLH dalam mengolah sampah organik dari sumber untuk mewujudkan Kota Mataram rendah emisi.
Selain itu memiliki beberapa manfaat antara lain mengurangi volume sampah organik dari sumber, mengurangi emisi gas rumah kaca, menghasilkan kompos berkualitas, menciptakan lingkungan bersih, sehat, dan nyaman, serta mendukung program aksi iklim Kota Mataram.
"Dasar itu, kami terus mendorong masyarakat berpartisipasi melaksanakan program tempah dedoro, dan kami optimistis jumlah fasilitas tempah dedoro di Mataram akan terus bertambah seiring dengan kesadaran masyarakat mengolah sampah dari sumbernya," kata Nizar.
Untuk itu pihaknya segera menghadirkan layanan hotline untuk penanganan sampah tempah dedodo guna memudahkan masyarakat melaporkan berbagai persoalan terkait program tersebut.
Baca juga: Realisasi retribusi sampah di Mataram capai Rp4,25 miliar
Misalnya, kata dia, ketika tempah dedoro milik warga penuh atau ada sampah yang tidak terurai dengan baik, masyarakat bisa menghubungi layanan tersebut dan petugas dari DLH akan datang melakukan penanganan.
Begitu juga ketika hasil kompos dari tempah dedoro tidak dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk bercocok tanam, DLH siap membantu pengangkutannya dan didistribusikan untuk memupuk tanaman-taman di Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada di Kota Mataram.
Sistem pengolahan sampah organik dengan tempah dedoro dinilai efektif karena dapat mengurai sampah dari satu ton menjadi kompos sekitar tiga karung, satu karung berisi sekitar 25 kilogram.
"Dari satu ton sampah, kita bisa diurai jadi kompos 75 kilogram, atau hanya 7,5 persen," katanya.
Apabila program tempah dedoro dilakukan secara masif tahun 2026, katanya, maka 2027 volume sampah di Kota Mataram yang dibuang ke TPA akan turun drastis hingga 60 persen.
"Apalagi tahun depan, TPST Kebon Talo Ampenan juga ditargetkan mulai beroperasi," katanya.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026